Press Release : Pameran Manifesto 6.0 MULTIPOLAR

Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia MANIFESTO, program berkala yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia akan dihadirkan kembali tahun 2018 ini. MANIFESTO diselenggarakan pertama kali pada tahun 2008 dalam rangka menyambut peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Berlanjut digelar MANIFESTO kedua “Percakapan Masa” (2010), MANIFESTO #3 “ORDE dan KONFLIK” (2012), MANIFESTO No.4 “Keseharian” (2014), dan MANIFESTO V “ARUS” (2016). Meski tidak dinyatakan secara resmi, pameran ini kemudian menjadi sebuah tradisi pameran dua tahunan yang umumnya dikenal dengan sebutan biennale. Namun berbeda dengan pameran biennale seni rupa baik yang bersifat nasional maupun internasional, Pameran MANIFESTO terus dijaga ciri khas dan keunikannya sebagai pencerminan dan pemetaan arah perkembangan seni rupa Indonesia.

MANIFESTO bukanlah sekadar pameran rutin. Gelaran ini merupakan sebuah pernyataan sikap, pandangan, dan tujuan yang dikemas Galeri Nasional Indonesia dalam sebuah ekspresi seni rupa. Pameran ini bukan untuk dinikmati secara estetis saja, melainkan lebih untuk dipahami pesan dan makna yang berusaha dikuak melalui presentasi karya rupa.

2018 ini, MANIFESTO kembali disajikan untuk yang keenam kali dengan mengangkat tema “MULTIPOLAR: Seni Rupa 20 Tahun Setelah Reformasi”. Dalam tulisan tim kurator pameran ini, MANIFESTO 6.0 sesuai subtema yang diangkat, menyoal tentang refleksi seni rupa 20 tahun pascareformasi yang dimulai dari era pasca–’98 hingga kini. Seni pasca­–‘98 memunculkan berbagai ‘pengalaman estetis’ baru dari pengaruh global yang melahirkan budaya media populer dan budaya teknologi, yang pada gilirannya mengubah praktik komunikasi, interaksi, dan organisasi. Banyak pemikiran baru dan praktik seni post–reformasi dengan tema yang terbentang dari isu kritik sosial–politik hingga pencarian identitas, yang diduga lain dari angkatan pra–’98: dari yang berada di bawah situasi trauma pasca–’65 (angkatan berkelahiran ‘60–an) hingga memasuki awal milenium (angkatan berkelahiran ‘70–an). Berbagai pemikiran dan praktik tersebut bersifat multipolar, dalam artian praktik seni yang lahir dari berbagai narasi, konsep, pemikiran, serta praktik yang kian beragam dan berlangsung dengan keunikan pengalaman dari medan yang terus terhubung dengan berbagai perubahan sosial budaya, terutama pada efek yang ditimbulkan oleh lingkungan media dan teknologi akhir-akhir ini.

Pengumpulan gagasan dan pemikiran dalam rentang yang cukup panjang inilah yang membuat bingkai kurasi pameran ini menghadirkan arkeologi karya-karya seniman pasca–’98, yaitu para seniman yang berkelahiran tahun ‘80 hingga ke tahun sesudahnya. Kurasi ini hendak menawarkan suatu presentasi seni rupa yang bersifat reflektif dari masa dua dekade terakhir dari para perupa yang telah berkiprah kurang lebih dalam 10 tahun terakhir. Arkeologi karya tersebut dimanifestasikan ke dalam sekitar 61 karya berupa lukisan, patung, keramik, instalasi, grafis, fotografi, mural, dan video art, yang sebagian besar merupakan karya-karya terbaru hasil olah artistik 61 perupa yang berasal dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. Karya-karya tersebut akan dipamerkan mulai 2–17 Mei 2018, di Gedung A, B, dan D Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini akan dibuka pada Rabu malam, 2 Mei 2018 pukul 19.00 WIB. Presentasi karya juga akan dipertajam melalui Diskusi Panel yang akan digelar pada Kamis, 3 Mei 2018 di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia.

Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto berharap MANIFESTO 6.0 menjadi media apresiasi dan edukasi bagi publik, karena selain pameran, gelaran ini juga dilengkapi dengan Diskusi Panel bersama para perupa peserta pameran. Melalui pameran ini, diharapkan para perupa Indonesia dapat menunjukkan karya-karya terbaiknya untuk diapresiasi masyarakat. Karya-karya tersebut menjadi saksi dan dokumentasi sejarah bangsa Indonesia, baik dalam perjalanannya maupun perkembangan dari tahun ke tahun dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. “Semoga ‘napak tilas’ seni rupa ini menjadi sejarah baru dalam kancah seni rupa Indonesia yang menandai era masa kini, sekaligus menjadi inspirasi dan motivasi, baik bagi para perupa maupun masyarakat luas untuk terus bereksplorasi dalam menciptakan karya-karya seni rupa yang baru, dalam hal media, teknik, juga pemunculan gagasan serta isu yang penting diangkat untuk diketahui bersama demi masa depan seni rupa Indonesia yang lebih baik,” ungkap Pustanto. Bagi Galeri Nasional Indonesia, semoga dapat terus menyelenggarakan gelaran seperti ini, juga dalam hal memfasilitasi para perupa untuk mempresentasikan karya-karyanya baik di kancah nasional maupun internasional, serta memberikan layanan wisata edukasi berbasis seni-budaya khisusnya seni rupa kepada masyarakat dari berbagai kalangan.

 

Jakarta,  Mei 2018