Berita : Dua Kutub Cerminan Sisi Kehidupan Heterogen Masyarakat Indonesia

 

Perumpamaan seperti dua kutub magnet yang berbeda namun bila didekatkan saling tarik menarik nampaknya sangat pas untuk mengibaratkan kedua sosok perupa tanah air yaitu, masdibyo dan Gigih Wiyono. Kedua perupa ini memiliki perbedaan dari segi latar belakang pendidikan, daerah asal, hingga tradisi yang mempengaruhi proses penciptaan karya. Namun perbedaan inilah yang justru menjadi kekuatan dalam pameran bertajuk Dua Kutub. 

“Dua seniman ini berbeda dari segi latar belakang maupun pendidikan. Namun dalam seni tetap ada titik temu, bisa berupa sasaran ataupun idealis yang sama. Setidaknya dari visual kita bisa melihat ada karya yang memiliki kesamaan dari sisi sosial politik atau religius. Ujungnya kesamaan ini bisa ditelusuri”, ujar Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus ‘Andre’ Sukmana saat malam pembukaan pameran tersebut pada Rabu malam, 10 Januari 2018.

Sebetulnya dua kutub berhubungan dengan lingkungan asal dari kedua perupa yang akhirnya mempengaruhi karya-karya mereka. masdibyo yang berasal dari pesisir utara Tuban seolah menggawangi kutub utara. Karya-karyanya sudah sejak lama menggarap persoalan rakyat tentang kearifan lokal, cinta kasih, dan kelembutan. Sedangkan Gigih Wiyono yang tumbuh berkembang di wilayah selatan Jawa tengah, tepatnya Sukoharjo, sangat akrab dengan pedesaan dan pertanian. Dari sini Gigih Wiyono seolah menggawangi kutub selatan dengan mengangkat mitos simbol padi dan kesuburan sebagai tumpuan kaum agraris. Alhasil, Pameran Dua Kutub menyuguhkan karya-karya dengan sajian visual yang mampu menyadarkan sisi kehidupan heterogen.

Pameran Dua Kutub dapat dikunjungi pada 11-21 Januari 2018, pukul 10.00-19.00 WIB, di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini terbuka untuk umum dan bebas biaya.

*fii/GNI