Press Release : Peluncuran Buku Dolorosa Sinaga

 

31 Januari 2020, bertempat di Ruang Serbaguna Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, berlangsung peluncuran perdana buku Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi, yang diselenggarakan oleh empat lembaga: a) Somalaing Art Studio milik Dolorosa Sinaga, b) Galeri Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, c) Institut Kesenian Jakarta tempat Dolorosa belajar dan mengajar, dan d) IKJ Press sebagai salah satu penerbit buku ini. 

Berlangsung pada 31 Januari–11 Februari 2020, rangkaian acara peluncuran buku ini menyajikan gugus kegiatan sebagai berikut:

a) Peluncuran buku Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi (editor Alexander Supartono dan Sony Karsono)
Buku ini hadir pula dalam edisi berbahasa Inggris dengan tajuk Dolorosa Sinaga: Body, Form, Matter. Peluncuran diselenggarakan pada Jumat, 31 Januari 2020 pukul 19:00 WIB di Ruang Serbaguna, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.

b) Kaleidoskop pameran instalasi “40 Tahun Aktivisme Seni Dolorosa Sinaga”
Merekam perjalanan artistik sang perupa selama lebih dari empat dasawarsa, pameran instalasi ini berlangsung pada 31 Januari–11 Februari 2020 pukul 10:00–19:00 WIB di Gedung B, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. 

c) Seminar “Seni, Aktivisme, Reproduksi”
Dibuka dengan ceramah utama oleh Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia), seminar ini menyajikan  dua sesi: sesi berbahasa Inggris dan sesi berbahasa Indonesia. Dimoderatori oleh Grace Samboh (Kurator dan Peneliti Seni), sesi berbahasa Inggris menghadirkan tiga pembicara terkemuka: Marian Pastor Roces (Kurator Independen dan Analis Politik, Filipina); Heidi Arbuckle (Sejarawan Seni, Universitas Paramadina, Jakarta); dan Clare Veal (Sejarawan Seni, Lasalle College of the Arts, Singapura).

Dengan dipandu oleh Enin Supriyanto (Kurator dan Penulis Seni Independen) sebagai moderator, sesi berbahasa Indonesia menghadirkan tiga pembicara: Alexander Supartono (Sejarawan Seni, Edinburgh Napier University, Skotlandia); Saras Dewi (Kurator, Universitas Indonesia, Depok); dan Sony Karsono (Sejarawan, Sejong University, Seoul).

"Saya ingin mengajak anda memaknai perbedaan, sekaligus membayangkan bagaimana proses dialektis antara karya seni dan pemirsanya itu terjadi hingga menjadi pengetahuan berharga," ungkap Dolorosa.


Tentang Dolorosa Sinaga
Dolorosa Sinaga adalah salah seorang pematung utama di Indonesia. Sebagai lulusan pertama Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ, kini Institut Kesenian Jakarta, IKJ) yang kemudian mengajar di almamaternya itu sampai kini, ia adalah figur sejarah Fakultas Seni Rupa IKJ. Di samping itu, ia dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia yang bergiat dalam advokasi kemanusiaan dan mobilisasi komunitas epistemik. Sebagai seniman, ia telah berkarya lebih dari empat dasawarsa dan menciptakan lebih dari 600 karya. Sampai kini, karya-karyanya diburu para kolektor nasional dan internasional, bukan hanya karena nilai artistiknya tetapi juga karena kemampuannya menyuarakan pesan-pesan kemanusiaan yang tak mampu diungkapkan melalui kata-kata. Dolorosa Sinaga tidak membatasi dirinya pada praktik artistik seni. Baginya, seni perlu hadir dan menjangkau luas semua spektrum.


Tentang Buku Dolorosa Sinaga: Tubuh Bentuk dan Substansi (editor Alexander Supartono dan Sony Karsono) yang terbit dalam dua edisi (Indonesia dan Inggris). Edisi Inggris bertajuk Dolorosa Sinaga: Body, Form, Matter
Berpijak pada luasnya jangkauan kerja Dolorosa, buku ini menghadirkan dialektika panjang antara pengalaman hidup, kegelisahan politik, eksplorasi artistik, dan letup-letup inspirasi yang mewujud dalam lebih dari 600 karya Dolorosa Sinaga. Buku ini disusun dalam waktu yang panjang (hampir tiga tahun), karena ia tak hanya menampilkan karya-karya, tetapi juga menyingkapkan inspirasi yang memicu kelahiran mereka. Melalui komitmen dan kerja sama yang kuat, produksi buku Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi kini rampung sudah.

Buku ini hadir dalam lima bagian. Bagian Pertama, Pengantar Umum, menyajikan kolaborasi dua artikel yang memandu pembaca dalam menjelajahi “rimba” visual, tekstual, dan intelektual di jantung buku ini. Bagian Kedua, Biografi, menghidangkan “Hidup, Seni dan Politik Dolorosa Sinaga”. Dalam esai panjang bergenre sejarah intelektual ini, sejarawan Sony Karsono menelaah tarik-tambang dialektis antara perjalanan hidup Dolorosa dan transformasi kota dan negeri tempat ia berkarya. Bagian Ketiga, Galeri, memamerkan patung-patung representatif Dolorosa Sinaga, yang ditata secara tematik dan semi-kronologis. Bagian Keempat, Ragam Pandang, menyajikan 30 esai yang ditulis dalam 18 tahun terakhir ini tentang Dolorosa Sinaga dan patung-patungnya. Sebagai “pusat gravitasi” buku ini, sekaligus sebagai pondasi kearsipan karya-karyanya di kemudian hari. Bagian Kelima, Katalog, mempersembahkan daftar paling lengkap karya patung Dolorosa Sinaga.

Membedah sebuah antara dialektika pengalaman, inspirasi dan kelahiran karya yang menggugat realitas Indonesia, buku Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi hadir dalam dua edisi (Indonesia dan Inggris), lengkap dengan bunga rampai analisis dan, yang terpenting, sebuah katalog karya Dolorosa selama lebih dari empat dasawarsa berkarya. 

 

Tentang Editor Buku Alexander Supartono dan Sony Karsono
Keberhasilan penyusunan buku Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi tak terlepas dari peran dua editor yang bekerja menyingkapkan inspirasi sosial dari artistik di balik karya-karya sang pematung lalu menganyamnya menjadi narasi visual dan tekstual. 

Alexander Supartono adalah kurator fotografi, sejarawan seni, serta dosen sejarah dan teori fotografi di Edinburgh Napier University, Skotlandia. Ia meraih gelar doktor sejarah fotografi dari University of St. Andrews, Inggris. Publikasi ilmiahnya antara lain a) “Other Pictures: Vernacular (Hi) stories from the Photo Albums of Dutch Industrialists in Colonial Java (Noorderlicht, 2013); b) “Afterimage: Is There Such a Thing as Southeast Asian Photography?” (Singapore Art Museum, 2014); dan c) sebuah artikel dalam The Routledge International Handbook of New Digital Practices in Galleries, Libraries, Archives, Museums and Heritage Sites (2019). Penelitiannya berkisar pada topik modernisme dalam fotografi dan budaya visual di Asia Tenggara. 

Sony Karsono adalah dosen sejarah di Sejong University, Seoul, Korea Selatan, tempat ia kini mengajar sejarah dunia, kajian biografis, dan pengalaman tentang metropolis dalam karya-karya Walter Benjamin. Ia meraih gelar doktor sejarah Asia Tenggara dari Ohio University, Amerika Serikat. Publikasi ilmiahnya antara lain a) “Flâneur, Popular Culture and Urban Modernity: An Intellectual History of New Order Jakarta” dalam Asian Studies Review (akan terbit); b) “Motinggo Busye and His Popular Novels” dalam Indonesia and the Malay World 44, no. 129 (2016); dan c) “The Making of a Sculptor: The Life, Art, and Politics of Dolorosa Sinaga” dalam edisi Inggris buku ini (2019). Topik utama risetnya adalah bagaimana tubuh, kota dan perubahan sosial mengejawantah dalam teater, kesusastraan dan seni rupa di Asia Tenggara sejak 1900. 

 

Tentang Institut Kesenian Jakarta, Fakultas Seni Rupa IKJ, dan IKJ Press
Institut Kesenian Jakarta (IKJ) merupakan perguruan tinggi seni satu-satunya yang berada di jantung ibu kota Jakarta. Secara akademik, IKJ telah mampu menjadi pelopor perkembangan seni dan industri seni di Indonesia serta mancanegara dengan menjadi pusat pemikiran, perkembangan, dan pertumbuhan seni tradisi–tak hanya Betawi, namun mencakup seluruh Nusantara–, juga seni kontemporer di Indonesia.

Sejak IKJ didirikan pada tahun 1970, Fakultas Seni Rupa telah berperan melahirkan seniman dan desainer serta berbagai tenaga profesional seni yang menghidupkan kegiatan budaya, kegiatan sosial, dan kegiatan industri di Jakarta. 

Di bawah kepemimpinan rektor Seno Gumira Ajidarma, IKJ Press berusaha menerbitkan buku-buku seni budaya dari para pengajar IKJ. Sejauh ini, dari 2017 sampai sekarang sudah terbit enam buku dan menyambut Ulang Tahun Emas (Ke-50) IKJ tahun 2020 ini akan diterbitkan empat buku. Buku Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi adalah buku yang diterbitkan secara kolektif oleh Somalaing Art Studio, Red & White Publishing, dan IKJ Press. 

Karenanya IKJ, FSR, dan IKJ Press turut serta ambil bagian dalam menyelenggarakan acara peluncuran buku Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi ini.
Pers Kit

1) Resensi Buku Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi, editor Alexander Supartono dan Sony Karsono

Bersandar pada riset bertahun-tahun, berfokus pada kiprah sang seniman sebagai pematung, buku Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi membahas buku ini dalam lima bagian.

Bagian Pertama Pengantar Umum menyajikan kolaborasi dua artikel yang memandu pembaca dalam menjelajahi “rimba” visual, tekstual, dan intelektual di jantung buku ini. Dalam artikel pertama, “Kata Pengantar”, pematung Dolorosa Sinaga—selaku impresario bagi dan tokoh kajian dalam “selamatan” budaya ini—menuturkan mengapa dan bagaimana produksi buku ini bermula, berkembang dan berbuah. Lalu, dalam artikel kedua, “Cerita-Cerita yang Melampaui Raga: Perihal Katalog, Galeri, Ragam Pandang dan Biografi,” seraya membedah muatan dan arsitektur kitab ini, sejarawan seni Alexander Supartono membentangkan pokok-pokok bahasan yang menjadi sasaran investigasi dan strategi yang dipakai untuk membongkarnya.

Bagian kedua, Biografi, menghidangkan “Hidup, Seni dan Politik Dolorosa Sinaga”. Dalam esai panjang bergenre sejarah intelektual ini, sejarawan Sony Karsono menelaah tarik-tambang dialektis antara perjalanan hidup Dolorosa dan transformasi kota dan negeri tempat ia berkarya. Analisis ini membekali pembaca dengan konteks dinamis untuk menikmati perjalanan visual dan tekstual dalam kitab ini: dari flânerie di galeri patung, ke kontemplasi dalam kumpulan esai personal and interpretif tentang sang pematung dan karyanya, sampai—puncaknya—tatap muka dengan katalog karya Dolorosa Sinaga.

Bagian ketiga, Galeri, memamerkan patung-patung representatif Dolorosa Sinaga, yang ditata secara tematik dan semi-kronologis. Sebagai kristalisasi dari karir kokoh yang bergejolak subur lebih dari 40 tahun, patung-patung dalam Galeri ini adalah saksi tonggak-tonggak perjalanan kreatif Dolorosa sebagai seniman perempuan Batak-Indonesia: sejak debutnya pada dekade 1970-an di LPKJ (kini Institut Kesenian Jakarta, IKJ) tempat ia memelajari varian Indonesia dari seni patung warisan Henry Moore; ke awal dekade 1980-an di St. Martin’s School of Art (kini Central Saint Martins) di London tempat ia digembleng dalam tradisi “seni patung berbasis tubuh”; sampai fase kematangannya (pertengahan dekade 1980-an hingga kini) di Jakarta di mana dia—dengan memperbarui dan memperluas tradisi-tradisi tadi—berhasil menciptakan dan mengoperasikan bahasa kepatungannya sendiri. “Bahasa Dolorosa” itu berperan penting dalam transformasinya menjadi salah seorang pematung Indonesia mutakhir yang secara estetis paling menyihir dan yang secara politis paling berpihak. Dalam Galeri, kita saksikan kedalaman, jangkauan, kompleksitas, dan nyali Dolorosa Sinaga dalam perjuangannya menyiasati bahan, tema, gaya, ide, problem teknis, tantangan estetik, dan barbarisme politik.

Bagian keempat, Ragam Pandang, menyajikan 30 esai yang ditulis dalam 18 tahun terakhir ini tentang Dolorosa Sinaga dan patung-patungnya. Para penulis berlatar belakang disipliner beraneka ragam: sejarah dan kritik seni, antropologi budaya, kajian tari, sejarah, kesusastraan, filsafat, fotografi dan studi perkotaan. Sebagian besar “dipanen” dari enam katalog pameran tunggal Dolorosa dari 2001 sampai 2013, esai-esai itu dipilah ke dalam dua gugus yang saling berkelindan. Gugus pertama, bertajuk Impresi, menghadirkan sebelas refleksi personal tentang Dolorosa dan karya-karyanya; tiga di antaranya adalah pernyataan sang perupa sendiri. Menyandang muatan personal, esai-esai itu bukanlah produk kepatuhan pada prinsip-prinsip apriori, melainkan buah pengalaman intim dalam laku penulisan tentang seni rupa. Gugus kedua, Interpretasi, berisi 19 pembacaan kontemplatif atas patung-patung Dolorosa berdasarkan perspektif disipliner masing-masing penulis. Mereka semua berupaya menjawab pertanyaan Dolorosa: Apakah kau telah melihat patung dari tubuh? Secara keseluruhan, Ragam Pandang ini membuka jendela untuk melihat tebaran jejaring sosial dan intelektual yang hingga kini tiada henti memutar segitiga kreatif antara pematung, karya, dan para penikmat seni.

Sebagai “pusat gravitasi” buku ini, sekaligus sebagai pondasi kearsipan karya-karyanya di kemudian hari, bagian kelima, Katalog, mempersembahkan daftar paling lengkap karya patung Dolorosa Sinaga. Dengan mencakup seluruh rentang karirnya, Katalog mendokumentasikan tak kurang dari 620 patung, dari karya masa muda, Bertolak Belakang (1976), sampai karya terbaru, Penghargaan Tokoh Budaya (2018). Katalog ini, kita harap, akan memicu letup-letup pemahaman yang tajam, dalam dan brilian atas perjalanan kreatif Dolorosa sebagai salah seorang empu seni patung Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pembacaan atas khazanah karya Dolorosa, Katalog ini memungkinkan penulisan kajian-kajian berpondasi empiris tentang perubahan dan kesinambungan dalam pergulatan Dolorosa dengan materi, dimensi, teknik, dan metode reproduksi, serta siklus produktivitas, penggalian tema, petualangan estetik dan intelektual, juga keterlibatan moral dan politis. Terbitnya Katalog ini akan mengundang munculnya karya-karya Dolorosa yang luput dari deteksi dalam proses penyusunan buku ini. Itu sebabnya Katalog menjadi langkah awal penyusunan catalogue raisonné Dolorosa Sinaga.