Berita : Mengenang Sapardi Djoko Damono

“Pada suatu hari nanti

Jasadku tak akan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini

Kau tak akan kurelakan sendiri”

(Pada Suatu Hari Nanti, Sapardi Djoko Damono)

Minggu 19 Juli 2020, dunia sastra Indonesia kehilangan sosok maestro Sapardi Djoko Damono. Sastrawan kelahiran 20 Maret 1940 ini mengembuskan nafas terakhir pada usia 80 tahun. Sepanjang hidupnya, Sapardi dikenal sebagai penyair, kritikus sastra, budayawan, dan akademisi.  

Lahir di Surakarta, Sapardi kecil mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) Kraton Kasatriyan dan SMP Negeri II Solo. Ketertarikannya di bidang sastra sudah terlihat sejak SMP, dan semakin menonjol saat ia menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.  Ia juga sempat meneruskan studi tentang humaniora di University of Hawaii pada 1970-1971. Kemudian di tahun 1989, Sapardi memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra dengan disertasi berjudul Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur. Pada tahun 1995, Sapardi duduk sebagai guru besar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Selain menyukai buku, Sapardi juga dekat dunia dengan seni rupa. Salah satu fakta menarik adalah persahabatannya dengan sosok seniman Jeihan Sukmantoro. Menurut Sapardi, ia dan Jeihan sudah bersahabat sejak SMA, dan keduanya sudah berjanji menjadi ‘Sahabat Sampai Kiamat’. Sosok Jeihan pula yang menerbitkan buku pertama Sapardi, Duka-Mu Abadi (1969).

Sepanjang hidupnya, Sapardi telah banyak menelurkan karya. Mayoritas di antaranya adalah buku kumpulan sajak, antara lain: Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), Ayat-Ayat Api (2000), Mata Jendela (2000), Pengarang Telah Mati (2001), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro (2003), dan Kolam (2009).

Selain menerbitkan puisi, SDD juga aktif menulis buku mengenai ilmu sastra, yaitu Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979), Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999), Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah, Fungsi, dan Isi (1996), Sihir Rendra: Permainan Makna (1999), dan Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan: Sebuah Catatan Awal.

Sapardi juga seorang penerjemah sastra yang piawai, terlihat dari beberapa karya terbitannya seperti Lelaki Tua dan Laut (1973, terjemahan karya Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975, terjemahan karya George Seferis), Sayap-Sayap Patah (2008, terjemahan karya Khalil Gibran), Daisy Manis (terjemahan karya Henry James), dan Amarah (terjemahan karya John Steinbeck).

Selain aktif melahirkan karya, Saparadi juga banyak berpartisipasi dalam organisasi kesenian seperti menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta, pelaksana harian Pusat Dokumentasi HB Jassin, dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Jasanya juga besar bagi dunia sastra Indonesia dengan aktif memprakarsai berdirinya beberapa yayasan, seperti Yayasan Lontar dan Yayasan Puisi, serta Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI).

Dari kariernya sebagai sastrawan sudah banyak penghargaan yang diraihnya, yakni Cultral Award (1978), Anugerah Puisi Putra Malaysia (1983), SEA Write Award (1986), Kalyana Kretya dari Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia (1996),  The Achmad Backrie Award for Literature (2003), dan Khatulistiwa Award (2003).

*cki/GNI

 

Referensi teks:

https://www.idntimes.com/news/indonesia/fitang-adhitia/biografi-singkat-sapardi-djoko-damono-penyair-legendaris-indonesia/5

https://sastrawacana.id/biografi-sapardi-djoko-damono/

https://tokoh.id/biografi/1-ensiklopedi/penyair-kaliber-dunia/