Berita : Jejak ‘Gerilya Seni’ Yustoni Volunteero

 

Lahir 14 Juni 1970, Yustoni Volunteero dikenal sebagai seniman sekaligus ‘aktivis seniman rakyat’ lantaran mendirikan Taring Padi, sebuah organisasi kebudayaan di Yogyakarta yang muncul pada akhir 1998, dengan mengusung praktik kesenian untuk rakyat. “Behind gagasannya, karena menurut kami waktu itu, berpikir bahwa, kerja reformasi ini belum selesai. Harus ada organisasi kebudayaan yang ini berpihak di ranah ruang itu. Yang jelas-jelas berpihak. Lalu kemudian menyuarakan, begitulah. Jadi akhirnya aku kontak beberapa teman-teman, lalu oke, kemudian buat TP (Taring Padi –red),” jelas Toni­—panggilan akrabnya— pada suatu sesi wawancara bersama Visual Jalanan pada 11 Februari 2015 di kediaman seniman S. Teddy Darmawan, Yogyakarta.

 

Bersama Taring Padi, Toni melakukan ‘gerilya seni’ dengan cara membuat instalasi, poster, banner, mural, wayang kardus, performance, juga media seni lainnya yang dipasang atau dipertunjukkan secara langsung di jalanan. Hal inilah yang kemudian membuatnya identik sebagai seniman jalanan. Meski namanya seakan melekat dengan Taring Padi, namun Toni juga membuat karya atas namanya sendiri. Beberapa diantaranya stencil, serta karya-karya lukis berbahan cat akrilik, pulpen, cat minyak, atau pensil pada kanvas.

 

Toni telah banyak terlibat dalam pameran bersama, juga tunggal. Beberapa pameran solonya antara lain “Kamar untuk Agung Kurniawan #1” di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta (2005), “Aussie Rules,” di The Silvermine Gallery, Adelaide, South Australia (2002), dan “the volunteer; dedicate For All My Woman” di Galeri Biasa, Yogyakarta (2008). Ia juga melakoni solo performance “Ubiquitous Bloodbath,” Performance with the assistance of the Padang Ilalang Group di ‘Jipaf 2000 (The Jakarta International Performance Art Festival), Teater Utan Kayu, Jakarta (2000), serta “Ketika Aku Mencintai Kupu-kupu dan Ada Kapal Terpasir,” WedAction, Kedai Kebun, Yogyakarta (2004). Selain berkarya, Toni juga kerap menjadi pembicara dalam diskusi-diskusi seni di luar negeri (Australia, Finlandia).

 

Meski telah banyak yang mengenalnya sebagai seniman, Toni yang pernah menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Seni Rupa (1991) itu mulanya justru kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (STIE YKPN) Jurusan Akuntansi. Namun karena keinginan dan dorongan nuraninya begitu kuat untuk terjun ke dunia seni, ditambah bakat seni yang diturunkan dari ayahnya, takdir menuntunnya untuk mendedikasikan hidupnya di seni rupa. Bahkan hingga akhir hayatnya, Yustoni masih aktif dalam melakoni aktivitas seni rupa. Berita kepulangannya yang tiba-tiba pada Sabtu malam, 9 Juni 2018 dalam usia hampir 48 tahun, sontak mengejutkan orang-orang terdekatnya dan juga dunia seni rupa Indonesia.

 

Selamat jalan Yustoni Volunteero. Jejak langkahmu di tanah seni rupa Indonesia tak akan pernah terhapus zaman.

 

 

*dsy/GNI

 

 

Sumber:

http://www.salihara.org/programs/visual-arts/artists/yustoni-volunteero

http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/yustoni-volunteero

http://visualjalanan.org/web/dari-taring-padi-hingga-jalanan-bersama-yustoni-volunteero/

http://arsip.galeri-nasional.or.id/pelaku_seni/yustoni-volunteero/show

 

Sumber foto diolah dari:

http://visualjalanan.org/web/dari-taring-padi-hingga-jalanan-bersama-yustoni-volunteero/