Berita : Seni Lukis Batik: Ekspresi Melampaui Fungsi

 

Seni lukis batik muncul tahun 1970-an ketika di kalangan seniman khususnya di Yogyakarta sedang bergiat dengan eksplorasi medium rupa selain cat minyak pada kanvas. Beberapa seniman tersebut antara lain Ida Hadjar, Abas Alibasyah, Amri Yahya, Bagong Kussudiardja, V.A. Sudiro, Mardiyanto, dan sebagainya. Batik yang semula diaplikasikan pada kain untuk dipakai sebagai busana, kemudian bertransformasi dalam cakupan lebih luas sehingga menjadi karya seni rupa yang dikenal dengan istilah seni lukis batik.

Seni lukis batik pada dasarnya adalah karya individual seperti halnya lukisan kanvas namun menggunakan teknik membatik pada kain. Meskipun sama-sama menggunakan teknik membatik, namun seni lukis batik berbeda dengan seni batik yang dikenal pada umumnya. Pembeda utamanya adalah, batik sebagai produk bersifat fungsional atau dipakai untuk busana, sedangkan seni lukis batik lebih bermuatan ekspresi.

Dalam sejarah seni rupa Indonesia, seni lukis batik tidak mengalami perkembangan yang signifikan selepas era 1970-an, meski saat ini masih ada beberapa perupa kontemporer yang konsisten dengan eksplorasi batik seperti Agus Ismoyo dan Nia Fliam Ismoyo. Jejak-jejak masa keemasan seni lukis batik terekam dalam 64 karya batik koleksi Galeri Nasional Indonesia/koleksi negara. Karya-karya batik dengan objek figur, dekoratif, dan abstrak tersebut merupakan hasil olah artistik para seniman Indonesia, di antaranya Abas Alibasyah, Bagong Kussudiardja, Damas Mangku, Ida Hadjar, Kuswaji, Mardiyanto, Mudjitha, V.A. Sudiro, Widayat, dan lainnya.

 

Selamat Hari Batik Nasional 2019, Mari "Membatik untuk Negeri"!

 

------
Referensi Teks:
Burhan, Agus, dan Suwarno Wisetrotomo. 2014. Masterpieces Second Edition. Jakarta: Galeri Nasional Indonesia