Press Release : Photography Exhibition “Abad Fotografi” The Age of Photography

Pada pertengahan 2013, beberapa fotografer Jakarta melakukan perjalanan ke Bali mencari obyek foto. Mereka bertemu dengan fotografer dari beberapa negara yang tinggal di Bali. Terjadilah obrolan kebetulan yang akhirnya menjadi serius tentang perkembangan fotografi. Saat ini, fotografi dianggap telah keluar secara progresif dari fotografi konvensional karena telah bermunculan karya-karya fotografi yang ditampilkan dengan konstruksi–dalam hal ini disebut instalasi foto–, karya foto yang diproyeksikan, karya foto yang melibatkan permainan cahaya, karya foto yang hampir tidak bisa dibedakan dari karya video, karya foto yang tidak bisa dibedakan dari presentasi foto dokumentasi, dan tentu karya foto digital yang muncul akibat berkembangnya teknologi komputer. Gejala tersebut merupakan sebuah peluasan fotografi yang mengindikasikan adanya keberagaman dalam dunia fotografi. Dari sinilah muncul gagasan dari para fotografer tersebut untuk menampilkan karya fotografi dari yang konvensional hingga progresif dalam sebuah pameran fotografi.

Pada Desember 2013, sebuah pameran fotografi yang diprakarsai oleh Sjaiful Boen dan Kun Tanubrata telah dihelat di Galeri Tony Raka, Ubud, Bali, dengan mengangkat tajuk The Age of Photography. Pameran internasional yang diikuti para fotografer dari pelbagai negara ini tidak hanya menampilkan karya foto, namun juga berusaha menyentuh ranah seni rupa kontemporer yang menunjukkan penjelajahan media ekspresi. Persinggungan fotografi dan seni rupa kontemporer ini disebut-sebut sebagai fotografi kontemporer (contemporary photography).

Kini 2016, mengulang hal serupa, pameran fotografi kontemporer kembali dihadirkan di Jakarta. Pameran yang merupakan hasil kerjasama Penyelenggara Abad Fotografi dengan Galeri Nasional Indonesia ini akan digelar pada 15–28 November 2016, di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Menampilkan sekitar 50 karya seni rupa dua dan tiga dimensional (seni cetak, fotografi, dan seni Instalasi), pameran ini diikuti oleh 20 fotografer dari empat negara, 16 diantaranya dari Indonesia dan 4 lainnya dari Jepang, Swiss, dan USA. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Abad Fotografi”.

Diungkap kurator pameran ini, Jim Supangkat, istilah Abad Fotografi disebut teoretikus seni Theodore Gracyk dalam bukunya yang berjudul The Philosophy of Art (Polity Press, 2012). Menurut Theodore Gracyk, perkembangan seni rupa sekarang ini menunjukkan abad fotografi (the age of photography) yang menggantikan the age of avant garde yang menandai perkembangan sebelumnya (seni rupa modern). Salah satu bukti nyata abad fotografi ini selain tercermin pada perkembangan seni rupa kontemporer, juga dapat ditemukan pada perkembangan budaya masyarakat. Saat ini, hampir setiap orang beraktivitas dengan fotografi melalui kamera telepon seluler. Penggunaannya yang mudah, kecanggihan teknologi, penambahan efek kamera, serta integrasi dengan koneksi internet dan media sosial menjadi beberapa faktor yang mendukung peningkatan aktivitas fotografi oleh masyarakat dari pelbagai kalangan. Foto kini tak lagi sekedar dokumentasi. Foto telah menjadi media ekspresi, eksistensi diri, dan pengakuan dari lingkungan sekitarnya.

Dikatakan Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus ‘Andre’ Sukmana, dalam pameran ini, fotografi tampaknya bukan hanya menjadi alat perayaan ekspresi keartistikan atau sebagai rekam jejak keseharian saja, melainkan lebih dari itu fotografi menjadi media bagi para perupa peserta pameran dalam mewujudkan dan memunculkan gagasan, pengamatan, sikap, interaksi, serta komunikasi dalam mengungkapkan persoalan realitas, kehidupan masyarakat, dan juga permasalahan sosial.

Sungguh besar peran fotografi dalam dunia masa kini. Inilah ABAD FOTOGRAFI!

 

Jakarta,  November 2016