Berita : Pameran Pokok di Ambang Batas: Seni Tanpa Batas Seniman Disabilitas

 

Menampilkan karya para seniman disabilitas bukan lagi hal baru. Namun menyajikan karya-karya para seniman disabilitas dengan menggabungkan beragam seni dalam satu gelaran adalah yang pertama di Indonesia. Inilah Festival Bebas Batas (FBB) 2018 yang menyajikan pameran utama bertajuk Pameran “Pokok di Ambang Batas” di Galeri Nasional Indonesia.

Dibuka pada Jum’at malam, (12/10/2018) oleh Direktur Kesenian Restu Gunawan, Pameran “Pokok di Ambang Batas” menjadi puncak perayaan FBB 2018, sebuah festival pertama di Indonesia khusus untuk seniman disabilitas/difabilitas yang menggabungkan seni rupa dan pertunjukan (musik, tari, dan filem). Festival ini diselenggarakan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai pihak pendukung antara lain Galeri Nasional Indonesia; Art Brut Indonesia; Kementerian Sosial Republik Indonesia; British Council Indonesia beserta mitra; Agency for Cultural Affairs, Government of Japan – International Exchange; Program Executive Committee for Disabled people’s Culture & Arts for Japan; PT Angkasa Pura II; serta PT Transportasi Jakarta. Selain itu juga melibatkan RSJ Dr. Arif Zainudin (Solo), RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat (Lawang), RSJ Bali (Bangli), RSJ Lampung (Bandar Lampung), dan RSJ Dr. Soeharto Heerdjan (Jakarta).

Restu Gunawan menyampaikan, Pameran “Pokok di Ambang Batas” dalam rangka FBB 2018 menunjukkan potensi para seniman disabilitas/difabilitas yang kualitasnya tak kalah dengan seniman lainnya. “Semuanya memiliki potensi yang patut diapresiasi,” katanya. Ada karya-karya 35 peserta hasil seleksi open call yang terbuka bagi para seniman disabilitas/difabilitas se­–Indonesia. Juga karya-karya peserta undangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri seperti koleksi Borderless Art Museum NO-MA Jepang, hasil workshop dari Kedutaan Spanyol di Indonesia, proyek seni yang didukung Institut Francais d'Indonesie, proyek seni yang didukung British Council, plus karya-karya terseleksi dari lima Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Indonesia. Keseluruhan karya yang disajikan dalam Pameran “Pokok di Ambang Batas” menghadirkan bentuk dan teknik beragam, dari bentuk konvensional hingga kontemporer. Mulai dari lukisan, fotografi, gambar (drawing), media campur (mixed media), hingga karya audio visual dan interaktif.

Menurut Kurator pameran Sudjud Dartanto, ide karya para seniman peserta pameran membentang dari pengalaman pribadi, bahkan kritik dan penghayatan mereka atas kondisi sosial/budaya. “Dengan mengabaikan berbagai hasil diagnosis dari otoritas medis masing-masing mereka, secara umum dapat dikatakan bahwa ekspresi mereka lugas, spontan, dan kuat. Pada titik inilah kita sampai pada sebuah pertanyaaan di ambang batas: apakah masih penting dan perlukah mereka menyandang predikat/cap/status/identitas sebagai kaum disabilitas/difabilitas ketika berada dalam ranah seni?” ungkapnya.

Sudjud melanjutkan, sebagai sikap, kurasi pameran ini memilih untuk tidak masuk kedalam cara pandang, “able” atau “disable”. “Kami memandang bahwa dalam ranah seni, ekspresi adalah sebuah praktik wicara dan wacana dari siapapun secara bebas batas, tanpa batas. Adalah sesuatu dan sebuah kejanggalan jika dalam konteks wicara dan pembentukan wacana seseorang masih dibatasi atau dipahami karena ‘keterbatasan’ yang dimilikinya,” tandasnya.

Maka pameran dan festival ini menjadi sebuah penegasan dan pengakuan tentang karya disabilitas/difabilitas sebagai sebuah karya seni yang mumpuni, bukan dianggap bagus karena iba pada keterbatasan penciptanya beserta proses penciptaannya. Selama ini apresiasi terhadap karya dan seniman disabilitas/difabilitas seringkali tidak berdasar pada indikator artistik layaknya apresiasi terhadap karya-karya seni nondisabilitas. Di saat yang sama, irisan antara seni dan disabilitas juga banyak berkutat di arena bernama seni untuk terapi. Namun pameran dan FBB 2018 ini berusaha menampik hal tersebut sekaligus berupaya membawa karya–karya disabilitas/difabilitas untuk mendapat apresiasi yang jujur.

Melalui gelaran ini, Hana Madness, salah satu penggagas Art Brut Indonesia menyampaikan harapannya dengan penuh semangat. “Saya berharap pameran ini bisa menjadi obor bagi seluruh seniman untuk bisa berkreasi dan berkarya dengan cara yang brilian seperti ini. Saya juga berharap ini bisa jadi cerminan bagi galeri-galeri, ruang-ruang publik, maupun ruang-ruang budaya untuk menciptakan ruang yang accessible untuk disabilitas/difabilitas,” tegasnya.

Pameran “Pokok di Ambang Batas” masih berlangsung di Gedung B, C, dan D Galeri Nasional Indonesia hingga 29 Oktober 2018. Selain pameran tersebut, FBB 2018 juga diisi dengan Pameran Pendukung “Aneka Rupa Lima RSJ” di Terminal 3 Soekarno-Hatta dan Halte Busway Harmoni. Pameran ini menampilkan karya-karya pilihan yang hasil observasi dan workshop melukis bersama di sejumlah rumah sakit jiwa di lima kota yaitu Jakarta, Solo, Lawang, Denpasar, dan Lampung. Juga ada Lokakarya Melukis Bersama; Diskusi “Seni dan Disabilitas/Difabilitas; serta pertunjukan tari, musik, dan filem.

 

*syw/dsy/GNI