Agenda : Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya

Pada kurikulum yang lalu pendidikan kesenian, termasuk di dalamnya pendidikan seni rupa, di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Memengah Atas (SMA) serta yang sederajat, memiliki masalah klasik yakni terbatasnya alokasi jam pelajaran dan terbatasnya sumber daya guru (guru kesenian). Kondisi semacam itu berakibat pada “lemahnya” keseluruhan proses belajar-mengajar, dan keluaran (produk; output) dari sekolah. “Kelemahan” yang dimaksud antara lain; pertama, metodologi dan metode pembelajaran seni rupa yang tidak memiliki prosedur operasional yang standar, dan karena itu cenderung improvisasi. Kedua, guru-guru yang berpotensi dan murid-murid yang berbakat, tidak memiliki ruang dan waktu yang memadai untuk belajar, memupuk bakat, dan mengekspresikan gagasan-gagasan kreatifnya.

Beberapa waktu yang lalu terdapat sekolah khusus pendidikan seni rupa, Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) yang hanya ada di Yogyakarta, Bali, Bandung dan Padang, dengan masa pendidikan empat tahun, dan melahirkan ‘calon-calon seniman seni rupa dan disainer’ yang memadai ketrampilannya. Mereka, setelah lulus berpeluang menjadi seniman mandiri, atau disainer yang handal, atau melanjutkan pendidikan tinggi seni rupa. Kemudian sejak tahun 1978, SSRI berubah nama menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), dengan perubahan kurikulum di sana-sini, dan masa studinya menjadi tiga tahun. Kemudian SMSR berubah menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dengan banyak perubahan kurikulum, dan menghasilkan lulusan yang lebih “sederhana”, yakni menjadi “tukang” atau melanjutkan ke jenjang pendidikian tinggi seni.

Realitas semacam itu menunjukkan “lemahnya” disain besar (grand design) terhadap eksistensi pendidikan seni (seni rupa) di sekolah tingkat SMP, SMA, SMK, dan yang sederajat. Betapa, pendidikan seni (seni rupa) belum dianggap dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan karakter bangsa, termasuk dalam hal pembangunan kemanusiaan dan kebudayaan Indonesia. Sementara itu realitas yang lain menunjukkan, bahwa terdapat guru-guru setingkat SMP, SMA, SMK, dan yang sederajat memiliki potensi, prestasi, dan reputasi di bidang seni rupa.

Oleh karena itu sejalan dengan momentum realisasi Kurikulum Baru (2013), dimana mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya mendapat tambahan jam (menjadi 4 jam dalam sepekan). Sehingga para guru dan siswa memiliki kesempatan untuk mempertajam kreatifitasnya, lebih-lebih ‘Muatan Lokal’ pada kurikulum baru tersebut memberi kebebasan kepada guru dan lingkungan daerah masing-masing untuk melestarikan (melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan) seni budayanya.

Bertolak dari itu, maka Galeri Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud menginisiasi untuk menyelenggarakan Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya se-Indonesia, dengan tajuk “GURU SENI BERLARI”. Tajuk yang demikian terbuka ini merupakan suatu isyarat; bahwa para guru kesenian (guru seni rupa) seharusnya berada dalam kondisi “berlari”. Berlari dalam mengejar dan mendorong para siswa untuk sungguh-sungguh menekuni pilihannya; berlari memberikan teladan dan inspirasi bagi para siswa; dan berlari mengejar ketertinggalan informasi seni. Tak terelakkan, para guru seni memang memiliki peran ganda; sebagai pengajar dan pendidik, sekaligus sebagai praktisi seni yang seharusnya menginspirasi para siswa dan masyarakat luas.

Kurikulum sebagai pilar utama pendidikan memegang peranan penting, khususnya dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas sejalan dengan misi dan visi Pendidikan Nasional Indonesia, sehingga kebijakan pemerintah dalam melakukan revitalisasi kurikulum pada tahun 2013 merupakan hal yang patut dikritisi, artinya apakah kurikulum tersebut sudah mengakomodir kebutuhan pendidikan bidang seni budaya atau sebaliknya?. Konsep dasar perubahan struktur kurikulum 2013 yang didukung empat 4 pilar yaitu : produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, semoga dapat meningkatakan kualitas pendidikan khususnya di tingkat SMP, SMA, SMK dan sederajat. Pameran ini menjadi sangat strategis dan bersifat momentum, karena bersamaan dengan pemberlakuan kurikulum 2013, sehingga dapat dikatakan sebagai indikator keberhasilan kurikulum di masa mendatang.

Melalui pameran ini diharapkan akan dapat dipetakan potensi para guru seni rupa se-Indonesia; kemudian dapat kita ketahui potensi karya-karya mereka; dan pada gilirannya mereka dapat membangun jaringan untuk membuka kemungkinan komunikasi dan saling memberikan informasi serta meningkatkan prestasi masing-masing, sehingga kualitas Pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. 

Pada kurikulum yang lalu pendidikan kesenian, termasuk di dalamnya pendidikan seni rupa, di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Memengah Atas (SMA) serta yang sederajat, memiliki masalah klasik yakni terbatasnya alokasi jam pelajaran dan terbatasnya sumber daya guru (guru kesenian). Kondisi semacam itu berakibat pada “lemahnya” keseluruhan proses belajar-mengajar, dan keluaran (produk; output) dari sekolah. “Kelemahan” yang dimaksud antara lain; pertama, metodologi dan metode pembelajaran seni rupa yang tidak memiliki prosedur operasional yang standar, dan karena itu cenderung improvisasi. Kedua, guru-guru yang berpotensi dan murid-murid yang berbakat, tidak memiliki ruang dan waktu yang memadai untuk belajar, memupuk bakat, dan mengekspresikan gagasan-gagasan kreatifnya.

Beberapa waktu yang lalu terdapat sekolah khusus pendidikan seni rupa, Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) yang hanya ada di Yogyakarta, Bali, Bandung dan Padang, dengan masa pendidikan empat tahun, dan melahirkan ‘calon-calon seniman seni rupa dan disainer’ yang memadai ketrampilannya. Mereka, setelah lulus berpeluang menjadi seniman mandiri, atau disainer yang handal, atau melanjutkan pendidikan tinggi seni rupa. Kemudian sejak tahun 1978, SSRI berubah nama menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), dengan perubahan kurikulum di sana-sini, dan masa studinya menjadi tiga tahun. Kemudian SMSR berubah menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dengan banyak perubahan kurikulum, dan menghasilkan lulusan yang lebih “sederhana”, yakni menjadi “tukang” atau melanjutkan ke jenjang pendidikian tinggi seni.

Realitas semacam itu menunjukkan “lemahnya” disain besar (grand design) terhadap eksistensi pendidikan seni (seni rupa) di sekolah tingkat SMP, SMA, SMK, dan yang sederajat. Betapa, pendidikan seni (seni rupa) belum dianggap dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan karakter bangsa, termasuk dalam hal pembangunan kemanusiaan dan kebudayaan Indonesia. Sementara itu realitas yang lain menunjukkan, bahwa terdapat guru-guru setingkat SMP, SMA, SMK, dan yang sederajat memiliki potensi, prestasi, dan reputasi di bidang seni rupa.

Oleh karena itu sejalan dengan momentum realisasi Kurikulum Baru (2013), dimana mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya mendapat tambahan jam (menjadi 4 jam dalam sepekan). Sehingga para guru dan siswa memiliki kesempatan untuk mempertajam kreatifitasnya, lebih-lebih ‘Muatan Lokal’ pada kurikulum baru tersebut memberi kebebasan kepada guru dan lingkungan daerah masing-masing untuk melestarikan (melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan) seni budayanya.

Bertolak dari itu, maka Galeri Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud menginisiasi untuk menyelenggarakan Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya se-Indonesia, dengan tajuk “GURU SENI BERLARI”. Tajuk yang demikian terbuka ini merupakan suatu isyarat; bahwa para guru kesenian (guru seni rupa) seharusnya berada dalam kondisi “berlari”. Berlari dalam mengejar dan mendorong para siswa untuk sungguh-sungguh menekuni pilihannya; berlari memberikan teladan dan inspirasi bagi para siswa; dan berlari mengejar ketertinggalan informasi seni. Tak terelakkan, para guru seni memang memiliki peran ganda; sebagai pengajar dan pendidik, sekaligus sebagai praktisi seni yang seharusnya menginspirasi para siswa dan masyarakat luas.

Kurikulum sebagai pilar utama pendidikan memegang peranan penting, khususnya dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas sejalan dengan misi dan visi Pendidikan Nasional Indonesia, sehingga kebijakan pemerintah dalam melakukan revitalisasi kurikulum pada tahun 2013 merupakan hal yang patut dikritisi, artinya apakah kurikulum tersebut sudah mengakomodir kebutuhan pendidikan bidang seni budaya atau sebaliknya?. Konsep dasar perubahan struktur kurikulum 2013 yang didukung empat 4 pilar yaitu : produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, semoga dapat meningkatakan kualitas pendidikan khususnya di tingkat SMP, SMA, SMK dan sederajat. Pameran ini menjadi sangat strategis dan bersifat momentum, karena bersamaan dengan pemberlakuan kurikulum 2013, sehingga dapat dikatakan sebagai indikator keberhasilan kurikulum di masa mendatang.

Melalui pameran ini diharapkan akan dapat dipetakan potensi para guru seni rupa se-Indonesia; kemudian dapat kita ketahui potensi karya-karya mereka; dan pada gilirannya mereka dapat membangun jaringan untuk membuka kemungkinan komunikasi dan saling memberikan informasi serta meningkatkan prestasi masing-masing, sehingga kualitas Pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. 

Berikut detail kegiatan pameran seperti tercantum pada undangan resmi yang dikeluarkan oleh Galeri Nasional:

Waktu 11 – 28 April 2014 
Peresmian Jumat, 11 April 2014 
Tempat Galeri Nasional Indonesia, Jakarta
Jl. Medan Merdeka Timur no.14 (depan Stasiun KA. Gambir)
Jakarta Pusat - 10110
Telp/Fax : 021 - 34833954 / 021 – 3813021
Karya Karya seni rupa 2 Dimensional dan 3 Dimensional (Lukisan, Patung, Seni Cetak, Seni Kriya, Fotografi, Video Art, Object, Seni Instalasi, dll), dimungkinkan juga karya seni rupa untuk media pembelajaran atau sejenisnya. 
Peserta Peserta terdiri dari para Pengajar/Guru Seni Budaya (perorangan atau kelompok) dari Lembaga pendidikan tingkat SMP, SMA/SMK atau sederajat dari berbagai wilayah di Indonesia, yang dipilih berdasarkan proses seleksi tim kurator dan juga berdasarkan undangan khusus dari pihak Galeri Nasional Indonesia. 
Tim Kurator Suwarno Wisetrotomo (Kurator)
Citra Smara Dewi (Kurator)
Zamrud Setya Negara (Aisten Kurator) 
Koordinator pameran Tunggul Setiawan 
Email pameranguru2014@gmail.com 

Link Download :