Berita : Selamat Jalan Arby Samah ‘Sang Maestro Abstrak’

“Sekali Abstrak Maka Tetap Abstrak” — Arby Samah

Berusia lanjut tak pernah membuat surut gairah berkarya seorang Arby Samah. Lahir di Sumatera Barat pada 1 April 1933, Arby memiliki kemampuan membuat patung abstrak. Tak hanya berbekal kemampuan, Arby juga memiliki konsistensi dalam berkarya. Baginya, ‘sekali abstrak maka tetap abstrak’. Berkat konsistensinya tersebut, Arby tercatat sebagai pematung abstrak pertama Indonesia, sekaligus dikenal sebagai menara seni patung modern Indonesia.

Tak hanya karya patung, Arby juga sempat belajar melukis dan sketsa pada Hendra Gunawan, saat mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta (ASRI Yogyakarta). Gayanya dalam melukis kerap kali dipuji oleh tokoh-tokoh seni Indonesia seperti Sudarso, Widayat, Trubus, dan Hendra Gunawan. Karir seninya juga bersinar hingga ia berkesempatan menyelenggarakan pameran tunggal di Galeri Lontar, Duta Fine Art Foundation, dan Galeri Nasional Indonesia. Tak hanya itu, satu karya lukisnya bahkan telah menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia sekaligus koleksi negara, yaitu Minangkabau, cat minyak pada kanvas, 52 x 61 sentimeter, tahun 1959.

Selain aktif berkesenian, Arby juga memiliki andil besar dalam dunia pendidikan seni rupa. Ia sempat menjadi Kepala Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Padang hingga tahun 1933. Pengabdiannya berlanjut hingga Arby turut aktif mendukung berdirinya pusat kesenian di Sumatera Barat yang kini menjadi Taman Budaya Padang. Bagi Arby, pusat kesenian menjadi penting untuk mengembangkan jiwa-jiwa seni serta upaya melestarikan budaya lokal di Padang.

Kini Arby telah tutup usia. Ia berpulang pada 6 September 2017. Namun semangatnya dalam berkarya akan tetap hidup dan menginspirasi dunia seni rupa Indonesia. Selamat jalan, Arby Samah.

*fii/dsy/GNI