Berita : Nus Salomo Sajikan ‘Anggrek Liar’ Lewat Digital Art

 

Trienal Seni Patung Indonesia yang digagas dan diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia selalu memberikan sajian menarik bagi publik. Karya-karya patung hasil olah artistik para pematung kenamaan berkumpul membalut satu kesatuan tema yang berbeda dalam setiap penyelenggaraannya.

Sudah kali ketiga, Trienal Seni Patung Indonesia dihelat. Pertama 2011, kemudian 2014, dan sekarang 2017. Dalam ketiga penyelenggaraan tersebut, beberapa nama tampak ajeg berpartisipasi. Satu diantara dari yang tak pernah absen, muncul nama Nus Salomo.

Perupa kelahiran Sumatera Utara, 9 Mei 1967 ini menampilkan karya King Cutter (2009) dalam Trienal Patung yang pertama, “EKSPANSI”. Kemudian di Trienal Patung yang kedua “VERSI”, ia memampang sayap raksasa berjudul Come Fly With Me (2014). Masih lekat dalam ingatan, sayap ini nyatanya begitu fenomenal, karena menjadi salah satu spot favorit bagi pengunjung. Bahkan hingga pameran usai dan telah berganti tahun, diakui pihak Galeri Nasional Indonesia bahwa masih banyak pengunjung dan media massa yang mencari sosok sayap berukuran besar tersebut. 

Menyambung antusiasme masyarakat terhadap karyanya, kali ini Trienal Seni Patung Indonesia #3 “SKALA”, Nus kembali menghadirkan ‘kejutan’. Ia menggabungkan seni patung dengan kemajuan teknologi dalam karyanya, Savage Orchid.

Dibuat pada 2017, dengan ukuran 100 x 90 x 50 sentimeter dan diameter 150 sentimeter, Savage Orchid berbahan carbon fibre ini bukan hanya hasil sentuhan tangan saja, melainkan dibuat dengan teknologi cetak tiga dimensi atau printer 3D. Menurut Nus, karya ini menggunakan teknik digital art dengan software khusus dan stylus pen. “Digital art yang saya pakai memperlihatkan bahwa karya seni patung dapat menggunakan teknologi digital” paparnya. Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, Nus berharap banyak hasil karya seni patung yang lahir dengan sentuhan teknologi, seperti karyanya Savage Orchid yang masih bertautan dengan karya Nus lainnya yaitu seri Dream of My Mother

Dari segi gagasan, Savage Orchid menguak sisi lembut dari seorang Nus Salomo. Didominasi warna perak, bentuk visual karya ini menyerupai tengkorak kepala manusia. Uniknya bagian mata tengkorak masih lengkap dengan kelopak dan bola mata. Pada bagian belakang tengkorak ada semacam hiasan menyerupai bunga anggrek. 

Menyoal bunga anggrek, hal itu membangkitkan ingatan Nus akan ibundanya. Ia mengisahkan Savage Orchid merupakan ungkapan dari mimpi dan angan-angan pribadi ibunda Nus. Di dalam mimpi-mimpinya sang ibu selalu mempunyai tokoh utama, yaitu bunga anggrek sebagai benda favorit. Dari bunga anggrek itu, putik bunga yang berbentuk seperti tengkorak menjadi bagian yang sangat menarik perhatian Nus. Alhasil, ia kemudian menuangkan mimpi ibundanya menjadi suatu karya seni yang artistik, Savage Orchid

*dst/dsy/GNI

 

Lihat juga: