Berita : Menangkap ‘Roh’ Perempuan dalam Ekshibisi “Into The Future”

 

Apa yang terbayang tentang perempuan hari ini? Bukan sekedar ibu rumah tangga yang bertransfromasi menjadi pekerja kantoran, tapi perempuan zaman ini telah banyak yang terjun menjadi seorang perupa mumpuni. Setidaknya itu dibuktikan dengan berkumpulnya 21 perupa perempuan dalam sebuah ekshibisi seni rupa bertajuk Indonesian Women Artist: Into the Future di Galeri Nasional Indonesia.

Dalam pameran hasil kerja sama Galeri Nasional Indonesia dengan Cemara 6 Galeri-Museum ini disajikan puluhan karya para perempuan muda Indonesia dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Uniknya, karya-karya instalatif berupa video art, sound art, LED light, photo media, dan coding itu mengaitkan seni, teknologi, dan sains. Kurator pameran yang juga jurnalis Carla Bianpoen mengungkap, “Roh perempuan telah mampu bersinergi dengan teknologi dan sains, hingga memulai suatu arahan seni yang baru”.

Natasha Tontey lewat From Pest to Power menampilkan karya instalasi yang mengangkat kekuatan kecoa di masa depan. Menurutnya, kecoa sebagai makhluk yang marjinal dan tersingkirkan justru merupakan satu-satunya species yang dapat bertahan dan yang mungkin saja menjadi kunci untuk masa depan yang berkelanjutan. “Karya instalasi ini terinspirasi oleh Manifesto Xenofeminism, bahwa masa depan tidak lagi berpusat pada manusia saja tetapi ikut memfokus makhluk-makhluk lainnya,” jelas Kurator pameran Citra SmaraDewi.

Serupa dengan Natasya, Irene Agrivina Widyaningrum lewat karya berjudul Tajin juga mengandalkan kekuatan sains dalam proyek seninya. Ia mengembangkan proses biologis dengan open source perangkat lunak dan perangkat keras untuk membuat pakaian yang melindungi tubuh perempuan. Melalui proses tersebut, Irene menghasilkan selulosa yang kemudian ditambah bakteri acetobacter xylinum, serta bunga bakteri dari alat kelamin perempuan. Karya ini membuktikan inovasi perempuan kekinian lewat kolaborasi kekuatan seni rupa dan sains.

Lain halnya dengan Tara Astari Kasenda. Lewat karya bertajuk Sous Les Cumulus Humilis, Tara terinspirasi oleh kekuatan teknologi. Ia ingin kembali dengan gagasan para impresionis pada abad ke-21. Menurutnya penggunaan teknologi dan media baru mampu membuat suatu inovasi baru dalam dunia seni rupa. Karya ini merupakan hasil pengamatan perubahan cahaya di langit kota Paris dan bagaimana hal itu mempengaruhi lingkungan. Tara memotret perubahan tersebut tidak kurang dari 400 kali sejak Agustus 2018, lalu ia abstraksikan ribuan warna tersebut menjadi 9 RGB dengan mengandalkan software photo editing dan coding.
Karya-karya dalam pameran ini menurut Carla menandakan semangat hari ini untuk menyongsong hari esok. “Pameran Indonesian Women Artists: Into The Future ini akan menjadi publikasi kemajuan perempuan perupa Indonesia dan dapat menjadi acuan penelitian perkembangan seni rupa Indonesia,” kata Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf saat meresmikan pameran pada Selasa malam, (26/2/2019).

Pameran Indonesian Women Artists: Into The Future masih berlangsung hingga 16 Maret 2019, mulai pukul 10.00 hingga 19.00 WIB. Selain pameran, disajikan pula program edukasi publik yaitu Bedah Buku (1/3/2019), Art Talk (9/3/2019), Diskusi Seni Rupa (14/3/2019), dan Tur Kurator 2 & 9 Maret 2019. Masyarakat dapat mengakses pameran dan seluruh program edukasi publik secara cuma-cuma.

 

*dst/dsy/GNI

 

Lihat agenda Program Edukasi Publik Pameran Indonesian Women Artists "Into The Future"