Berita : Akhir Cerita Ilustrator Komik Indonesia Herry Wibowo

 

Lahir di Semarang, 8 Juni 1943, ilustrator senior asal Yogyakarta Herry Wibowo tutup usia pada Rabu, 9 Januari 2019 di Jakarta. Herry adalah sedikit dari seniman Indonesia yang konsisten menekuni bidang ilustrasi komik. 

Gambar-gambar ilustrasi Herry mengangkat cerita epos kepahlawanan, juga anak-anak. Ciri khas sekaligus kehebatannya adalah menciptakan gambar realis dengan wajah dan karakter Indonesia, khususnya Jawa. Tokoh-tokoh yang ia gambar berwajah oval, bibir tebal, tubuh cenderung pendek dan kekar, dengan detil guratan pengisi kesan volume. Gambar khas Herry itu tak muncul tiba-tiba. Ia mempelajari ilmu dan cara-cara menggambar dari literatur-literatur Barat, serta terus berlatih mencari karakternya sendiri. Selain itu, kemampuan menggambarnya juga tak lepas dari pendidikan yang ditempuh. Herry merupakan Sarjana Seni lulusan ASRI Yogyakarta (sekarang Institut Seni Indonesia Yogyakarta) pada tahun 1963, Sarjana Muda Illustrasi Grafik ASRI Yogya (1967), dan Sarjana STRI ASRI Illustrasi Grafik Yogya (1978). Ia juga menimba ilmu di Tokyo Gakugei University, Jepang (1975–1977) dan belajar bidang ilustrasi di Frije Academie Den Haag, Belanda (1982–1983).

Herry selalu tergerak untuk menggambar, di mana saja tempatnya. Bahkan menjelang akhir hayatnya, Herry masih semangat menggambar dokter yang menanganinya di salah satu klinik di kawasan Pondok Indah, Jakarta. Ratusan karya Herry meliputi cerita silat, cerita bersambung, dan cerita bergambar karangan SH Mintardja, Herman Pratikto, dan Asmaraman Kho Ping Ho telah menghiasi berbagai surat kabar era 1960-1980-an. Karyanya yang populer adalah ilustrasi cerita silat bersambung "Api di Bukit Menoreh" karangan SH Mintardja yang diterbitkan harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, selama puluhan tahun. Karya-karya tersebut sempat dipamerkan dalam pameran bertajuk "Garis-garis Liris Ilustrasi Karya Herry Wibowo" di Bentara Budaya Yogyakarta (2000). Karya Herry lainnya yang cukup dikenal adalah Nagasasra Sabuk Inten, Naga Geni, Mahesa Wulung, Kisah Perjuangan Nyi Ageng Serang (diterbitkan Depdikbud tahun 1987/1988), dan Bendhe Mataram. 

Karya Herry yang cukup banyak itu, sayangnya tidak banyak karya asli yang tertinggal. Pada 1960 hingga 1970-an, Herry selalu menyerahkan karya asli kepada penerbit atau surat kabar, sebab saat itu belum ada mesin foto kopi. Sedangkan penerbit atau surat kabar hampir tidak menyimpan gambar aslinya setelah dicetak atau diterbitkan. Meski demikian, hal ini agak terobati dengan penerbitan kembali dan pencetakan ulang beberapa karya Herry. Di antaranya "Api di Bukit Menoreh" yang mencapai 375 jilid, dan serial Bendhe Mataram karangan Herman Pratikto.

Tak hanya sebagai illustrator, sesepuh Paguyuban Kartunis Yogyakarta (PAKYO) ini juga mengajar di Program Studi Seni Murni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta dan beberapa perguruan tinggi seni swasta di Yogyakarta. Ia juga kerap menulis tentang seni rupa dan diterbitkan di surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Minggu Pagi. Harry juga aktif berpameran di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, dan Denpasar.

 

*dsy/GNI

 

 

Sumber:

http://mimbar2006.blogspot.com/2006/03/herry-wibowo-ilustrator-nagasasra-dan.html

https://www.facebook.com/sujuddartanto

https://web.facebook.com/kuss.indartoaseli/posts/1615088641957103

https://books.google.co.id/books?id=4Cb91XoxoW0C&pg=PA177&lpg=PA177&dq=herry+wibowo+isi+yogya+lahir&source=bl&ots=Chwb5XdmZ7&sig=J-K4ty5yZkHZhiaij8Nok2hZYpU&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwj5kpyE_OLfAhVKMY8KHd5EC50Q6AEwB3oECAcQAQ#v=onepage&q=herry%20wibowo%20isi%20yogya%20lahir&f=false

https://news.detik.com/jawatengah/4378692/herry-wibowo-ilustrator-komik-nagasasra-sabuk-inten-wafat

https://news.detik.com/jawatengah/4378714/kisah-herry-wibowo-karya-hilang-karena-tak-ada-mesin-foto-kopi