Berita : Pameran Keramik Terbesar di Asia Tenggara Suguhkan Instalasi Keramik Hingga Karya yang Dapat Dimakan

 

Awal tahun 2017, Galeri Nasional Indonesia menawarkan wisata seni edukasi melalui Pameran The 4th Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB-4). Pameran yang digelar mulai 7 Desember 2016 ini merupakan perhelatan seni keramik kontemporer dua tahunan (biennale) terbesar di Asia Tenggara.

Sebanyak  41 seniman dari 20 lebih negara di belahan benua Asia, Australia, Eropa, dan Amerika ikut serta dalam pameran berskala internasional ini. Para seniman tersebut menyuguhkan sejumlah karya-karya berbasis tanah liat dalam berbagai bentuk. Mulai dari instalasi keramik hingga video art. Uniknya, ada pula kue-kue kering dan roti berbahan tanah liat yang dapat dimakan. Juga ravioli berbahan campuran bayam, butter, dan tanah liat. Tak lain adalah karya Masha Ru dan Dina Roussou, masing-masing merupakan seniman asal campuran Rusia–Belanda dan Yunani–Belanda. Kolaborasi mereka dalam karya berjudul EAT*A*BLE episode 9: Cooking Clay mampu menarik perhatian pengunjung. Tak ayal, banyak juga pengunjung yang mencicipi resep makanan tanah liat mereka.

Diungkap Nurdian Ichsan, salah satu kurator pameran, JCCB kali ini berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Tanpa direncanakan pihak penyelenggara, sekitar 60 persen peserta pameran merupakan seniman asal luar negeri. Dari keseluruhan seniman peserta pameran, separuhnya diundang secara khusus, separuh sisanya merupakan seniman residensi. Selain itu, persiapan pameran ini memakan waktu lebih lama dari pameran-pameran sebelumnya, yaitu satu tahun lebih, mulai Oktober 2016 atau sekitar 14 bulan. “Dari segi konsep, bienial keramik yang sekarang lebih berkaitan dengan aspek politik seni keramik. Pameran ini melihat clay itu sudah ada, berhubungan dengan tubuh, apa yang seniman pikirkan tentang clay, dan apa yang seniman pikirkan dari keramik yang sudah jadi tersebut,”papar pria yang akrab disapa Sansan itu.

Ditambahkan Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus ‘Andre’ Sukmana, keramik memiliki sejarah yang panjang, seni keramik berkelanjutan, tetap eksis, terus berkembang, bukan hanya menjadi media untuk menciptakan karya-karya baru, melainkan juga melahirkan penampilan dan perwujudan baru seperti yang ditampilkan dalam pameran ini. “Semoga pameran ini dapat menjadi apresiasi, dapat melahirkan wacana-wacana baru, serta memperluas wawasan baik terhadap seniman maupun publik luas”, tuturnya.

Pameran JCCB-4 masih dapat dikunjungi hingga 22 Januari 2017 di Gedung A, B, dan C Galeri Nasional Indonesia, mulai pukul 10.30 sampai 18.00 WIB. Selain pameran, JCCB-4 juga dilengkapi dengan seminar, Artist Talk, dan Gallery Tour. Bagi pengunjung yang berminat untuk belajar membuat dan mewarnai keramik dapat mengikuti workshop yang dipandu Ganara Art Space pada akhir pekan. Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat membawa buah tangan kreasi keramik di pop up store Kelontong Keramik bertempat di Art Shop Galeri Nasional Indonesia.

*naj/ind/dsy/GNI