Artis : Popo Iskandar

Popo Iskandar ( 1929 - 2000 ), juga menamatkan studinya di Seni Rupa ITB tahun 1958, ia tidak mengajar di almamaternya, tetapi di Seni Rupa IKIP Bandung. Sebagimana murid Ries Mulder yang lain, ia juga akhhirnya meninggalkan gaya lukisan geometrik gurunya. Dalam pencarian ungkapan estetiknya, ia berpendapat bahwa ekspresionisme akhirnya merupakan jawaban terhadap formalisme pendidikan Seni Rupa ITB yang mengarah pada kubisme. Lukisan bukanlah hanya sekedar kebentukan yang struktual, tetapi sesungguhnya merupakan curahan atau kata hati. Keyakinan demikian sebenarnya merupakan jejak yang tetap muncul dari pengalaman berkarya di Bnadung pada tahun 1944 bersam Hendra Gunawan, Barli, dan Angkama. Selain memilih ekspresionisme, Popo juga dikenal dengan cara mengabstraksi objek - objek untuk mencapai bentuk - bentuk yang esensil. Lewat warna - warna yang mantap dan aksentuasi cerah, bahkan dominan putih, bentuk - bentuknya lahir dalam komposisi yang ketat dan unik. Hal itu merupakan puncak pertemuan segala pengalaman belajar dan kemampuan kreatifnya. Dalam bentuk itu ia dikenal lewat abstraksi yang khas dengan berbagai periode yaitu "Rumpun Bambu", "Kucing", "Bunga", "Jala-jala Ikan", "Kuda", dan "Ayam Jago". Atas dedikasi dan pencapaian kreativitasnya sebagai pelukis Indonesia modern tersebut, Popo Iskandar pada tahun 1980 mendapat penghargaan Anugrah Seni dari Pemerintah Indonesia.