Berita : Berpulang, Seniman Kota Kembang Nana Banna

 

Seniman multitalenta, Nana Banna dikabarkan berpulang pada Senin, 20 Agustus 2018, dalam usia 76 tahun. Ia merupakan seorang pelukis, ilustrator, dan juga akademisi.

Nana Bana lahir di Bandung, 22 Februari 1942. Setelah lulus SGA atau Sekolah Guru Atas (1960), ia melanjutkan pendidikan di Jurusan Seni Rupa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FFBS) IKIP Bandung (kini UPI – Universitas Pendidikan Indonesia). Selain menempuh pendidikan formal, Nana juga mendapat bimbingan dari Popo Iskandar dan Barli. Selama menjadi mahasiswa, Nana aktif membuat gambar ilustrasi dan rencana sampul beberapa penerbit di Bandung, diantaranya Kiwari, Ganaco, Cupumanik, Rahmat Cijulang, Girimukti Pasaka, Pustaka Jaya, Aries Lima, dan lain sebagainya. Selain itu ia juga menjadi ilustrator beberapa koran dan majalah di Jakarta dan Bandung, seperti Harian Mandala, Mingguan (Majalah) Sunda, Majalah Gondéwa, Manglé, Majalah Mimbar, dan Majalah Budaya Jaya. Nana juga sempat membuat desain untuk motif tekstil (1980–1984).

Selain sebagai ilustrator, Nana juga menjadi pengajar di almamaternya IKIP Bandung (1964–1998). Karirnya sebagai pengajar berlanjut saat ia berkesempatan menjadi Recident Artist sekaligus mengajar di Cempaka School di Kuala Lumpur dan Cheras, Selangor, Malaysia (2008–2010).

Ilustrasi dan dunia akademis tak membuat Nana kehabisan waktu untuk melukis. Nana yang pertama kali melukis pada tahun 1960 ini kerap menggunakan cat minyak untuk menghasilkan lukisannya yang identik dengan warna-warna lembut. Tentang aliran, Nana menegaskan lukisan tidak dapat dikelompokkan, “Mungkin lukisan saya beraliran realis, dan bisa juga beraliran impresionis,” katanya.

Lewat lukisan, Nana telah berpameran di banyak kota. Pameran pertamanya adalah pameran lukisan di Jakarta (1973). Setelah itu ia berpameran dengan menyinggahi Bandung, Jakarta, Semarang. Yogyakarta, Surabaya, Medan, Singapura, Kuala Lumpur (Malaysia), Manila (Filipina), Bangkok (Thailand), Brunei Darussalam, New York (Amerika), Solothurn (Swiss), dan Osaka (Jepang).

Selama hidupnya, tercatat lebih dari 83 pameran tunggal dan bersama telah dilakoni Nana. Beberapa pameran bersama yang ia ikuti antara lain “Bandung Exhibition” Patterson Art Gallery, Westfield, New York, USA (1976); “Indonesian Art Exhibition” Alleghany College, Meadville Pa, USA (1976); “Artasia Exhibition of Painting” Schopfgalerie, Solothurn, Switzerland (1981); “Simponi Nuansa dan Warna” (1989); “The Asean Travelling Exhibition of Painting, Photography and Children’s Art”, Brunei Darussalam, Jakarta, Kuala Lumpur, Manila, Bangkok dan Singapura (1991–1992); “Nana Banna and Yus Rusamsi Paintings Exhbition” Tachibanna Gallery, Sinsaibashi, Osaka, Jepang (1992); “Nuansa Sepuluh” (1997); dan banyak lagi pameran bersama lainnya.

Sedangkan pameran tunggalnya pertama kali digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1993), kemudian disusul beberapa pameran tunggal lainnya yang diselenggarakan hampir setiap tahun di berbagai galeri seperti Galeri Tachibana, Osaka (1992); Galeri Blanche, Ikéda Shi, Osaka, Jepang (1998), dan galeri-galeri lainnya. Baru-baru ini Nana masih sempat menggelar Pameran Lukisan “Kedamaian, Kebersamaan, dan Kasih Sayang” Karya Nana Banna di Bandung (2015).

Sebagai seorang seniman, Nana tak hanya mengekspresikan gagasan seninya lewat lukisan, ilustrasi, maupun metode mengajar. Ia juga sempat membuka Galeri “Idea” di rumah ayahnya di Jl. Pungkur 155 Bandung (1971) sebagai wadah ekspresi seninya. Galeri ini merupakan galeri pertama di Bandung pada masa pascakemerdekaan. Sayangnya galeri tersebut hanya bertahan dua tahun disebabkan belum tumbuhnya minat masyarakat terhadap lukisan kala itu. Dedikasi Nana terhadap kesenian diakui insan seni melalui penghargaan Raden Saleh Prize untuk seni grafis dalam Pameran Budaya Generasi Muda di Gelanggang Generasi Muda Bulungan, Jakarta yang diterimanya pada 1972.

 

*dsy/GNI

 

Sumber:

Facebook Tubagus Andre Senimedia

https://lukisanku.id/nana-banna/

https://nanabanna.wordpress.com/about/ dengan menyadur dari buku berjudul ”Ensiklopedia Sunda Alam, Manusia dan Budaya”, terbitan Pustaka Jaya; dan buku ”Apa Siapa Orang Sunda”, Editor Ajip Rosidi, terbitan Kiblat

http://arcom.co.id/2015/06/nana-banna-pamerkan-20-lukisan-di-prama-grand-preanger/

http://gallery-nanabanna.co.id/#tentangsaya