Artis : Sudjana Kerton

Sudjana Kerton ( 1992 - 1994 ), walaupun pernah belajar pada Ries Mulder juga, tetapi ia tidak kuliah di Seni Rupa ITB. Setelah masa revolusi kemerdekaan, ia merupakan seorang pengembara yang larut. Oleh karena itu, selama 25 tahun ketika ia belajar, bermukim, dan berpindah - pindah di Eropa dan Amerika dalam wacana Seni Rupa Indonesia ia menjadi hilang dari catatan pengamat. Namun demikian, setelah pulang ke Indonesia Kerton tetap mendapat perhatian besar dari publik seni rupa Indonesia karena karya - karyanya mempunyai pencapaian dan intensitas estetik yang kuat. Perjalan kesenian Kerton bisa dibagi dalam tiga periode, yaitu masa sekitar Revolusi Kemerdekaan, masa di Eropa dan Amerika, dan masa sekembalinya di Indonesia. Pada masa sekitar revolusi, Kerton seperti seniman dan pejuang lain yang berkobar semangat nasionalismenya. Tema - tema pejuang gerilya, dokumen peristiwa - peristiwa politik dan perang, maupun tema lingkungan dan kultural merupakan ungkapan yang niscaya oleh panggilan jiwa zaman masa itu. Kerton mengekspresikan dalam gaya impresionisme dengan goresan dan warna - warna kuat untuk mencerminkan emosi dan semangat revolusi.

Lewat beasiswa Sticusa, Kerton belajar di Belanda dan Perancis. Kemudian diteruskan belajar dan menetap di Amerika lewat beasiswa Art Student's League ( ASL ). Di Eropa karya - karyanya menjadi Fauvis, seperti gaya lukisan yang banyak dianut pelukis -pelukis pada masa itu. Demikian juga sewaktu di Amerika ia terserap dalam kecenderungan abstrak ekspresionisme yang sedang berpengaruh kuat. Akan tetapi, karya - karyanya di Amerika justru banyak merefleksikan kerinduan lewat tema - tema kehidupan tanah airnya. Dalam karya - karya itu, ia berusaha menggali psikologi manusia lewat deformasi yang purna. Dalam periode terakhir di Indonesia, ia banyak mengungkapkan realitas kehidupan rakyat. Namun demikian bukan hanya kemurungan yang dilihat, tetapi nilai - nilai humor dan rasa kemanusiaan lewat keunikan hidup juga terangkat.