Berita : Kiprah Banda Setelah 350 Tahun Perjanjian Breda

 
Pameran Banda Warisan untuk Indonesia: Pala & Perjanjian Breda 1667–2017 telah resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid pada Rabu malam, 20 September 2017 di Galeri Nasional Indonesia. Perhelatan yang digelar dalam rangka memperingati 350 Tahun Perjanjian Breda ini menyoroti sejarah Banda sebagai penghasil rempah yang kaya. Selain itu juga menguak bagaimana peran Banda sebagai pusat perhatian dalam perdagangan dan politik Internasional.
 
Melalui karya-karya yang disajikan, pameran ini bercerita tentang Perjanjian Breda yang merupakan kesepakatan antara Inggris dan Belanda. Kesepakatan tersebut terkait penyerahan Manhattan kepada Inggris. Sebagai kompensasinya, Inggris menyerahkan Pulau Run kepada Belanda pada 31 Juli 1667, sekaligus mengakhiri perang Anglo–Belanda kedua.
 
“Kita ingin melihat kembali sejarah kejayaan Pulau Banda 350 tahun yang lalu, bagaimana orang datang ke Banda untuk melihat pala yang menjadi kekayaan rempah–rempah Indonesia,” tutur Hilmar. Dengan menguak sejarah kejayaan Pulau Banda, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda mengenai perannya sebagai penerus bangsa yang sejak dahulu telah memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan dunia. “Ini momentum agar Banda masuk dalam peta dunia pariwisata, semoga pengunjung terinspirasi untuk datang ke Banda” ujar Tanya Alwi, Ketua Yayasan Warisan dan Budaya Banda Neira.
 
Banda Warisan untuk Indonesia masih akan berlangsung hingga 4 Oktober 2017. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian pameran yang sebelumnya diselenggarakan di Erasmus Huis, Jakarta, pada 31 Juli – 30 Agustus 2017. Selanjutnya, pameran serupa juga akan digelar di Banda mulai awal November 2017 mendatang. Selain pameran, juga akan ada Seminar “Banda Dulu, Kini dan Besok” yang akan dilaksanakan pada 3 Oktober 2017 di Ruang Seminar, Galeri Nasional Indonesia.
 
*dst/dsy/GNI
 
Lihat juga: