Berita : KamiSketsa Galnas On the Spot Sambangi Museum Sumpah Pemuda

 

KamiSketsa Galnas On the Spot sambangi Museum Sumpah Pemuda di kawasan Kramat Raya Jakarta Pusat, pada Kamis, 12 April 2018. Diceritakan Edukator Bakti Ari, bangunan museum ini awalnya merupakan rumah tinggal Sie Kong Liang yang didirikan pada awal abad ke–20. Rumah tersebut disewakan kepada para pelajar yang kemudian menjadi tempat berkumpulnya para pemuda dan menjadi cikal bakal peristiwa Sumpah Pemuda.

Unsur sejarah yang begitu kental melekat dengan bangunan Museum Sumpah Pemuda membawa ketertarikan tersendiri bagi para peserta KamiSketsa Galnas On the Spot. Dituturkan sketcher yang menjadi peserta KamiSketsa Galnas On the Spot Daniel Nugraha, di Museum Sumpah Pemuda banyak teknik sketsa yang dapat dipelajari dari objek-objek yang dipamerkan. “Kita bisa mempelajari bagaimana cara menggambar sketsa landscape dari pemandangan gedung bagian depan, drama dari diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah, model dari patung-patung tokoh yang berperan penting dalam peristiwa Sumpah Pemuda, serta close up dari benda-benda berupa biola, vespa, sepeda, dan radio zaman dulu,” paparnya.

Di museum ini, para peserta ditantang untuk menggambar sketsa menggunakan media cat air. Objek yang digambar ditentukan sesuai dengan keinginan masing-masing peserta. Ada yang berkumpul di sudut halaman depan untuk mendapatkan pemandangan terbaik struktur bangunan khas Museum Sumpah Pemuda. Ada juga yang berkelompok di halaman belakang untuk menangkap objek-objek unik seperti jendela panjang khas gaya kolonial, dan meja–kursi bergaya vintage

Beberapa peserta tampak tertarik menggambar patung tokoh-tokoh yang berperan dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Peserta lainnya memilih menggambar sketsa biola asli W. R. Supratman. Tak ketinggalan, diorama Kongres Pemuda Kedua yang merekam momen dikumandangkannya Lagu Indonesia Raya untuk pertama kali juga menjadi sasaran objek menggambar sketsa. 

Tak hanya menggambar sketsa, para peserta juga berlatih untuk menyempurnakan karya mereka menggunakan cat air. Menurut Daniel, menggunakan cat air bisa dengan dua teknik. Teknik pertama adalah dengan menggunakan warna-warna terang terlebih dahulu seperti sketsa cat air pada umumnya, sedangkan yang kedua justru diawali menggunakan cat air warna-warna gelap. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. “Teknik dari terang ke gelap, dimensinya didapatkan di akhir. Sedangkan kalau dari gelap ke terang, dimensinya lebih cepat tertangkap, namun membutuhkan kcepatan,” ujarnya.

KamiSketsa Galnas On the Spot merupakan program edukasi khususnya menggambar sketsa yang diinisiasi dan diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia setiap satu bulan sekali. Program ini merupakan bagian dari KamiSketsa Galnas yang dilaksanakan setiap Kamis di Galeri Nasional Indonesia.

 

*dsy/GNI