Berita : Mural Bersama Tandai Dimulainya Festival Bebas Batas

 

Sebanyak tujuh seniman turut andil dalam kegiatan Mural Bersama di Galeri Nasional Indonesia pada 12–14 Mei 2018. Payung, tenda, dan dinding Café Galeri Nasional Indonesia menjadi media mural bagi seniman disabel/difabel. Uniknya, gambar mural tersebut bukan sekadar corat-coret, melainkan mengusung pesan penting tentang kebinekaan dan antikorupsi. Kebinekaan tergambar melalui figur penari Bali, beragam umat beragama, juga pulau–pulau di Indonesia. Sedangkan antikorupsi mucul melalui visual teks dalam gambar mural. 

Pegiat Komunitas Art Brut Indonesia Nawa Tunggal mengatakan, “Ekspresi seni kebinekaan diangkat para seniman disabel/difabel untuk memberikan kebahagiaan dan kenyamanan dalam lingkungan sosial”. Kebinekaan menjadi wacana yang populer akhir-akhir ini sehingga para seniman ini pun tertarik untuk mengangkat dalam karya muralnya.

Kegiatan mural ini merupakan salah satu rangkaian program dalam Festival Bebas Batas. “Kami melakukan pemanasan, mengajak para perupa disabel/difabel untuk menggambar mural dengan tujuan membangun semangat dan kebersamaan” ujar Pustanto, Kepala Galeri Nasional Indonesia. 

Festival Bebas Batas diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, Ditjenbud, Kemendikbud serta didukung oleh Galeri Nasional Indonesia, Ditjenbud, Kemendikbud; Art Brut Indonesia; British Council Indonesia; PT Angkasa Pura II; PT Transportasi Jakarta; RSJD Dr. Arif Zainudin, Surakarta; RSJ Provinsi Bali; RSJ Bandar Lampung; RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang; RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, Jakarta; dan Think.Web. Sebagai puncak festival akan digelar Pameran Seni Rupa Karya Seniman Disabilitas pada 12–29 Oktober 2018 di Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini akan menampilkan sekitar 60 karya dari 60 seniman yang sebagian besar merupakan hasil seleksi terbuka (open call). 

 

*dst/dsy/GNI