Press Release : Pameran Tunggal J. Ariadhitya Pramuhendra - The Monster Chapter II: Momentum

 

Jakarta, 20 Maret 2019 - Pameran The Monster Chapter II: Momentum oleh seniman J. Ariadhitya Pramuhendra akan hadir di Galeri Nasional Indonesia mulai tanggal 22 Maret 2019. Tumbuh di lingkungan Katolik, karya Pramuhendra di pameran ini berkaitan dengan pengalaman masa kecil yang membentuk dirinya dan juga sejarah peradaban Kristen yang tercermin dalam ekspresi seni rupa Barat. Sebagai pameran tunggal terbesar dari sang seniman, The Monster Chapter II: Momentum akan dipamerkan di tiga area Galeri Nasional Indonesia – Gedung A, Gedung B, dan area outdoor. Pameran ini akan dibuka pada Jumat malam, 22 Maret 2019 dan dapat diapresiasi publik hingga Minggu, 7 April 2019.

“Monster sering kali dianggap sebagai makhluk yang menakutkan, namun bagi saya istilah tersebut memiliki makna yang mendalam sebagai kenangan yang terus membayangi dan sesuatu kekuatan dan kehebatan yang lebih besar dari diri saya sendiri,” ujar Pramuhendra mengenai pameran seni yang turut didukung oleh Galeri Nasional Indonesia dan ArtDept ID.

Pameran bertajuk “The Monster” dengan karya yang sebagian besar menggunakan materi charcoal atau arang bertujuan untuk mengajak para pengunjung menangkap makna monster di bayangan dan imajinasi seorang anak, ketimbang cara penilaian sebagai orang dewasa. Sebagai seorang seniman, penjelajahan imajinasi dan gagasan kreatif Pramuhendra memang tak terpisahkan dari jejak iman dan pengalaman hidupnya saat masih di usia belia. Pameran ini juga merupakan suatu komitmen sang seniman untuk membela peran penting manusia dalam memenangkan ‘perang’ di masa kini. Perang itu adalah pergulatan yang berlangsung secara mental, dan di dalam pikiran, ketika gagasan seseorang mampu mempengaruhi setiap sikap dan tindakannya demi kebaikan.

Pameran ini adalah bagian dari Trilogi Pameran yang disebut Pramuhendra sebagai ‘seri monster’. ‘Momentum’ adalah bagian kedua setelah pameran The Monster Chapter I: Memory yang diselenggarakan pada tahun 2018. Pramuhendra tumbuh di lingkungan keluarga Katolik yang menghargai sikap dan pandangan moral keagamaan dalam meraih makna hidup dan perjalanannya. Ayahnya adalah seorang guru fisika yang juga gemar menggambar, khususnya mengenai figur-figur suci dalam agama Katolik. Pameran bagian pertama dan kedua membawa serta gagasan tentang kedekatan diri Pramuhendra pada tema religi dalam ekspresi karya-karyanya. Gambar yang dipilih Pramuhendra, tentu saja, berkaitan dengan sejarah peradaban Kristen dan Katolik. Karya-karya yang disajikan dalam pameran ini mengingatkan pada alur sejarah pada lini masa sejak era Renaissance (sekitar abad ke-15 dan 16) hingga era kebudayaan yang disebut sebagai abad Pencerahan (the Enlightment) di sekitar abad ke-17 dan 18 —para pengunjungpun bisa mengenali karya yang biasa ditemukan di rumah ibadah  hingga lukisan yang bersifat individual.

“Karya-karya Pramuhendra ini memang bukan hanya soal narasi dan keterangan, melainkan lebih mengangkut cara penerimaan milik kita secara langsung dan personal. Soal hitam dan putih, atau gelap dan terang, hanyalah perantara bagi kita untuk menyambut gerak dan perubahan yang berlangsung di dalam semesta diri kita sendiri,” jelas Rizki A. Zaelani, Kurator dari pameran ini.

Ditambahkan Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto, “Pameran Tunggal J. Ariadhitya Pramuhendra ini berbeda dibanding pameran seni rupa umumnya karena menunjukkan pentingnya mengeksplor area dan material lokus pameran, dalam hal ini Galeri Nasional Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa seorang seniman bisa menjadi ‘liar’ dalam menjelajahi bidang seni rupa untuk diterjemahkan secara visual ke dalam karya-karya yang eksploratif, tidak dikungkung dimensi keruangan, serta mengusung kreativitas yang tak terbatas.”

 

*****

 

Tentang Pramuhendra

Setelah lulus pada 2007 dari Institut Teknologi Bandung, di Seni Grafis, Pramuhendra dengan cepat mendapat perhatian khalayak internasional. Karya instalasi Ashes to Ashes yang digelar dalam Hong Kong Art Fair 2010 banyak mencuri perhatian. Di tengah pergulatan warna dan tema berbagai kreasi seni yang tampil dari berbagai galeri besar dunia, ia muncul dengan warna monokromatik hitam putih. Karyanya paling sering ditentukan oleh potret dirinya yang realis sebagai tokoh sentral, menyelidiki imannya sendiri dan keberadaan Tuhan. Tahun lalu, Pramuhendra menggelar pameran tunggal pertamanya di Indonesia dengan tajuk The Monster Chapter I: Memory.

 

Tentang Galeri Nasional Indonesia                        

Galeri Nasional Indonesia (GNI) merupakan lembaga museum/ galeri seni rupa di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berdiri pada 8 Mei 1998 dan diresmikan operasionalnya pada 8 Mei 1999, aktivitas GNI adalah melaksanakan pengkajian, pengumpulan, registrasi, perawatan, pengamanan, pameran, kemitraan, edukasi, pendokumentasian dan publikasi karya seni rupa berupa lukisan, sketsa, grafis, patung, keramik, desain grafis, ilustrasi, fotografi, seni kriya, seni instalasi, dan media alternatif lainnya yang dikategorikan sebagai seni rupa modern dan kontemporer. Karya seni yang dikumpulkan dan dirawat GNI hingga tahun 2018 telah mencapai 1.898, terdiri atas karya-karya para seniman Indonesia dan mancanegara yang memiliki andil penting dalam perkembangan seni rupa. GNI menjadi semacam barometer mutu perkembangan seni rupa Indonesia mutakhir sekaligus fasilitator bagi para perupa Indonesia dalam hubungan internasional. GNI juga memiliki peran edukasi untuk menumbuhkan pemahaman, penalaran, kreativitas, dan inovasi, serta kecintaan terhadap karya budaya bangsa.

 

Tentang ArtDept ID

Sejak didirikan pada tahun 2014 oleh Amalia Wirjono, ArtDept ID telah secara aktif mendukung seniman lokal yang telah mapan dan yang akan datang melalui kolaborasi ide dan produk.