Berita : Pelukis Sulut Sonny Lengkong Tutup Usia

 

Dunia seni rupa berduka. Pelukis senior asal Sulawesi Utara, Sonny Lengkong berpulang pada Rabu tengah malam menjelang Kamis 28 Desember 2017. Seniman kelahiran Tomohon, 16 Juli 1957 ini mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk berkesenian, khususnya melukis.

Sonny belajar melukis secara formal di PGSLP Manado. Ia juga sempat mengenyam pendidikan di FKIE-IKIP Manado. Jalan hidup tak lantas membuatnya langsung memilih menjadi seniman. Sonny sempat berprofesi sebagai guru, sebelum ia benar-benar menekuni seni lukis sejak tahun 1980–an. Dalam karya-karya lukisnya yang menggunakan teknik plotot, gores dan kerok dengan palet maupun ujung gagang sendok, Sonny kerap mengangkat tema-tema terkait Minahasa, seperti penari Kabasaran, bendi, bunga kana, kebon cengkih, ayam (jago), perahu pelang, ikan, dan karang Bunaken.

Perjalanan keseniannya yang fenomenal, salah satunya adalah saat ia menggelar pameran lukisan bersama alumni dan dosen IKIP Manado – John Rondonuwu (alm), Arie Tulus, dan John Semuel di Balai Budaya, Jakarta (1990). Ini menjadi moment awal yang membuka jalan bagi para perupa Sulawesi Utara sekaligus karya-karya mereka untuk dikenal dalam skala yang lebih luas. Setelah itu Sonny mendapat undangan untuk ikut berpameran bersama dalam “Biennale X se–Indonesia” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1996). Ia juga beberapa kali tercatat berpameran di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, yaitu pada Pameran Seni Rupa Modern Nusantara (2001), dan Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2008 “Manifesto”, yang keduanya diikuti oleh para perupa se–Indonesia. Karya Sonny bersanding dengan karya para perupa kenamaan seperti Abas Alibasyah, A. D. Pirous, Aming Prayitno, Djoko Pekik, Eko Nugroho, Entang Wiharso, Handiwirman, Heri Dono, Ipe Ma’aruf, Ipong Purnama Sidhi, Irawan Karseno, Iriantine Karnaya, Kartika Affandi, Nasirun, Nyoman Gunarsa, Nyoman Nuarta, Rita Widagdo, H. Sarnadi Adam, Srihadi Soedarsono, Sulebar M. Soekarman, dan sebagainya. Selain pameran bersama, Sonny juga pernah menggelar Pameran Tunggal di Hotel Sahid Jaya (2004); dan Pameran Tunggal “Kalooran wo Kaaruyen” (Kebaikan dan Keindahan Bumi Nyiur Melambai) di Hotel Quality, Manado (2007).

Melengkapi kiprah keseniannya, Sonny mendirikan galeri seni pertama di Manado, yaitu galeri di Titiwungen–Sam Ratulangi Manado, kemudian galeri kedua dibuka di tempat tinggalnya di Kakaskasen-Tomohon. Namun karena mengelola dua galeri seni sekaligus tidak cukup mudah, Sonny menutup galeri di Titiwungen. Sedangkan galeri seni di Kakaskasen masih aktif hingga saat ini. Beberapa tokoh penting pernah mengunjungi galeri seni milik Sonny, seperti Ibu Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Joop Ave, dan Jero Wacik. Sebagai penghargaan atas dedikasi dan kontribusi Sonny Lengkong terhadap perkembangan seni rupa Indonesia, Dewan Kesenian Sulawesi Utara memberikannya Penghargaan Anugerah Seni (1999).

Kini Sonny (60) telah tutup usia. Namun jejak perjalanan keseniannya menjadi inspirasi dan motivasi bagi para perupa untuk terus memajukan dunia seni rupa Indonesia. Sosok Sonny Lengkong juga akan terus dikenang melalui karya-karyanya yang bercerita melintasi zaman. Selamat jalan Sonny Lengkong…

 

*dsy/GNI/bbs