Berita : Jelajah Jalur Perdagangan Kuno dalam Karya Priyaris Munandar

 

Aktivitas perniagaan bukanlah soal yang biasa dibicarakan dalam dunia seni rupa. Namun di tangan Priyaris Munandar, perniagaan bisa diterjemahkan ke dalam 36 lukisan yang kini ditampilkan di Gedung A Galeri Nasional Indonesia dalam pameran tunggal bertajuk “Napak Tilas Peradaban”.

Perniagaan menjadi sebuah contoh dari hal besar yang hendak ditunjukkan Priyaris lewat goresan catnya, yakni konektivitas. Seni rupa dan konektivitas menurut kurator pameran Wahyudin, adalah hal yang tak bisa dipisahkan. Konektivitas bisa memicu inspirasi dalam berkesenian, seperti yang terjadi pada Priyaris, dan sebaliknya seni juga bisa mendorong terjadinya konektivitas, seperti dalam budaya dan ilmu pengetahuan.

Konektivitas yang dihadirkan Priyaris lewat lukisan-lukisannya ada dalam konteks perdagangan masa lampau yang kini tinggal menjadi jejak sejarah, karena itulah ia menamai pamerannya sebagai “Napak Tilas Peradaban”. Seperti layaknya pengembara masa lampau, Priyaris mencoba ‘mengunjungi’ jalur-jalur kuno ini dari berbagai literatur, film, dan artefak yang kemudian diterjemahkannya ke dalam kanvas dengan menggunakan tiga teknik berkeseniannya, 3M: Mencipta, Merusak, dan Menghias. 3M merepresentasikan tiga dewa tertinggi dalam agama Hindu, atau Trimurti. Priyaris akan mengawali prosesnya dengan mencipta lukisan bergaya realis, kemudian dirusaknya dengan cara digores atau ditutupi dengan cat kembali, dan terakhir adalah menghiasnya kembali sehingga tampilan akhir lukisan lebih menjurus ke gaya impresionis. 

“Napak Tilas Peradaban” memamerkan sepuluh rute perniagaan kuno. Sepuluh rute tersebut adalah Jalur Tokaido (antara Kyoto menuju Tokyo), Jalur Sutra, Jalan Raya Pos, Jalur Rempah, Jalur Perdagangan Teh, Jalur Unta, Jalu Perdagangan Batu Amber, Jalur Garam, Jalur Timah dan Perunggu, serta Jalur Trans Sahara. Mendampingi lukisan-lukisan Priyaris, turut ditampilkan pula beberapa artefak dan buku-buku yang menyertai riset dalam menyusun pameran “Napak Tilas Peradaban” ini, sehingga pengunjung bisa turut menyaksikan bagaimana informasi-informasi kemudian diterjemahkan Priyaris ke dalam sebuah visual yang menggugah.

Fokus Priyaris pada tema perniagaan ini turut menggugah Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Enggartiasto Lukita yang hadir meresmikan Pameran “Napak Tilas Peradaban”. Dalam pidatonya saat pembukaan pada Selasa malam (25/6/2019), Enggartiasto memuji Priyaris yang secara begitu intens mengolah aktivitas perdagangan menjadi karya seni yang indah dan menggugah.

Pameran Tunggal Priyaris Munandar “Napak Tilas Peradaban” diselenggarakan atas kerja sama Sarasvati Art Communication & Publication, Galeri Nasional Indonesia, Studio Lir Ilir 234, dan PT. Pos Indonesia. Pameran ini masih berlangsung di Gedung A Galeri Nasional Indonesia hingga 15 Juli 2019. Pengunjung dapat mengapresiasi pameran ini setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 19.00 tanpa dipungut biaya.

 

*cki/gni