Berita : Akhir Cerita Soenarto PR, Sang Pendiri Sanggar Bambu

 

Sabutuhe, saperlune, sacukupe, sabenere, samestine, sakepenake.

(sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, sebenarnya, semestinya, senyamannya)

—Soenarto PR—

 

 

Seni rupa dirundung duka. Seniman senior Indonesia, Soenarto Prawirohardjono yang dikenal dengan nama Soenarto PR berpulang pada Selasa malam, 24 Juli 2018 dalam usia hampir 87 tahun. Pria yang lahir di Bobot Sari, Purwokerto, Banyumas 20 November 1931 ini merupakan salah satu pendiri Sanggar Bambu, tempat berkumpulnya para seniman dengan berbagai latar belakang kesenian, meliputi seni rupa, pentas teater, juga sastra. Sanggar Bambu berupaya menumbuhkan minat kesenian di kalangan remaja dan anak-anak, sekaligus mewadahi aktivitas kesenian bagi para seniman yang berbasis di kampung-kampung.

Nama Sanggar Bambu terinspirasi dari Puisi Rumah Bambu yang dipentaskan Teater Indonesia di Malang. Lirik puisi tersebut ditulis oleh Kirdjomulyo dengan iringan musik dari FX Soetopo. Lirik ini kemudian menjadi lagu Hymne Sanggar Bambu yang sempat dinyanyikan para anggota Sanggar Bambu bersama Soenarto menjelang akhir hayatnya pada Juni 2018. Sanggar ini menjadi penting dalam sejarah seni Indonesia karena menelurkan banyak seniman andal seperti Danarto, GM Sudarta, Untung Basuki, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, dan seniman tersohor lainnya. Sanggar ini juga menjadi salah satu perkumpulan yang tidak diusik saat peristiwa pembersihan organisasi masyarakat secara besar-besaran pada dekade 1960–an, karena sanggar ini menegaskan untuk tidak terkait politik sejak berdiri pada 1 April 1959. Alhasil Sanggar Bambu masih eksis hingga saat ini (2018) di Yogyakarta.

Sanggar Bambu sangat lekat dengan Soenarto. Pengalaman berkeseniannya di sanggar tersebut tak terhitung. Namun tak hanya itu yang membuat Soenarto menjadi seniman kawakan. Ia juga belajar Jurusan Seni Lukis dan Patung di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta (sekarang Institut Seni Indonesia/ISI) pada 1951-1958. Semasa kuliah, ia sempat berguru pada Trubus, Soedarso, dan Affandi. Tak heran, pria yang sempat mengajar di Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Yogyakarta ini banyak menciptakan sejumlah karya apik. Diantaranya Monumen dan relief Jenderal Ahmad Yani di Museum Sasmitaloka – Jakarta, Patung Jenderal Gatot Subroto di Berkoh–Purwokerto, Patung Ki Hadjar Dewantara, Patung Bung Tomo, Patung Monumen Latuhary di Pulau Haruku Ambon, dan 15 patung dada Pahlawan di Gedung Joang 45 di Jakarta. Selain patung, Soenarto juga memilih jalur lukis. Beberapa tokoh yang tertangkap dalam lukisannya adalah Bung Karno, Nyi Ageng Serang, Sayu Wiwit, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Fidel Castro, dan terakhir Sultan Hamengku Buwono X (2017). Soenarto menggunakan cat minyak dan cat air, namun sebagian besar karyanya menggunakan media pastel.

 

 

Perjalanan Soenarto sebagai seorang seniman cukup panjang. Ia melewati beberapa pergantian era pemerintahan, juga bertemu dengan para seniman lintas generasi. Selama itu ia terus aktif berkesenian dan berkarya. Atas dedikasinya dalam bidang seni, Soenarto mendapat penghargaan Anugerah Seniman dan Budaya dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (2016). Lima karyanya juga menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia/koleksi Negara, diantaranya “Potret Diri” (1957), pastel pada kertas, 49 x 33,5 cm; “Potret Diri I” (1972), cat minyak pada kanvas, 60 x 60 cm; “Potret Diri II” (1976), pastel pada kertas, 43 x 36 cm; “Potret Gadis” (1972), cat minyak pada kanvas, 60 x 60 cm; dan “Potret Diri” (1988), pastel pada kertas, 44 x 60 cm.

Selaman jalan Soenarto PR …

 

Sumber: