Lukisan : Tanah Priangan (Wahdi Sumanta - 1974)

Title : "Tanah Priangan"

Artist : Wahdi Sumanta

Year : 1974

Cat minyak pada kanvas

Ukuran 145 x 297 cm

Dalam lukisan yang berjudul "Tanah Priangan" ( 1974 ) ini, Wahdi Sumanta dapat mengungkapkan visi estetiknya tentang dunia kosmos yang utuh dan ideal. Pemandangfan Tanah Priangan memang banyak menjadi objek yang memenuhi imajinasi para pelukis romantis. Dalam karya ini, pada latar belakang tegak dengan anggun gunung yang dihiasi bukit-bukit dan lapisan awan putih pada langit biru. Pada latar depan pohon-pohon yang membentuk gugusan di antara bukit dan sawah-sawah, dalah desa-desa yang tersembunyi dengan tenteram. Karya ini termasuk dalam gaya naturalisme.

Pada sejarah seni lukis modern Indonesia, karya Wahdi Sumanta bisa dikategorikan dalam paradigma estetik Mooi Indie. Ungkapan paradigma ini cenderung pada aliran romantisisme eksotis yang secara kontekstual di Indonesia muncul dari pandangan kultural masa penjajahan Belanda yang menekankan pada nilai harmoni kolonial feodal. Pemandangan yang indah, eksotisme wanita pribumi, dan berbagai keunikan tradisi menjadi refleksi impian tentang dunia harmoni itu. Dalam pandangan romantisisme, diungkapkan bagaiman kenyataan manusia terombang-ambing dari realitas kehidupannya yang keras dan fana, kemudian selalu berupaya mencapai dunia yang utuh dan ideal.

Dalam ungkapan seni lukis, kondisi itu sering terefleksi dengan idiom-idiom visual yang dramatis memperlihatkan kefanaan hidup, atau sebaliknya mengungkapkan ketenangan dunia yang harmonis dan ideal. Keindahan lukisan pemandangan menjadi refleksi impian dunia ideal bagi masyarakat Belanda yang menghadapi realitas kesementaraan hidup di Hindia Belanda pada masa itu. Demikian juga, idiom pemandangan merupakan refleksi dari pemujaan terhadap keindahan alam dan impian dunia harmonis masyarakat Indonesia. Walaupun dalam realitasnya, kondisi sosial yang sebenarnya sering terasa timpang.