Press Release : Pameran Solo Triyadi Guntur Wiratmo “BETWEEN THE LINES”

Unduh Katalog Between The Lines

TANGGAL                  : 10 – 23 April 2017    
PEMBUKAAN            : 10 April 2017, Pukul 19.00 WIB (Gedung D)
PAMERAN                 : 11 – 23 April 2017, Pukul 10.00 – 18.00 WIB
                                     *Tutup pada Hari Libur Nasional
TEMPAT                     : Galeri Nasional Indonesia (Gedung D)
PENYELENGGARA    : Rachel Gallery, Jakarta bekerja sama dengan Galeri Nasional Indonesia
SENIMAN                   : Triyadi Guntur Wiratmo
KARYA                        : 15 buah lukisan (mix media)
KURATOR                  : Rizki A. Zaelani
ARTIST TALK             : 22 April 2017, Pukul 15.00 – 17.00 WIB (Gedung D)

 

Lukisan-lukisan Guntur memiliki kecenderungan dengan kekuatan gambar (drawing) dan berusaha untuk membingkai semacam proses interaksi visual dengan pengamatnya dalam tema-tema yang ia kumpulkan dari berbagai persitiwa hidup yang secara umum berkaitan dengan pengalaman dan pemahaman tentang sejarah. Karya-karya Guntur Triyadi, yang juga dikenal luas sebagai seorang ilustrator berpengalaman, langsung terasa komunikatif serta mengundang setiap orang untuk terlibat dalam gambaran situasi sosial budaya tengah hidup kini. Karya-karya ini seakan berusaha untuk mempertemukan kembali ingatan kita pada momen-momen sejarah yang kini hidup dalam bingkai pemaknaan yang tak lagi persis sama. Kekuatan ekspresi karya adalah satu hal; sedang respon penerimaan setiap apresian adalah soal yang lain; terhadap karya-karyanya Guntur mempersilahkan setiap orang untuk menemukan dan menikmati kesimpulan sendiri yang bersifat terbuka. Bagi saya, ia sebenarnya tengah mengilustrasikan semacam cara pengertian atau penerimaan mengenai situasi persoalan kini yang tak mudah untuk dijelas-jelaskan. Guntur memang bukan hanya seorang ilustrator ulung, tapi juga seorang seniman yang berusaha meraba fungsi penting ekspresi seni bagi hidupnya, termasuk kepekaan sosial dan kultural yang bernilai penting.

Judul “Between The Lines” pameran ini bukan hanya bermakna ideomatik sebagai ‘sesuatu yang tersirat’, sebagaimana kita diundang untuk melihat apa yang tak terlihat pada lukisan-lukisan Guntur; tetapi juga menjadi ‘demontrasi’ bagi semacam pengalaman menikmati ketertiban, harmoni, dan keterampilan dalam kontras dan penumpukan garis-garis yang dikerjakan secara intens. Ungkapan visual memang punya ciri kekuatan penyampaian yang berbeda dengan tata ungkapan bahasa tekstual; pesan visual yang bersifat ikonik (berbentuk gambaran yang realistik) tak hanya lebih cepat menyampaikan maksud tetapi juga sekaligus bersifat lebih terbuka untuk ditafsirkan secara aktif. Gambaran tentang beberapa sosok yang ditunjukkan Guntur rasanya tak akan cukup jika hanya dijawab dengan pengertian dan kesimpulan yang bersifat tertutup atau final. Berbagai ekspresi yang tersurat di setiap karya-karya itu —yang terasa bersifat satir sekaligus dramatik—justru akan terus mengudang seseorang terlibat dalam mengenal dan merasakan kedalaman persoalan yang tersirat pada pemukaan kanvas-kanvasnya. Karya-karya ini menarik karena tak hanya akan membawa seseorang pada lintasan perjalanan waktu (dulu dan kini); tetapi juga menempatkan tiap-tiap tanggapan pada cara interaksi yang akrab dan dekat di dalam ruang kesimpulan yang bersifat obyektif tapi juga subyektif. 

Rizki A. Zaelani | Kurator