Berita : Akhir Perjalanan Biranul Anas Zaman

Menjelang penutup tahun 2019 ini, dunia seni rupa Indonesia kembali kehilangan sosok seniman terbaiknya, Prof. Dr. Biranul Anas Zaman, M. Sn. Seniman sekaligus akademisi ini dikabarkan telah berpulang pada Kamis, 19 Desember 2019 lalu pada usia 72 tahun.

Dalam tulisannya di Tempo sekitar tahun 1986, kritikus seni rupa Sanento Yuliman pernah menyebut Biranul Anas sebagai seorang Pendekar Seni Serat Indonesia, karena konsistensinya mengolah media serat meskipun kala itu media seni satu ini masih sepi peminat. Hingga kemudian ‘pendekar’ ini tetap konsisten menyebarkan semangat seni serat bahkan hingga 40 tahun kemudian.

Awal perkenalan Biranul Anas dengan seni serat dimulai saat ia belajar desain tekstil di ITB, namun ketertarikannya untuk mengembangkan seni serat di Indonesia semakin kuat setelah mengikuti kursus desain tekstil di Osaka, Jepang pada 1974-1975. Dalam pemikirannya, Indonesia punya potensi besar dalam seni serat, karena negara ini sejatinya sudah punya kekayaan kriya yang melimpah.

Dari awal perjalanannya hingga saat ini, mantan Dekan FSRD ITB periode 2006-2010 ini sudah banyak mengeksplorasi teknik-teknik kriya, mulai dari simpul atau macramé, tenun, sulam, tempelan, dan kemudian ia bahkan mencampuradukkan berbagai teknik tersebut demi menghidupkan gagasan-gagasan artistiknya.

Sebagai seniman, Biranul Anas telah banyak mengikuti berbagai pameran baik di dalam dan luar negeri. Beberapa pengalaman pameran tunggalnya antara lain Pameran “SERAT JIWA” 40 Tahun Perjalanan Karya Biranul Anas Zaman di Galeri Nasional Indonesia (2019); Pameran Tunggal Seni Serat “Serat-serat Budaya” di Selasar Sunaryo Art Space (2007); Pameran Tunggal “Ikatan Silang Budaya, Seni Serat Biranul Anas” di Bentara Budaya Jakarta (2006); dan Pameran Tunggal “Tapestry” di Edwin’s Gallery (2001). Sedangkan catatan pameran di ranah internasional antara lain: Pameran Internasional Seni Serat “Fiberface II” di Taman Budaya Yogyakarta (20019) dan “12th International Triennale of Tapestry” di Museum of Textiles, Lodz, Polandia (2007).

Di samping berkarya, Biranul Anas juga tetap menunaikan tugasnya sebagai seorang akademisi dengan banyak menerbitkan karya publikasi dan jurnal ilmiah seperti “Tourism and the Hinggi Design of East Sumba: A Study on the Aesthetical Morphology of Colors and Motifs of Traditional Cloths” (2007), “Manusia, Lingkungan, dan Kriya Kain dalam Kebudayaan Sumba Timur” (2006),  “Traditional East Sumba Ikat Textiles at Tourism Centers” (2001), dan lain sebagainya.

Atas dedikasinya dalam dunia seni, Biranul Anas dianugerahi beberapa penghargaan, yaitu Anugerah Kebudayaan dan Pariwisata (2008) dan “Best Creative Textiles Awards” dalam World Crafts Council Conference and Exhibition (1985).

*cki/GNI

Sumber foto: dok. GNI

 

Referensi tulisan:

https://www.facebook.com/asikin.hasan.1/posts/10157037743338049

http://bukan-tokohindonesia.blogspot.com/2009/06/biranul-anas-dan-seni-serat.html

http://rri.co.id/jakarta/post/berita/653490/nama_-_peristiwa/40_tahun_perjalanan_karya_biranul_anas_dalam_pameran_serat_jiwa.html

https://multisite.itb.ac.id/kria-senirupa/pimpinan-dan-staf/prof-dr-biranul-anas/

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/galerinasional/pameran-serat-jiwa-biranul-anas-zaman/