Lukisan : Pasar (Suromo - 1957)

Title : "Pasar"

Artist : Suromo

Year : 1957

Tinta cetak pada kertas.

Ukuran : 33 x 38 cm.

Pada karya grafis yang berjudul “Pasar” (1957) ini, Suromo benar-benar menunjukkan kemampuan teknik cukilan kayu yang mendekati engraving. Lebih jauh lagi perspektif. Pencahayaan, dan detail bentuk-bentuknya telah mencapai keunggulan, sehingga karya seni grafis yang realistik ini terasa hidup. Dalam karya ini dapat diungkapkan keramaian sekaligus suasana dan ciri setting pasar pada tahun 1950-an. Dalam pasar tradisional itu ditampilkan pedagang yang masih menggelar dagangan di tanah atau dengan meja yang sederhana. Dalam keramaian terlihat wanita kebanyakan masih berkain kebaya dan kusir andong dalam pakaian tradisional Jawa. Dengan demikian, dalam karya ini seorang wanita yang memakai rok dan bersepatu, serta anak-anak yang juga memakai rok menjadi kontras sekaligus sebagai tanda (sign) perubahan zaman.

Suromo adalah termasuk pelukis yang lahir dan tumbuh lewat ‘pemasakan’ ide-ide Persagi untuk mengungkapkan realitas kehidupan sosial dengan cara yang impresif. Dalam karya ini jejak manifestasi ide itu masih dapat dirasakan. Hal itu terlihat dari bagaimana ia berusaha menangkap realitas kehidupan rakyat di pasar dan mengukapkannya lewat permainan cahaya atau warna-warna putih yang bergejolak. Tema-tema sekitar kehidupan
sehari-hari dan perjuangan kemerdekaan memang banyak dibuat untuk karya grafisnya. Beberapa yang dapat dicatat adalah  “Pasar”, “penghadangan Gerilya” dan “Pertempuran Gerilya”.

Di masa sekitar revolusi kemerdekaan, selain bersemangat dalam melukis, Suromo juga mengungkapkan pemikirannya tentang kredo melukisnya di majalah Mimbar Indonesia (1949). Melukis menurutnya, ‘yang penting adalah isi hati pelukis keluar semua. Keluar dengan cara apa dan cara siapa tidak penting. Pekerjaan seni bukan kepandaian teknik, juga bukan kepandaian melukis, tetapi kata hati yang padat karena banyak menahan’. Namun demikian, kredo ekspresionis itu dalam perjalanan waktu juga ikut bergeser oleh zaman dan kekuatan pemikiran tokoh-tokoh yang besar. Pada tahun 1953, Sudjojono mulai melansir ide kembali ke realisme, supaya seni mudah dipahami oleh rakyat. Uniknya Suromo yang memiliki kemampuan teknik realis ini, juga tidak segera terhanyut pada ide itu. Dalam perjalannya, walaupun tidak terkait dengan kredo yang pernah ditulisnya, namun tetap dalam jiwa mengikuti kata hati. Karya-karya Suromo selanjutnya terus bergerak ke arah impresionisme dan dekoratif.