Berita : Pameran Menyigi Masa: Membabak Waktu Lewat Karya Seni Rupa

 

Pertama kali diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia, Pameran “Menyigi Masa” suguhkan karya-karya seni rupa koleksi nasional. Disebut koleksi nasional lantaran semua karya yang dipamerkan merupakan karya koleksi negara yang dimiliki beberapa instansi pemerintah yang tersebar di berbagai daerah. Kali ini, debut pameran koleksi nasional melibatkan empat instansi, di antaranya Galeri Nasional Indonesia; Museum Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh; Dewan Kesenian Jakarta; dan Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Resmi dibuka oleh Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto pada Rabu malam (10/10/2018) di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Menyigi Masa mengajak pengunjung membabak waktu melalui visual karya rupa. Diungkap Kurator pameran Rizki A. Zaelani, tentang masa atau pembabakan waktu, karya-karya dalam pameran ini disajikan melalui tiga kerangka pemahaman. “Ialah waktu sebagai kenangan peristiwa sejarah, waktu sebagai kerangka pengalaman subjektif mengenai realitas dan lingkungan alam maupun kejadian-kejadian hidup, dan waktu sebagai penciptaan karya-karya dengan nilai yang bersumber dari agama, mitologi, dan tradisi budaya” katanya.

Pemahaman waktu sebagai kenangan peristiwa sejarah, tergambar pada karya–karya koleksi Museum Aceh. Karya–karya ini membawa kembali kenangan tentang peristiwa Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional ke-12 di Aceh. Kala itu melalui Pameran Lukisan, Kaligrafi & Mesjid yang berlangsung pada 7 – 14 Juni 1981 di Museum Negeri Banda Aceh, dipamerkan karya-karya kaligrafi para perupa Indonesia. 16 karya di antaranya saat ini dipamerkan kembali dalam Pameran Menyigi Masa di Galeri Nasional Indonesia. Ke–16 karya itu merupakan hasil goresan perupa kenamaan Indonesia yaitu Abas Alibasyah, A. D. Pirous, Ahmad Sadali, Amang Rahman Jubair, Amri Yahya, Batara Lubis, Lian Sahar, Srihadi Soedarsono, Suhadi, Sunaryo, Wardoyo, dan Widayat.

Kerangka waktu yang lain, sebagai pengalaman subjektif mengenai realitas dan lingkungan alam maupun kejadian-kejadian hidup tercermin salah satunya dari karya Henk Ngantung berjudul “Batu Karang yang Teguh”. Menurut Rizki, karya ini mencitrakan waktu seolah akan mengiris suatu objek yang bersama olehnya. Ungkapan alam juga muncul pada karya A.Wakidjan, Nashar, Sudarso, Suromo D. S., Surono, dan Trisno Sumardjo.

Sedangkan waktu sebagai penciptaan karya-karya dengan nilai yang bersumber dari agama, mitologi, dan tradisi budaya, beberapa di antaranya tercermin pada karya I Nyoman Tjokot, Subandi Giyanto, dan Sulasno. Patung karya I Nyoman Tjokot “Makhluk Mitologi Agama Hindu” lekat dengan budaya Bali. Lukisan kaca karya Subandi Giyanto menyentil kehidupan sosial dan politik melalui figur tokoh-tokoh pewayangan yang disajikan secara satir untuk menyampaikan filosofi kehidupan. Lain dengan Subandi, lukisan kaca karya Sulasno secara jelas menggambarkan zaman kerajaan melalui figur prajurit-prajurit dan Pangeran Diponegoro.

Secara keseluruhan, Pameran “Menyigi Masa” menampilkan 61 karya dari 41 perupa Indonesia. 61 karya itu berupa lukisan, patung, dan grafis. “Gelaran ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan untuk masyarakat baik kekaryaan maupun profil para perupa Indonesia. Lebih lanjut, pameran ini menegaskan upaya untuk menjadikan Galeri Nasional Indonesia sebagai pusat informasi dan dokumentasi seni rupa Indonesia,” tegas Pustanto.

Pameran “Menyigi Masa” berlangsung hingga 28 Oktober 2018 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Pengunjung dapat mengakses pameran ini secara cuma-cuma mulai pukul 10.00 hingga 19.00 WIB.

 

*dst/dsy/GNI