Berita : Ketika Pelukis Abstrak Mencitrakan Cahaya

 

Menandai 20 tahun berkiprah dalam dunia seni rupa, Baron Basuning menapakkan jejaknya dalam sebuah ekshibisi tunggal. Pameran seni rupa abstrak bertajuk “NOOR” ini resmi dibuka oleh Budayawan Erros Djarot pada Selasa malam (8/1/19) di Galeri Nasional Indonesia. “Gelaran ini menjadi momen bagi Baron untuk menunjukkan siapa dirinya melalui 38 karya abstrak,” ujar Erros.


“NOOR” merupakan visualisasi persinggahan Baron di berbagai belahan dunia. Ia mendapati kekayaan seni abstrak melalui arsitektur yang menjadi lebih indah karena cahaya. Kurator pameran Eddy Soetriyono mengungkap, eksplorasi warna yang Baron goreskan di atas kanvas membuat cahaya menjadi suatu permata yang menarik bagi siapapun yang menatapnya. Baron terpukau dengan refleksi cahaya yang menyinari kubah di tempat-tempat yang ia kunjungi. Mulai dari Masjid Nasrid Palace–Alhambra di Spanyol, Nasir Al Mulk (Pink Mosque) di Iran, dan Taj Mahal di India. Tempat-tempat itu menjadi inspirasi kuat bagi Baron dalam melukis karya abstrak. “Tidak seperti kubah bangunan Islam lainnya, Masjid Alhambra, Pink Mosque, dan Taj Mahal merupakan beberapa kubah yang menampilkan abstraksi trimata yang terpancar indah karena cahaya,” kata Eddy. 


Selain mencitrakan cahaya atau ‘Noor’, karya abstrak Baron juga menggambarkan eufemisme dari kegelisahan, kegembiraan, kebahagiaan, dan cinta. Ia mengekspresikan manusia dan alam tengah berjalan menuju cahaya alih-alih Sang Pencipta. Ia meyakini bahwa Sang Ilahi merupakan sesuatu yang nirrupa, abstrak namun dapat diartikan sebagai puncak dari segala cahaya.


Bukan hanya cahaya secara harfiah, ‘Noor’ bagi Baron juga berarti tuntunan dalam menjalankan kehidupan, beraktivitas, berbuat baik kepada sesama, juga berkesenian. Kentalnya filosofi hidup yang religius dalam pameran ini merupakan cara Baron menunjukkan transformasinya untuk mendekati Sang Ilahi. “Semakin bertambah usia, semakin bertambah keinginan untuk mendekat pada Sang Pencipta,” kata Baron. Meski demikian, baik Baron maupun Eddy tak mengekang untuk sepaham tentang representasi religiusitas dalam pameran ini. “Biarlah masyarakat yang menilai dari sudut pandang pribadi mereka sendiri, tentang karya-karya yang ditampilkan, Baron, dan pameran ini sendiri,” ucap Eddy.


Pameran “NOOR” masih berlangsung hingga 8 Februari 2019 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Masyarakat dapat mengakses pameran ini secara cuma-cuma mulai pukul 10.00 hingga 19.00 WIB. Selain pameran, disajikan pula program publik yaitu Seminar Kebudayaan (11/1/2019), Artist Talk (13/1/2019), dan Exhibiton Tour setiap Sabtu dan Minggu selama pameran berlangsung.

 

*dst/dsy/GNI