Laporan : Sosialisasi GNI di Banda Aceh

Eksistensi dan Fenomena Seni Rupa Nusantara merupakan penggambaran tentang perkembangan sejarah seni rupa di daerah sejak lahir hingga kondisi terkini serta memposisikan kebedaraannya dalam lingkup seni rupa nusantara. Gambaran ini yang ingin ditampilkan oleh Galeri Nasional Indonesia dalam sosialisasi Galeri Nasional Indonesia di Banda Aceh. Dalam kegiatan di Banda Aceh ini Galeri Nasional Indonesia mencoba mengangkat sejarah seni rupa Aceh dan perkembangannya dari tiap zaman serta memposisikan seni rupa Aceh dalam peta seni rupa nusantara.

Mahdi Abdullah merupakan narasumber yang dihadirkan oleh GNI dalam membedah sejarah perkembangan seni rupa Aceh. Mahdi merupakan pelaku seni rupa Aceh serta salah satu saksi perkembangan seni rupa Aceh. Selain Mahdi, GNI juga menghadirkan salah satu kuratornya yaitu Asikin Hasan dalam upaya penggambaran posisi Aceh dalam peta seni rupa nusantara.

Pertama kali munculnya seni rupa di daerah Aceh pada abad ke-13 dapat ditelusuri sejak masuknya Islam, ditandai dengan banyaknya batu nisan yang bertarikh abad tersebut. Selain itu terdapat juga peninggalan bangunan arsitektur dan seni rupa pada awal abad ke-17 yang masih tegak berdiri dibekas Kerajaan Aceh masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636). Tonggak seni rupa modern di Aceh diawali oleh seorang pelukis yang bernama Teungku Teungah. Karyanya berupa lukisan yang mengjumput kehidupan sosial dan adat istiadat (tradisioanal) sebagai sumber inspirasi, dibeli dan dibawa oleh van Heutz ke Belanda. Selanjutnya perkembangan seni rupa Aceh berkembang pesat sejak tahun 1945, dikarenakan pengaruh informasi dari buku-buku dan media cetak mengenai lukisan mazhad Mooi Indie di Jawa. Puncak perkembangan seni rupa pada masa Mooi Indie di Aceh terjadi pada tahun 1962, tepatnya tanggal 11 sampai 15 Januari 1962, bertempat di Balai Teuku Umar, dilangsungkan pameran lukisan Akbar dengan menampilkan 200-an karya yang dikuti diantaranya Ali Djauhari, TR Ibrahim, Tgk Atjeh, M Djakfar dan kawan-kawan. (Sumber: Mahdi Abdullah)

Selain paparan diatas Mahdi juga mencoba menggambarkan seni rupa Aceh pada masa konflik dan pasca Tsunami yang terjadi di Aceh. Kedua peristiwa di atas sangat mempengaruhi perkembangan dan karya-karya yang dihasilkan oleh para seniman Aceh.

Asikin Hasan, memulai pemaparan materi fenomena seni rupa nusantara dengan mengangkat Jakarta selaku pusat budaya yang didalamnya terdapat perkembangan seni rupa. Di mana Jakarta pusat penciptaan dan penyimpanan benda budaya yang tersimpan dalam bangunan, patung serta artefak peninggalan sejarah dan budaya.  Selain Jakarta terdapat pula pusat-pusat perkembangan seni budaya khususnya seni rupa di kota Yogyakarta dan Bandung. Ketiga kota tersebut didukung dengan adanya lembaga pendidikan yang fokus pada peningkatan dan pengkajian seni , di Jakarta terdapat Institut Kesenian Jakarta (IKJ), di Bandung ada Institut Teknologi Bandung (ITB) dan di Yogyakarta terdapat Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Yogyakarta). Perkembangan seni rupa nusantara sangat dipengaruhi oleh ketiga kota ini, sehingga muncullah sebuah penyataan jika ingin mengambangkan kemampuan seni harus hijrah ke salah satu kota ini. Pernyataan ini terbukti benar, sebagai contoh seorang seniman di Bali akan mudah untuk berkembang ketika dia hijrah ke Yogya, karena ketika dia hanya tetap berada di Bali akan sedikit banyak terbentur dengan aturan agama Hindu sama halnya dengan Sumatera Barat yang akan terbentur dengan aturan agama Islam.

Berikut adalah sedikit cuplikan diskusi seni rupa yang dilaksanakan di Banda Aceh yang di bawa kan oleh seorang moderator dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh, T. Lestari. Dan tentunya sebagai inti dari kegiatan ini Galeri Nasional Indonesia mencoba mengenalkan instansi dan aktivitasnya melalui “Profil Galeri Nasional Indonesia” yang bawakan langsung oleh Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus Sukmana yang akrab dipanggil Andre. Dalam paparannya Andre mengenalkan GNI sebagai pusat perkembangan seni rupa nusantara, dimana masyarakat dapat memanfaatkan sebagai tempat apresiasi seni rupa melalui pameran, diskusi, workshop dan bimbingan edukasi yang dilaksanakan di GNI. (JM)

SOSIALISASI GALERI NASIONAL INDONESIA

BANDA ACEH, 28 AGUSTUS 2014

Kerjasama dengan

BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA BANDA ACEH

Dialog Seni

Pembicara :

  1. Tubagus Sukmana (Kepala Galeri Nasional Indonesia)

“Profil Galeri Nasional Indonesia”

  1. Mahdi Abdullah (Perupa asal Aceh)

“Sejarah Seni Rupa Aceh”

  1. Asikin Hasan (Korator GNI)

“Fenomena Seni Rupa Nusantara”

Moderator :

                T. Lestari (Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh)