Agenda : Pameran Maestro Seni Rupa Indonesia : Ahmad Sadali

Galeri Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan kebudayaan, akan menggelar Pameran Seni Rupa Indonesia “Sadali” – Karya | Pemikiran | Penafsiran dari tanggal 25 Juni hingga 14 Juli 2014 di Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat.

Acara Pembukaan akan diselenggarakan pada hari Rabu 25 Juni, Pukul 19.30 WIB – selesai, dimana pameran akan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Bapak Mohammad Nuh.

Pameran Seni Rupa Indonesia “Sadali” – Karya | Pemikiran | Penafsiran ini akan menampilkan karya-karya Ahmad Sadali dan 12 perupa undangan lainnya yang terdiri dari : S.Handono Hadi, Bambang Ernawan, Dadang MA, Putut W. Widodo, Irman A. Rahman, Mierza Said, Oco Santoso, Handiwirman Saputra, Dikdik Sayahdikumullah, Dwi Setya, Agung Fitriana dan Tandya R.S. Sebanyak 80 karya berupa lukisan dan installation art akan ditampilkan selama pameran ini.

Kegiatan pameran terbuka untuk umum, dimana selain kegiatan pameran, juga akan diselenggarakan beberapa rangkaian acara sebagai berikut :

  • Diskusi Seni Rupa | Kamis, 26 Juni 2014 (Pukul 09.30 WIB – selesai)
  • Gallery Tour & Artis Talk pada Sabtu, 5 Juli 2014 (Pukul 16.00 WIB – selesai) dan Sabtu, 12 Juli 2014 (Pukul 16.00 WIB – selesai)

Untuk pameran terbuka sejak 26 Juni hingga 14 Juli 2014 akan berlangsung setiap hari pada pukul 10.00 – 18.00 WIB.

PENGANTAR SINGKAT KURATORIAL :

SETAHUN SEKALI Galeri Nasional Indonesia (GNI) menyelenggarakan pameran karya salah seorang maestro atau empu yang, dipandang banyak berjasa pada perkembangan seni rupa modern Indonesia. Proyek ini juga melibatkan sejumlah perupa muda yang karya-karya-nya sejurus atau kurang lebih dekat dengan kecenderungan sang maestro bersangkutan. Proyek ini pada satu sisi sebagai pembelajaran bagi generasi masa kini, untuk melihat kembali akar sejarah seni rupa modern Indonesia. Dan di sisi lain, memberi kesempatan yang seluas-luasnya pada publik untuk menyaksikan dan mengapresiasi karya-karya bermutu tinggi. Setahun lalu, GNI menyelenggarakan pameran karya-karya S. Sudjojono, salah seorang maestro seni lukis dan juru bicara kelompok PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) yang besar jasanya dalam pengembangan seni lukis baru Indonesia.

PADA TAHUN INI, tepatnya 25 Juni 2014, tim kurator dari GNI memilih memamerkan karya-karya Ahmad Sadali . Ia adalah tokoh besar yang membangun kecenderungan seni lukis abstrak di Indonesia , dan sekaligus membuka pintu pada kemungkinan Seni Rupa Kontemporer Islam Indonesia. Ahmad Sadali adalah murid pertama Ries Mulder, seorang pelukis berkebangsaan Belanda dan dosen yang turutmembangun berdirinya Departemen Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pada awal karirnya, kecenderungan kubistik begitu kuat memengaruhi gaya lukisan Sadali. Tak dapat disangkal bahwa, itulah jejak Mulder yang tak hanya memengaruhi Sadali muda, tapi juga sejumlah murid Mulder lainnya di ITB. Kecenderungan dan gaya yang berkembang di Bandung ini mengejutkan pelbagai pihak dalam dunia seni rupa Indonesia. Pengeritik seni rupa Trisno Sumardjo dengan lantang menuding kecenderungan baru itu sebagai “Pengabdi Laboratorium Barat”. Belakangan disebut juga sebagai gaya Mazhab Bandung. Namun, seturut jalannya waktu, Sadali terus mengembangkan gagasan baru dalam karyanya, terutama setelah ia pulang dari Amerika. Kecenderungan abstrak dan kaligrafi Islam semakin kuat mewarnai karya-karya-nya.

Pameran ini ingin menunjukkan segi pemikiran dan pencapaian Ahmad Sadali, salah seorang motor utama penggerak kecenderungan seni rupa abstrak di Indonesia. Karya “abstrak geometrik Bandung” tersebut pada perkembangan lanjut mengalami transformasi menjadi kecenderungan seni rupa abstrak yang bervariasi. Para perupa muda yang berkarya abstrak di masa itu kini terbukti berhasil mendorong kecenderungan seni rupa abstrak di Indonesia menjadi bentuk khas dan memiliki konteks perkembangan lokal dan individual. Ahmad Sadali terus bekerja keras selama karirnya. Selaku perupa ia berhasil mengembangkan kemajuan karya-karyanya secara khas dan menjadi salah satu contoh penting dalam menafsirkan pemikiran dan prinsip Modernisme seni di Indonesia.

Perkembangan karya abstrak ala Sadali ini dinilai Sanento Yuliman, kritikus seni rupa terkemuka, sebagai suatu tanda penting yang memberikan ciri estetik perkembangan awal seni rupa abstrak Indonesia yang disebut lirisisme. Menurut Sanento Yuliman, Lirisisme “merupakan ungkapan emosi dan perasaan pelukis dalam mengalami dunia. Sebuah lukisan menjadi bidang ekspresi, tempat seorang pelukis seakan-akan ‘memproyeksikan’ emosi dan getaran perasaannya, merekam kehidupan jiwanya. Bidang lukisan demikian itu dipandang sebagai dunia imajinasi yang memiliki kodrat sendiri, dunia imajiner atau tak nyata.

Karya-karya Ahmad Sadali menunjukkan contoh pencapaian penting dalam proses penciptaan. Lebih jauh lagi, pada satu sisi, karya-karya-nya ikut memengaruhi perkembangan seni rupa abstrak di Indonesia hingga kini. Di sisi lain , karya-karya-nya menunjukkan tanda-tanda perintisan pengembangan seni rupa modern Islam di Indonesia. Kebudayaan dan kesenian Indonesia yang sarat mengandung pengaruh dan manifestasi nilai-nilai Islam diserap, dan dinyatakan kembali sebagai suatu penafisiran khas dan ‘original’ oleh Sadali. Hingga kini, perkembangan pesat seni rupa modern bernafaskan Islam di Indonesia, tak bisa dipisahkan dari perintisan karya-karya dan pemikirannya.

Pengaruh karya-karya Ahmad Sadali hingga kini masih terasa,melintasi tak hanya bagi para perupa yang pernah mengenal sosok Sadali secara langsung, melainkan para perupa lainnya yang mengenal warisan artistik Ahmad Sadali melalui karya-karyanya yang fenomenal. Pengaruh ini meliputi dua segi penting, mencakup fenomena yang bisa diamati secara visual melalui karyakarya, dan fondasi pemikiran yang diwariskan Ahmad Sadali, khususnya di bidang pengembangan ekspresi seni rupa Islami di Indonesia.

Pameran ini juga didukung para perupa yang karya-karya-nya sebagai bentuk penafsiran, atau tepatnya penghargaan, terhadap peran dan pengaruh karya-karya serta pemikiran Ahmad Sadali. Dua pokok utama yang diwariskan Ahmad Sadali menyangkut persoalan (i) abstraksi dan (ii) tendensi artistik. Perkembangan karya-karya Ahmad Sadali menunjukan beberapa prinsip berkarya yang hingga kini dikenal sebagai proses abstraksi. Proses ini meliputi tiga jejak-jejak visual yang khas meliputi: (a) penampakan jejak dan efek visual sapuan cat yang bersifat ekspresif; (b) proses penyederhanaan bentuk yang secara visual bisa dikenali sebagai suatu pola perencanaan struktur bidang dan bentuk; serta (c) permainan warna dan bidang warna yang cenderung menghasilkan efek kedalaman ruang-warna. Efek permainan bidang-bidang warna inilah yang oleh Sanento Yuliman disebut sebagai lirisisme.

Kecenderungan atau tendensi artistik yang bisa kita kenali dengan segera ada pada karya-karya Ahmad Sadali menghasilkan beberapa kesan visual yang khas dan otentik. Kecenderungan pertama adalah pembentukan karya dan warna yang bersifat esensial. Meskipun Sadali sering mencampurkan atau mengaitkan pelbagai jenis warna yang bersifat kontras, dan kadang-kadang komplementer. Namun secara keseluruhan, ia ingin menghasilkan efek dan sensasi visual yang bersifat esensial. Kecenderungan kedua menyangkut logika visual yang dipikirkan Sadali. Ia selalu berusaha mencapai hasil akhir bentuk dan warna yang seimbang (balance). Meski tak jarang pada karya-karya-nya nampak pelbagai bentuk aksen atau kejutan visual yang cemerlang (misalnya: dikerjakan dengan menggunakan bahan dan warna metal emas). Tujuannya untuk menghasilkan perbandingan komposisi visual yang seimbang. Kecenderungan ketiga adalah, sensasi visual yang menggambarkan sifat serasi (harmony), dibangun dari permainan bentuk dan warna yang sangat diperhitungkan. Kecenderungan keempat, dan sangat utama pada karya-karya Sadali, adalah efek penting dari kehadiran kesan yang mendalam(depth). Apa yang disebut sebagai kecenderungan lirisisme (lyricism) oleh Sanento Yuliman bagi konteks karya-karya Ahmad Sadali, berfungsi dan bermakna lebih khusus dan personal. Sadali secara sungguh-sungguh menghubungkan ihwal cita rasa atau kekuatan perasaan itu kepada persoalan kedalaman makna nilai yang berkaitan dengan komitmen dirinya sebagai seorang muslim yang taat. Puncak pengaruh dari karya-karya Ahmad Sadali, dengan demikian, adalah sebuah tataran sikap kepemimpinan yang ditunjukkan dengan contoh bukti, a leader by example. Sebuah komitmen yang terus menerus diperjuangkannya.

Pada ruang utama pameran ini, ditampilkan 68 lukisan di atas kanvas, dengan medium utama; cat minyak, dan akrilik. Lukisan terjauh bertarikh 1940-an, dan terdekat bertarikh 1980-an, sebagian besar adalah koleksi keluarga, dan tiga koleksi GNI. Pameran didukung oleh 12 karya dari perupa masa kini; Bambang Ernawan, Dadang MA, Putut W Widodo, Irman A Rahman, Oco Santoso, S Handono Hadi, Mierza Said, Dwi Setya, Handiwirman Saputra, Dikdik Sayahdikumullah, Agung Fitriana, dan Tandya RS. Relasi karya-karya mereka terhadap karya dan pemikiran Ahmad Sadali terlihat dalamberbagai bentuk hasil persilangan di antara pelbagai warisan abstraksi dan tendensi tersebut di atas. Sebagian dari karya-karya para perupa jelas menunjukan penampakan visual yang dekat, sebagian lagi nampak seolah mencoba menafsirkannya lebih "menjauh".