Berita : Selamat Jalan, I Wayan Sika

Kabar duka cita mengawali tahun 2020 dengan berita berpulangnya salah satu maestro seni Bali, I Wayan Sika. Perupa kelahiran Gianyar ini dikabarkan mengembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu, 4 Januari 2020.

I Wayan Sika merupakan seorang perupa yang dikenal sebagai salah seorang pendiri Yayasan Sanggar Dewata Indonesia (SDI). Sika menempuh pendidikan di SSRI Denpasar, kemudian melanjutkan belajar seni lukis di ASRI Yogyakarta. Akan tetapi sebenarnya pendidikan berkesenian Sika didapat dari sosok sang ayah yang merupakan pemahat ternama dan memiliki banyak murid. Sika mengakui ia merupakan seorang pemahat yang cakap namun seni lukis adalah passion-nya.

Dari keterampilannya memahat, Sika kemudian memiliki usaha furnitur yang terbilang cukup sukses. Ia mempekerjakan lebih dari 100 orang pemahat. Ia bahkan menjadi penyedia kebutuhan furnitur bagi orang nomor satu di Indonesia pada era Orde Baru.

Sementara itu sebagai seniman, Sika bersama dengan Nyoman Gunarsa, Made Wianta, dan beberapa pelajar ASRI lainnya mendirikan Yayasan SDI. Yayasan ini merupakan wadah bagi perupa Bali, kemudian berkembang dan diikuti oleh para seniman lulusan ASRI, untuk bereksperimen dengan teknik dan konsep estetis yang baru.

Tahun 1986 ia pergi ke Swiss untuk membuat patung dari tembaga sampai 1987. Kemudian di 1989 ia mendapatkan pesanan dari museum di Basel, Swiss untuk membuat Barong (figur sakral dalam kepercayaan Hindu Bali) untuk koleksi mereka. Pada periode ini kepala dari Christof Merian Foundation melihat hasil karya lukisnya dan mengundang Wayan Sika untuk mengikuti program International Exchange Artist. Dan pada 1989 I Wayan Sika untuk pertama kalinya menggelar pameran tunggal di Basel dan hasilnya seluruh karyanya laku terjual.

Sepulang dari kesuksesannya di Eropa, Yayasan SDI justru menghadapi kesulitan untuk menemukan tempat berpameran, karena itulah kemudian ia mendirikan Sika Contemporary Art Gallery di Ubud. Pendirian galeri ini pada 1996 juga menandai hari jadi ke-25 tahun SDI.

Pada 2001, Sika memutuskan untuk mengundurkan diri dari SDI. Sika merasa sudah saatnya ia mendedikasikan dirinya untuk fokus pada perjalanan spiritual sebagai seorang manusia dan seniman. Meskipun mundur dari kepengurusan SDI, Sika tetap aktif melukis. Menurut Richard Horstman, seorang kritikus dan konsultan seni yang mengikuti perjalanan berkesenian Sika, karya-karya yang dihasilkan perupa satu ini murni berasal dari intuisinya. Karya-karya Sika adalah perlambang dari pandangan spiritualnya, di mana penikmatnya bisa menemukan tulisan mantra dalam Bahasa Sanskerta, bendera ritual yang digunakan di Tibet, bunga teratai, serta berbagai figur dalam agama Hindu. Salah satu karyanya menjadi koleksi negara yang kini disimpan di Galeri Nasional Indonesia, bertajuk “Mystery of Nature” (2011), cat minyak pada kanvas, 145 x 200 sentimeter. Pameran terakhir yang diikuti oleh I Wayan Sika adalah Pameran “Balinese Master: Aesthetic DNA Trajectories of Balinese Visual Art” di Gedung ABBC Building (2019).

*cki/GNI

Sumber foto: www.lifeasartasia.wordpress.com

Referensi teks:

https://www.thejakartapost.com/life/2019/06/28/balinese-masters-exhibition-presents-significant-insights-into-development-of-balinese-painting.html

https://lifeasartasia.wordpress.com/2017/02/03/walking-a-unique-path-wayan-sika/

http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/wayan-sika-1