Press Release : Pameran Tunggal Nano Warsono "Rheco" Membuka Tabir Peradaban Nusantara

PRESS RELEASE

PAMERAN TUNGGAL NANO WARSONO
“RHECO”
MEMBUKA TABIR PERADABAN NUSANTARA

KURATOR : BAMBANG ‘TOKO’ WITJAKSONO
PENULIS   : SUWARNO WISETROTOMO & A. SUDJUD DARTANTO

ART TALK : KAMIS, 9 NOVEMBER 2017, JAM 16.00 WIB
PEMBUKAAN : KAMIS, 9 NOVEMBER 2017, JAM 19.00 WIB
DIBUKA OLEH : SOEDARMADJI J.H. DAMAIS (PENDIRI INDONESIAN CERAMICS SOCIAETY)

GEDUNG B, GALERI NASIONAL INDONESIA
JL. MEDAN MERDEKA TIMUR NO. 14, JAKARTA PUSAT

PAMERAN BERLANGSUNG TANGGAL 10 – 22 NOVEMBER 2017
BUKA SETIAP HARI JAM 10.00 – 19.00 WIB

Tema Rheco pada pameran tunggal Nano Warsono tidak hanya bermakna sempit sebagai arca/patung, namun sudah meluas. Secara visual, yang dilukiskan oleh Nano adalah keadaan dunia, kondisi yang dihuni manusia, meski lebih fokus pada suatu daerah, yaitu Gunung Muria dan sekitarnya (daerah Jepara, Pati, Kudus) hingga melebar ke wilayah Pulau Jawa dan Nusantara. Hal ini bukanlah tanpa sebab, sengaja Nano dan tim (Bambang Toko, Mbah Yanto dan lain-lain) memulai proses berkarya dengan menentukan jangkar/titik mula di Gunung Muria, yang dianggap sebagai titik mula sejarah di Pulau Jawa. Alasan kedua adalah karena Nano berasal dari Kecamatan Sukodono, Jepara, yang notabene adalah bagian dari sejarah panjang peradaban Jepara atau Gunung Muria, sehingga proses berkaryanya ini sebenarnya hanya bagian kecil dari proses untuk mengetahui sejarah atau garis leluhur nenek moyangnya, terutama sejarah yang tidak tertulis atau yang selama ini hanya dianggap mitos. 

Upaya mengetahui sejarah, dalam hal proses kreatif Nano Warsono, tidak hanya melalui dokumentasi/arsip, tetapi melalui jalan metafisik. Nano dan timnya menyusuri situs-situs ‘sejarah’ – bisa berarti mitos, legenda, atau semacam folklor – untuk mendapatkan ‘data dan fakta’ berupa kisah-kisah yang dituturkan oleh para ‘pelaku’/perawat situs, maupun berdasarkan ‘laku’ spiritual (dengan tata cara setempat seperti yang disarankan oleh para penasihat spiritual).  Itulah ‘petunjuk metafisik’ yang diperoleh Nano, dan kemudian menjadi panduan untuk menjalani laku ziarah. Ia ulang-alik dari situs ke sejumlah orang dan kembali ke situs, dari situs ke kanvas; demikian seterusnya, membuat sketsa atas apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengeksekusi secara visual pada bidang gambar (kanvas).  

Dari proses semacam itu, dapat dilihat, karya Nano Warsono kini menghadirkan sosok, peristiwa, dan atmosfir yang menyimpan narasi lampau, yang bagi sebagian orang dianggap sebagai mitologi atau dongeng. Karya-karya tersebut dimanifestasikan dalam sekitar 17 lukisan yang disajikan dalam sebuah Pameran Tunggal bertajuk “RHECO: Membuka Tabir Peradaban Nusantara”. Pameran yang merupakan hasil kerjasama Cornucopia Art Management dan Galeri Nasional Indonesia ini akan digelar pada 9–22 November 2017, di Gedung B Galeri Nasional Indonesia. Pameran juga dilengkapi dengan Art Talk yang akan memberikan kesempatan bagi publik untuk mengenal lebih dekat sosok Nano Warsono sekaligus ziarah keseniannya dalam membuka tabir peradaban Nusantara.

Apa yang dilakukan oleh Nano Warsono lewat pameran ini, sebenarnya adalah proses untuk menguak simbol-simbol atau sandi pada dasarnya adalah proses mengulik sejarah yang tidak tersejarahkan, yang menunut kerja yang rumit, kompleks dan tidak lazim.

Pendefinisian atau pemberian makna terhadap lukisan Nano, merupakan proses kajian mengenai bagaimana simbol menggerakkan tindakan sosial dan melalui proses yang bagaimana simbol memperoleh dan memberi arti kepada masyarakat luas dan pribadi. Pada dinamika sosial, proses menjadi penting karena, simbol adalah kehidupan.