Berita : I Nyoman Gunarsa ‘Si Tangan Emas’ Tutup Usia

“Melukis garis sebagaimana saya bernyanyi, saya meletakkan warna sebagaimana saya menari” — I Nyoman Gunarsa


Bali dan gaya ekspresionis menjadi suatu simpul terikat dalam inspirasi berkesenian bagi seorang I Nyoman Gunarsa. Karya - karya Nyoman sejak awal berkecenderungan ekspresionis, kemudian berkembang dari tema keseharian tradisi Bali, abstraksi sesaji (offering), deformasi aringgit (wayang), gerak-gerak penari, kemudian mensintesiskan semua bentuk sesaji, aringgit, dan penari tersebut. Konsistensinya mengeksplorasi kesenian Bali inilah yang membedakan sebagian besar karya lukis Nyoman Gunarsa dari pelukis lainnya. 

Lahir di Klungkung, Bali pada 1944, Nyoman Gunarsa mengasah bakat seninya dengan belajar melukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Setelah menjadi alumnus, ia turut aktif mengajar sebagai dosen di alamamaternya. Pada tahun 1970, Nyoman mendirikan Sanggar Dewata Indonesia yang menjadikan Bali sebagai tema sentra pada karya-karya anggotanya. Berlanjut pada 1989, Nyoman mendirikan Museum Seni Lukis Kontemporer Nyoman Gunarsa Yogyakarta. Ia juga mendirikan Museum Seni Lukis Klasik Nyoman Gunarsa Klungkung, Bali, yang diresmikan pada 1994.

Sebagai seorang seniman, Nyoman Gunarsa aktif mengadakan pameran tunggal. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di Malaysia, Australia, Belanda, Jepang, Singapura, Prancis, Monako, dan USA. Selain melalui pameran, jejak berkeseniannya juga dicatat dalam buku berjudul Color of Nyoman Gunarsa (1993), Nyoman Gunarsa (1995), dan Nyoman Gunarsa Moksa (2004). 

Pencapaian Nyoman dalam dunia seni rupa juga diapresiasi melalui berbagai penghargaan seperti Pratisara Affandi Adi Karya Art Award (1976), Karya Terbaik Biennale III dan IV Jakarta (1978 dan 1980), Lempad Prize (1980), Medali Perak Biennale I Seni Lukis Yogyakarta (1988), Dharma Kusuma Cultural Award dari Pemerintah Daerah Bali (1994), dan Satyalancana Kebudayaan Art Award dari Presiden Republik Indonesia (2003). Tak hanya itu, tujuh karya Nyoman juga telah menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia sekaligus koleksi negara. Diantaranya Calon Arang (1968), Balinese Offerings (1981), Open Ceremony I (1977), Open Ceremony II (1977), Open Ceremony III (1978), Open Ceremony IV (1973), dan Wayang (Mandalangi). Karya-karyanya juga diikutsertakan dalam beberapa Pameran Keliling Galeri Nasional Indonesia. Seperti Pameran Karya Koleksi Galeri Nasional Indonesia “Ziarah” di Yogyakarta (2015); Pameran Karya Pilihan Koleksi Galeri Nasional Indonesia dan Karya Perupa Sulawesi Tengah “Bumi Tadulako: Mareso, Maroso Rupa” di Palu, Sulawesi Tengah; dan Pameran Seni Rupa Koleksi Galeri Nasional Indonesia dan Karya Perupa Lampung “Spirit Khua Jukhai” di Lampung (2017).

Kini ‘Si Tangan Emas’ itu telah tiada. Nyoman berpulang pada Minggu, 10 September 2017. Meski raganya tak lagi didapati, namun jiwa dan semangatnya dalam berkarya akan tetap hidup dan terus menginspirasi generasi penerusnya di jagad seni rupa Indonesia. Selamat jalan, I Nyoman Gunarsa.

*fii/dsy/GNI/bbs