Berita : Menjelang 40 Tahun Panji Koming, Kartunis Dwi Koen Berpulang

 

Kartunis Indonesia Dwi Koendoro Brotoatmojo, berpulang pada usia 78 tahun di Tangerang Selatan, Kamis (22/8/2019). Ia dikenal lewat komik strip Panji Koming dan Sawung Kampret.

Dwi Koen, sapaan akrabnya, menciptakan tokoh Panji Koming atas saran kartunis yang merupakan rekan sejawatnya yang telah dekat semenjak kuliah, almarhum GM Sudarta. Panji Koming diterbitkan surat kabar Kompas edisi Minggu sejak 14 Oktober 1979. Koming selain merupakan singkatan dari ‘Kompas Minggu’, juga diartikan sebagai ‘bingung’ atau ‘gila’. Panji Koming digambarkan sebagai pemuda kelas menengah bawah dengan karakter lugu dan peragu. Bersama Panji Koming , dalam komik tersebut dimunculkan kekasihnya yaitu Ni Woro Ciblon yang cantik, penyabar, dan pendiam; teman setia yaitu Pailul yang agak konyol namun berani dan terbuka yang memiliki kekasih bernama Ni Dyah Gembili dengan gaya bicara terus terang; tokoh protagonis yaitu Mbah yang seorang ahli nujum; tokoh antagonis Denmas Arya Kendor yang seorang birokrat gila jabatan dan kerap menjadi bahan lelucon; serta seekor anjing buduk dijuluki Kirik–anak anjing dalam bahasa Jawa. Meski berlatar lampau pada masa Kerajaan Majapahit sekitar 500-an tahun yang lalu, namun cerita yang disajikan Panji Koming dikaitkan dengan peristiwa aktual di Indonesia terutama pada masa Orde Baru dan setelahnya.

Hampir serupa dengan Panji Koming, Sawung Kampret juga mengambil setting masa lampau untuk menyajikan peristiwa hari ini. Bedanya, Sawung Kampret digambarkan hidup pada masa kolonial awal abad ke-17. Komik ini bercerita tentang Pendekar Sawung Kampret bersama rakyat jelata yang melakukan perlawanan dengan cara ‘membuat repot’ VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang dipimpin Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen.

Dwi Koen kelahiran Banjar, Jawa Barat, 13 Mei 1941 memang telah memiliki bakat seni yang diturunkan dari keluarganya. Ia adalah salah satu keturunan pujangga besar di Kasunanan Surakarta, R. Ng. Ranggawarsita (1802-1873). Dwi Koen banyak mempelajari pengetahuan awal tentang menggambar dari ayahnya, R. Soemantri Brotoatmodjo yang seorang sarjana teknik dan jago menggambar teknik. Sedangkan dari ibundanya yang seorang perias pengantin, Dwi Koen belajar tentang ketelatenan dan ketelitian dalam proses berkarya. Salah satu paman dari garis ibunya juga cakap menggambar dan melukis. Alhasil, Dwi Koen pun tumbuh menjadi sosok yang dekat dengan seni. Terlebih ia memilih berkuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), sekarang Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Mulanya ia mengambil Jurusan Seni Lukis, kemudian pindah ke Ilustrasi Grafik (sekarang Seni Grafis dan Desain Komunikasi Visual). Karena itu periode kuliahnya cukup panjang, antara 1958 hingga 1965.

Saat kuliah, Dwi Koen sempat bekerja mengisi ilustrasi di media cetak di Yogyakarta, di antaranya Waspada, Minggu Pagi, dan Kedaulatan Rakyat, mulai sekitar tahun 1958. Kemudian ia pernah bekerja sebagai pembina tetap siaran anak-anak dan remaja di RRI Surabaya. Dwi Koen bergabung dengan Kompas Gramedia pada tahun 1976 sebagai tata artistik dan illustrator. Di tempatnya bekerja itu, ia manapaki karier sebagai Kepala Bagian Produksi PT Gramedia Film (1979-1983), Kepala Bagian Audio Visual PT Gramedia Film bidang dokumenter, film iklan, animasi, dan grafis serta slide program dan studio perekaman (1984), dan staf redaksi Harian Kompas.

Di Harian Kompas inilah Dwi Koen semakin dikenal melalui tokoh kartun Panji Koming yang komik stripnya diterbitkan secara berkala dan konsisten sampai sekarang (2019), terhitung hampir 40 tahun. Komik Panji Koming terbitan Kompas Minggu, 18 Agustus 2019 menjadi yang terakhir sebelum Dwi Koen meninggal. Meski demikian, kisah hidup Panji Koming rencananya akan dilanjutkan oleh ketiga anaknya.

Dedikasi dan ketekunan Dwi Koen dalam bidang seni rupa terbayar dengan dipilihnya Panji Koming sebagai gambar perangko Indonesia tahun 1999. Selain itu, ia juga menerima penghargaan International Animation Festival Hiroshima 1994 atas kerja kreatifnya. Karya-karya komiknya juga banyak dijadikan sebagai bahan penelitian oleh mahasiswa. Perjalanan panjang Dwi Koen dan karya-karyanya merupakan jejak dedikasi berkeseniannya yang tak akan lekang oleh zaman.

 

*dsy/GNI/bbs

 

---------------

Referensi teks:

http://fsr-isi.net/selamat-jalan-pak-dwi-koen/

https://www.kompas.com/tren/read/2019/08/22/072820765/dwi-koen-pencipta-panji-koming-kompas-minggu-meninggal-dunia?page=all

https://www.viva.co.id/showbiz/gosip/1176056-mengenal-sosok-dwi-koen-pencipta-komik-panji-koming-yang-wafat