Berita : Karya Butet Kartaredjasa Hadir Perdana di Galeri Nasional Indonesia

Berkecimpung di dunia teater sejak tahun 70-an membuat publik lebih mengenal sosok Butet Kartaredjasa sebagai seorang pelakon. Namun Butet membuktikan jika ia tak hanya aktif di dunia teater saja. Pada akhir 2017 ini, Butet menggelar pameran seni visual pertamanya yang bertajuk “Goro-Goro Bhinneka Keramik” di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Sebanyak 138 karya yang tersaji dibuat Butet dalam kurun waktu tiga tahun terakhir dan dikuratori oleh Wicaksono Adi.

Karya-karya tersebut berbahan dasar keramik berbentuk persegi, oval, piring, dan lempengan yang tak beraturan maupun potongan visual keramik yang ditata menjadi kolase. Tak sekedar membuat keramik, Butet juga melukis di permukaannya dan memadukan dengan elemen lain seperti pelat besi, batu bata, serta bidang kayu. Elemen tersebut digunakan Butet sebagai bingkai maupun bidang yang memperkuat tampilan visual karya-karyanya.

Seluruh karya itu menjadi wujud respon Butet terhadap masalah sosial, politik, budaya, dan keagamaan. Selain itu juga menjadi refleksi personalnya terhadap tokoh-tokoh besar seperti Gus Dur, Joko Widodo, Budha, Yesus Kristus. Bahkan Butet juga melukiskan dirinya dan beberapa tokoh pewayangan dengan dibumbui peribahasa atau pameo dalam bahasa Jawa. Peribahasa atau pameo tersebut mengandung arti pesan moral tertentu yang ingin disertakan Butet dalam rangka mengingatkan kembali.

Berbicara tentang tema, Butet menyebutkan jika luasnya topik yang digarap dalam karya seni rupanya merupakan wujud dari bentuk ‘kebhinnekaan’. Sedangkan istilah ‘goro-goro’ digambarkan sebagai keadaan kacau dan penuh ketidakpastian. Sama halnya dengan ikatan kebangsaan kita yang ternyata sangat rapuh dan jika tidak hati-hati akan hancur berkeping-keping. Bagi Butet, kita sebagai masyarakat harus mampu menata kembali kepingan demi kepingan yang bhinneka (beragam) menjadi kolase ‘ke-Indonesian’ agar kehidupan lebih baik.

Kembalinya Butet ke ranah seni rupa sebetulnya bukan hal baru. Butet mengenyam pendidikan formal seni rupa di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta pada tahun 70-an. Butet juga menjadi salah satu perupa Indonesia yang turut mendinamisasikan kegiatan seni rupa Indonesia sebagai pelukis, sketcher, dan penulis ulasan seni rupa di media massa. Darah berkesenian Butet yang begitu kental diturunkan dari ayahnya, Bagong Kussudiardja, yang dikenal sebagai seniman tari juga pelukis.

Bagi publik yang ingin mengapresiasi karya Butet Kartaredjasa, pamerannya masih berlangsung hingga 12 Desember 2017, pukul 10.00-19.00 WIB, di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya.

*fii/GNI