Press Release : Pameran Biografi Kesenian Apa Kabar Ibu? #2 di Galeri Nasional Indonesia

Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Komunitas 4 Perempuan serta Himpunan Mahasiswa Seni Rupa Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia akan menggelar pameran biografi kesenian bertajuk “Apa Kabar Ibu? #2” pada 17-28 November 2014. Pameran ini melanjutkan Pameran “Apa Kabar Ibu?” yang sebelumnya pernah diselenggarakan pada 2011 oleh Galeri Kita dalam skala lokal yaitu di Bandung, dengan 12 seniwati Bandung sebagai peserta pameran. Pada 2014 ini, pameran tersebut dihelat kembali untuk yang kedua kali dan berusaha diangkat dalam skala yang lebih luas dengan menggandeng Galeri Nasional Indonesia sebagai museum seni yang tidak hanya berskala nasional namun juga internasional.

“Apa Kabar Ibu? #2” bukanlah sekedar pameran yang menyajikan kekaryaan hasil olah cipta para seniwati, melainkan lebih menyoal pada aktualisasi diri dan berbagi cerita tentang aktivitas profesional para penggiat seni rupa, seni tari, seni musik, fashion, teater, dan sastra, yang meluas hingga merambah bidang management, bisnis, pendidikan dan penelitian di bidang kesenian. Pameran ini juga menginterpretasikan sebuah kesadaran untuk membuka diri, berbagi pikiran, dan pengalaman hidup berkesenian yang dijalani para penggiat seni yang kesemuanya adalah perempuan.

Istilah biografi kesenian yang terentet dalam penyebutan tajuk pameran ini dicetuskan oleh Anunsiata Srisabda sebagai kurator sekaligus penggagas program pameran ini, tidak hanya sekedar estetika kata-kata belaka. Karya-karya yang ditampilkan merujuk pada pilihan akan jejak yang pernah dilalui para seniwati, dan bekas yang barangkali memengaruhi sikap kesadaran mereka dalam memaknai hidup. Pameran ini menyuguhkan artefak aktifitas yang pernah dijalani para seniwati, sehingga kurasinya memberikan bobot lebih pada biografi kesenian seniwati ketimbang kekaryaannya.

Biografi kesenian itu akan dituangkan dalam karya lukis (art craft dan embossed), lukisan teknik bordir, sulam, batik, fashion, pertunjukan seni gerak, musik, teater, dan karya seni lainnya. Semuanya merupakan hasil olah cipta 14 perempuan penggiat kesenian tersohor yang membuat gaung dalam pameran ini. Beberapa diantaranya adalah Ully Sigar Rusady (musisi), Heyi Ma’mun (seniwati rupa), Sugiyati Anirun (seniwati teater), Ine Arini (seniwati tari), Yvonne de Fretes (sastrawati), Sammaria Simandjuntak (sineas), Tiarma Sirait (art fashion).

Dengan dihelatnya pameran ini, diharapkan terjadi pertukaran pikiran dan pengalaman hidup dalam berkesenian. Pertemuan para penggiat seni dalam pameran ini juga diharapkan menjadi sarana komparasi pengalaman dengan lini periode waktu yang berbeda yang tujuan besarnya adalah untuk mengembangkan kreatifitas para seniwati di masing-masing bidangnya.

Jakarta, 17 November 2014

Contact Person:

Desy Novita Sari

Telephone :   (021) 348 33954

Mobile        :   081 357 189 089

Facsimile    :   (021) 381 3021

Email          :   desynov11@gmail.com

Address     :   Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur No.14, Jakarta Pusat 10110

Website      :   www.galeri-nasional.or.id


Kuratorial

Apa Kabar Ibu? #2

Seperti layaknya sebuah surat yang dilayangkan, atau perjumpaan antara seseorang baik yang sudah berkenalan maupun dalam proses menuju itu, kata “Apa kabar” lazim dilontarkan. “Apa Kabar Ibu?” tentu saja ditujukan pada perempuan, apakah seorang perempuan ini sudah berkeluarga ataupun masih melajang menjadi tak soal, karena kata “Ibu” adalah sebuah sapaan penghormatan. Apa Kabar, adalah bentuk pertanyaan yang dilontarkan untuk menanyakan banyak hal dan sebagai gerbang pembuka cerita.

Pameran dengan tajuk “APA KABAR IBU?#2” merupakan kelanjutan dari pameran serupa “APA KABAR IBU?” yang pernah diselenggarakan tahun 2011 di Bandung dan diikuti oleh 12 seniwati dari Bandung. Beberapa seniwati yang saat itu tampil beberapa masih ikut tampil di pameran ini, ditambah dengan beberapa seniwati yang kami pilih berdasarkan pada konsep kurasi, hingga muncullah ke 14 peserta dengan penambahan wilayah Jakarta.
Sama seperti konsep kurasi sebelumnya, pameran ini tidak hanya menampilkan seniwati pada kekaryaannya (cipta) tapi juga menampilkan para penggiat seni yang melakukan aktifitas profesional di bidang management, bisnis, pendidikan dan penelitian di bidang kesenian.

Pameran ini dimaksudkan tidak sekedar Pameran Karya saja, tapi lebih menyoal pada semacam aktualisasi diri, dan keinginan berbagi cerita tentang aktivitas kesenian dari para perempuan yang ditampilkan. Itulah sebabnya seniwati yang tampil kali ini lebih beragam. Empat belas seniwati ini memiliki pilihan aktifitas yang cukup beragam sekalipun masih ajeg dalam pola bentukan yang sama yaitu kesenian. Baik itu Seni Rupa, Seni Tari, Seni Musik, Seni Pertunjukan dan Sastra. Begitu pula keragaman ini tampak pada usia peserta dan pengalaman aktivitas berkesenian yang mereka lakukan.

Pameran ini lebih pada sebuah kesadaran untuk membuka diri, berbagi pikiran, pengalaman hidup berkesenian yang mereka jalani. Karya-karya yang mereka tampilkan tentu saja tidaklah seluruhnya karya baru, tapi lebih pada pilihan akan jejak yang pernah mereka lalui dan ada bekas yang barangkali mengganggu pada sikap kesadaran dalam memaknai hidup. Saya menyebut pameran ini adalah pameran biografi kesenian, dengan menampilkan beberapa artefak aktifitas yang pernah mereka jalani. Dan ulasan kurasi pun lebih dititikberatkan pada biografi kesenian senimannya ketimbang kekaryaannya.


HEYI MA’MUN

“TAK MUSTI BERPALING”

(Mencintai kesenian, hidup dan menghirup nafas di dekatnya tidak sesederhana mengucapkannya semua ini mengajarkannya bagaimana mensiasati hidup berkesenian tanpa berpaling darinya)

Dalam dunia senirupa Heyi sungguh tidak asing di telinga, lukisan abstrak dengan pengkayaan pada tekstur yang apik terjaga rasanya sudah seringkali dibahas dan diperbincangkan. Kali ini bahasan akan lebih menyoal pada keinginan berbagi, bagaimana berstrategi dalam hidup berkesenian yang ia jalani. Mengerjakan karya-karya elemen estetis (mural, embossed, dan collage) sebagai salah satu upaya mensiasati hidup berkesenian tanpa membuatnya menjadi murahan atau menurut bahasa Heyi: “kalawan enteu ngamurah mareh seni” Barangkali ini bisa jadi akan menginspirasi para pelaku kesenian lainnya terutama yang memiliki usia lebih muda bagaimana bersikap dan bertoleransi, berkompromis, dan berstrategi hidup berkesenian.

Pengaruh dari orang orang terdekatlah yang membuat Heyi bisa seperti ini. Ayahnya yang militer membebaskannya untuk melakukan pilihan karier menjadi seniman “jika itu pilihanmu lakukanlah dengan sepenuh hati, tong kapalang (jangan tanggung), seperti ketika kita dihadapkan pada makanan yang beragam nasi kuning, nasi rames, nasi goreng dan nasi-nasi lainnya, pilihlah salah satu lalu makan dan nikmati, habiskan, tong aya remeh nu sesa (jangan ada sebutir nasipun yang tersisa) dan semuanya harus dilakukan dengan feel, dengan cinta”.

Disiplin dan tanggung jawab terhadap pekerjaan, yang ditularkan oleh Ma’mun suaminya, membuat Heyi setiap hari melakukan pekerjaan, tidak seperti seniman kebanyakan yang menunggu mood atau job untuk bekerja, Heyi akan menyisihkan waktunya, apakah itu dengan hanya membuat sketsa-sketsa atau desain atau sekedar berbincang kesenian dengan teman-teman. Ini membuat Heyi selalu siap ketika sebuah tawaran akan sebuah pekerjaan datang padanya, karena ia sudah memiliki tabungan sketsa dan desain untuk karya-karyanya. Bagi Heyi dengan bekerja setiap hari, tidak hanya sekedar menghasilkan uang tapi juga mendapatkan ilmu dan ketrampilan yang makin terasah.

Ketika tawaran untuk mengisi sebuah gedung dengan ratusan lukisan karyanya lah yang membuat Heyi, menerapkan prinsip “tong ngamurah mareh seni”  bukan karena ketidaksanggupan ketika ia menolak mengisinya dengan karya lukis, tapi Heyi berstrategi ini akan membuat kariernya habis, prinsip idealisme dan ekspresi diri yang menjadi dasar kekaryaan seni murni akan menjadi terganggu. Ahirnya ia menemukan jalan keluar yaitu dengan membuat karya seni lainnya  embossed dan colagge yang tetap berdasar pada karya lukisnya. Hampir seperti silk screen, karya embossed ini bisa berulang karena menggunakan teknik cetak, tapi Heyi tetap melakukan pewarnaan manual, hingga Jim Supangkat mengatakan padanya bahwa karyanya ini digolongkan pada art craft, masih ada sentuhan seni di karya em­bossed dan collage-nya.

Pada Pameran ini Heyi akan menampilkan lukisan (yang menjadi dasar pembuatan karya  karya art craft-nya) dan  karya embossed sebagai alternatif pengkayaan karya bagi kebutuhan elemen estetis.

 

 

ULLY SIGAR RUSADY

“MELESTARIKAN LINGKUNGAN LEWAT MUSIK BERTUTUR”

 

Ingatan tentang Ully, akan menggiring kita tentang musik bertutur (balada) dan sekaligus  tentang lingkungan. Dua hal yang tak mungkin terpisah dan tak terbantahkan ini menjadi ikonik yang melekat padanya, disamping gitar dan kostum etnik yang dikenakannya. Lagu-lagu yang lahir dari tangannya menuturkan banyak hal tentang kecintaannya dan kepeduliannya terhadap lingkungan dan penciptanya.

Ayahnya Yus Rusady Wirahaditenaya, yang pertama kali memperkenalkan Ully pada dunia musik, di usia 8 tahun sang ayah mengajarinya bermain gitar. Disiplin yang diterapkan oleh ayahnya yang berprofesi sebagai militer, mengajari Ully untuk tidak gampang menyerah, bahkan ketika tangannya cedera sekalipun Ully tetap berusaha keras melatih jari tangan kirinya terutama kelingking untuk menekan dawai, dan jari tangan kanan untuk memetik, dan ini dilakukannya selama bertahun-tahun. Tentu saja Ully tak merasa cukup untuk menimba ilmu bermusiknya pada satu orang, belajar di sekolah musik atau belajar pada banyak musisi membuat kemampuan bermusiknya semakin terasah, dan ratusan lagu pun lahir sebagai karya ciptanya, dan sekian puluh penghargaan diraihnya.

Karya Ully Sigar Rusady seringkali dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi top di jamannya dengan interpretasi yang kadang berbeda dengan message yang ingin disampaikannya. Dan ini mendorongnya mulai masuk dapur rekaman dan menyanyikan lagunya sendiri, dengan meliris album pertamanya “Rimba Gelap” dan sejak itu (1978) Ully mulai dikenal sebagai solois.

Kecintaannya pada dunia musik dan keinginannya berbagi, mendorong Ully untuk mendirikan sekolah musik bernama Vini Vidi Vici. Tempat mencetak musisi-musisi muda berbakat itu pertama kali didirikan di Jalan Melawai Raya, Jakarta. Rintangan pasti ada, tapi Ully selalu menyikapinya dengan ketenangan, sebuah kebakaran besar di tahun 1982 menghanguskan seluruh bangunan dan isinya, disikapi Ully sebagai ujian hidup, dan semangatnya untuk berbagi dan kegigihannya justru membuat sekolah ini semakin besar, hingga saat ini Yayasan Vini Vidi Vici yang dikelolanya telah memiliki belasan cabang sekolah musik di Jakarta dan di beberapa kota lain.

Syair-syairnya yang bertemakan isu-isu lingkungan hidup lahir dari kecintaannya akan alam, dan perjalannya ke berbagai tempat di pelosok wilayah Indonesia. Perkenalannya dengan berbagai suku dan pemangku adat di daerah terpencil membuka matanya akan akar budaya musik bertutur yang selama ini digelutinya. Sebuah kesimpulan yang menarik bahwa Indonesia yang terdiri dari beragam suku, nyatanya memiliki ruh musik bertutur yang sama, dengan pembeda pada alat musik yang digunakan sesuai dengan ciri kekhasan musik sesuai dengan adat istiadat daerahnya membuat Ully tergerak untuk melakukan penelitian dan mengangkatnya menjadi desertasinya di S3.

Apa yang dilakukan Ully selama ini mempengaruhi musiknya saat ini, berbagai pengkayaan dengan memasukan unsur-unsur musik daerah menjadi sebuah kebaruan dalam musik bertutur yang selama ini dilakukannya, message dalam setiap tutur yang dilagukan adalah keprihatinan dan semangatnya menularkan kepedulian dan kecintaannya akan lingkungan yang harus dijaga bersama-sama. Sebuah kebijakan ketika Ully menyampaikan “lakukan itu berawal dari dirimu sendiri”.

 

 

SUGIYATI ANIRUN

“PAGI BENING”

 

Orang akan selalu mengaitkan Yati dengan suaminya Suyatna Anirun (alm), dedengkot teater yang sedikit dimiliki oleh Indonesia. Ini memang tak terpungkiri, tapi Yati bukanlah hanya pendamping dan pelengkap. Sebuah pernyataan yang mengganggu benak saya ketika orang berpendapat Yati tak akan menjadi seperti ini jika tanpa Suyatna, bagaimana jika pernyataan ini kita balikan menjadi sebuah pertanyaan, apakah Suyatna Anirun akan bisa seperti itu jika tanpa  Sugiyati?

Sekalipun demikian Yati selalu berujar karena suaminyalah ia kecemplung di dunia teater yang akhirnya membuatnya tak hendak keluar dari kubangannya. Panggung baginya mengandung racun yang menjadi candu sekaligus madu yang memabukan. Selepas ditinggal oleh suaminya Yati justru semakin menjadi-jadi, biasanya dalam setahun ia pentas satu kali tapi justru setelah hidup sendiri Yati bisa melakukan pentas hingga tiga kali dalam satu tahun. Di usianya yang tidak muda Yati tetap melakukan kegiatan teater tidak hanya sebagai pemeran saja, tetapi juga sampai urusan produksi hingga pada penataan dan melakukan penulisan dan pendokumentasian hal-hal yang menyangkut dunia keteateran. Sebuah cerita yang menarik ketika ia sampaikan secara berseloroh bagaimana ia harus memilah-milah kostum yang telah dipakai berhari-hari dalam pementasan, harus menyetrikanya dalam keadaan bau, tidak hanya bau badan, tapi bau naga, bau singa, dan bau kuda, ujarnya sambil tertawa-tawa. Yang jelas Yati adalah ibu bagi banyak anak-anak teater. Ibu yang mengayomi, yang mengajarkan apa yang ia dapatkan juga dari dunia teater yaitu bagaimana belajar tentang kehidupan, tentang kebersamaan, tentang kerja ensambel, dan tentang peran sebagai anggota sebuah komunitas yang dituntut menghadapi berbagai perbedaan karakter manusia serta potensi masing-masing. Bahkan karena kecintaannya pada dunia ini hampir sebagian besar penghasilannya sebagai pegawai negeri digunakannya untuk menopang keberlangsungan kelompok teaternya.

Pada pameran ini Sugiyati Anirun akan menampilkan karya “Pagi Bening” sebuah karya dari Serafin Alfanez Quintano dan Joaquin Alvanez Quintano, karya yang paling sering dipentaskan oleh Studiklub Teater Bandung sejak tahun 1968 hingga tahun 2008 (sebanyak 24 kali pagelaran). Sebuah cerita tentang perempuan dimasa tuanya yang bertemu kembali dengan kekasih dimasa lalunya di sebuah taman, saling tahu tapi berpura tak tahu demi tetap menjaga masa kini adalah kini dan masa lalu memang sudah berlalu.

 

 

MOEL SOENARKO

“MENCURI WAKTU”

 

Pengalaman memamerkan karyanya memanglah belum banyak, tapi ini bukan berarti ibu yang telah menginjak usia 70 tahun ini tidak memiliki pengalaman yang luar biasa dan tak terhitung jari. Dengan segudang kegiatan kesenian yang tetap dilakukan hingga usia lanjutnya, saya melihat Moel adalah orang yang banyak maunya. Tidak puas hanya melukis di atas kanvas tapi ia juga melakukan beragam eksplorasi artistik lainnya. Sketsa, cukil kayu, batik, embroidery dan puisi. Dan bagaimana pula ia melakukan edukasi tiada henti pada orang-orang sekitarnya dengan mengajarkan setiap ketrampilan yang ia miliki secara cuma-cuma. Mengerjakan buku kurikulum dan media pembelajaran berdasarkan pada setiap proses belajar yang dilaluinya. Di tengah maraknya teknis penciptaan karya rupa dengan bantuan tekhnologi canggih, Moel setia pada cara-cara lama melewati proses sketsa pada kertas dan kemudian melakukan eksekusi akhir pada karyanya. Kali ini Moel Soenarko akan menampilkan karya sulamnya yang sungguh luar biasa, benang-benang halus itu ditaklukannya sekalipun secara teknis dituntut untuk mengerjakan dengan kehati-hatian, dan ketelitian, tapi karya yang dihasilkan tetap terjaga impresif dan ekspresif. Sebagian besar karyanya mengambil objek rumah. Saya menduga “rumah” bagi Moel adalah pusat. Dan ini menjadi terkuatkan manakala ia sampaikan bahwa: “sebagai istri pendamping suami, dan ibu dari anak-anak, seyogyanya kita lebih mendahulukan menyelesaikan tugas mulia itu, dengan menciptakan keseimbangan dan saling mendukung dalam keharmonisan keluarga untuk kemajuan bersama, dan dalam keadaan ini kita (perempuan) harus mampu mencuri waktu yang artinya mengatur waktu dengan cermat agar tersisa kesempatan mengatualisasikan diri kita menjadi wanita yang mandiri”.

Hampir seluruh aktifitas Moel dilakukan di rumah baik aktifitasnya sebagai ibu rumah tangga, juga ketika beraktifitas kesenian (berkarya maupun mengajar), bahkan setiap rumah tinggalnya baik sewaktu di Malang maupun ketika sekarang di Bandung, ia namai “Rumah Seni” dan ia rancang sendiri. Seperti ketika seorang anak kecil menggambarkan sesuatu yang penting bagi dirinya menjadi objek yang paling besar (Oho Garha/pengkaji gambar anak), Moel juga lebih banyak memilih objek rumah pada karyanya karenanya saya simpulkan “rumah” adalah sesuatu yang paling penting baginya.

 

 

INE ARINI

“ PADA SUATU HARI DI RUMAH BERSALIN”

 

Berbeda dengan penari kebanyakan yang menari hanya sekedar memamerkan kepiawaian dari segi teknis, kostum yang gemerlap sebagai daya tarik, musik yang indah sebagai pelengkap keselarasan dalam sebuah pertunjukan. Ine mendobrak semua ini, baginya tari adalah jiwa, tari adalah roh, tari lebih pada ritual komunikasi kepada sang pencipta. Ine Arini, ibu yang tak lagi muda dengan seluruh tanda jejak usianya, tetap memukau sekalipun tanpa kostum gemerlap, tanpa musik pengiring (Ine mampu menciptakan musiknya sendiri lewat gesekan tubuhnya, juga bunyi bunyian pada properti yang digunakan pada pertunjukannya, bahkan bisa jadi tiba-tiba ia menembang di tengah-tengah pertunjukan, ketika ia secara tiba-tiba pula merasa harus melakukannya). Seluruh tariannya adalah ekspresi dari apa yang hendak diungkap. Ekspresi wajah, gesture tubuh seluruhnya diabdikan pada roh tarian bukan untuk kepentingan kesenangan kasat mata bagi penikmat pertunjukan tari yang biasa. Maka ketika ia menari ia berubah tidak lagi sebagai Ine, ia menjadi tokoh pada setiap peran yang ia mainkan, dan ini memang memungkinkan terjadi karena Ine melakukan penghayatan tidak hanya selama pentas tapi juga ia lakukan jauh hari sebelumnya dalam kehidupannya sehari hari (saya mengetahui ini ketika Ine berkata sambil lalu, “tetangga saya heran ketika melihat saya tiba-tiba hamil besar saat kami bertemu di warung dekat rumah” Ine melakukan ini ketika ia sedang berproses pada karya ciptaannya “Pada suatu hari di rumah bersalin” ia membawa bawa perut palsunya kemana mana).

Ine Arini bukan hanya penari tapi juga seorang aktris. Seorang seniwati tari yang melakukan proses penciptaan dengan karya-karyanya yang berbeda.

Keteguhannya pada jalur yang berbeda tentu saja berbuah pada pertentangan, cibiran, dan sikutan dari berbagai pihak terutama pihak akademisi yang menganut pola lama. Tapi Ine tetap teguh berjuang pada keyakinan yang diyakininya “aku menari untuk Tuhanku”. Pada Pameran kali ini Ine akan menampilkan beberapa artefak pagelaran pentingnya  sepasang janjang/sayap yang digunakan ketika bagaimana Ine melakukan Zikir, dalam bentuk tarian yang dimaksudkan sebagai ucapan syukur karena masih diberi waktu di usianya yang ke 60 tahun, di sebuah telaga.  Sebuah ranjang logam yang digunakan pada pementasan “Pada suatu hari di rumah bersalin” sebuah karya yang diciptakan di tahun 2006 hingga 2008 sebuah proses karya yang cukup panjang. Yang ingin menyampaikan dan mengungkapkan kehakikian seorang perempuan. Bahwa menjadi hamil ternyata bukan sekedar hukum alam yang terberi (given) dan berlangsung secara alamiah begitu saja. Menjadi hamil bukan hanya sekedar alamiah (nature) melainkan pula sebuah kebudayaan (culture). Kehamilan adalah kekuatan dan bahkan pengalaman yang tidak bisa dialami oleh orang lain kecuali oleh perempuan! Hamil hanya milik perempuan!

 

 

YVONNE DE FRETES

“PEREMPUAN DALAM PEREMPUAN”

 

Kecintaan pada dunia tulis-menulis bermula dari kegemarannya membaca sejak kecil. Usia SD Yvonne sudah membaca Petualangan Tom Sawyer; Buku-buku Karl May a.l. Winetouw Gugur; Don Kisot; Three Musketiers, dll, selain cerita wayang seperti Mahabrata.

Hal ini membuat Imjinasinya berkembang, ia menganggap penulis-penulis itu sebagai seseorang yang genius, menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, imaji yang liar, yang bisa menghasilkan tulisan-tulisan fiksi yang cerdas dan bermanfaat serta enak dibaca. Hal ini membuatnya senang bertualang dalam imaji, mengembara dalam dunia kata-kata.

Ada sebuah cerita yang menarik yang dilakukan Yvonne di kelas 6 SD, ia membuat beberapa CERPEN dengan tulisan pensil dan cerita-ceritanya itu ditunggu oleh teman-teman sekolah untuk dibaca bergantian. Melihat antusiasme kawan-kawannya Yvonne jadi lebih rajin lagi berimajinasi. Dan terus menghasilkan karya-karya cerpennya hingga SMP, hanya untuk disimpannya di dalam laci.

Kesibukan kuliah, kesibukan berkeluarga, membuat dunia merangkai imajinasi lewat kata ini seakan terlupakan bahkan hilang. Tetapi sebenarnya “itu” tetap ada di bawah alam sadar, tersimpan rapi.

Ketika bekerja sebagai Jurnalis barulah kegemaran menulis ini seakan menemukan muaranya, sehingga cerpen pertama muncul di salah satu majalah tahun 1983. Kembali pekerjaan di bidang perhotelan menyita waktu. Hingga awal 1990 mulai aktif menulis Cerpen dan mengirim di berbagai media dan dimuat. Itu yang memacu motivasinya untuk terus mencipta hingga datang kesempatan membukukan karya dalam buku, yang dimulai di tahun 1994 sampai sekarang.

Beberapa karya Yvonne menampilkan tokoh-tokoh baik perempuan maupun lelaki dengan sudut pandang yang beragam dan strata ekonomi dan pendidikan yang beragam sebagai tokoh aku atau si pencerita, tapi kadang di beberapa ceritanya muncul satu tokoh lainnya yang menggambarkan dirinya dengan backgroundnya sebagai penulis, sehingga ada sisi personal yang terungkap. Atau barangkali ini sebuah pensiasatan memunculkan satu tokoh dengan pikiran pikirannya sendiri sebagai penulis yang memiliki misi untuk menyampaikan message tertentu yang menganggu yang tidak mungkin terwakili si tokoh aku.

Membaca karya karya Yvonne seperti melihat sosok yang dekat yang ada diantara kita bahkan mungkin yang kita alami dengan persoalan yang khas perempuan. Beberapa karyanya menyoal tentang perempuan Indonesia yang mengalami shock culture, dengan idealismenya dan aturan ungguh-ungguh umumnya perempuan yang ingin memegang teguh budaya yang telah tertanam sejak kecil, dan mengalami kebingungan menentukan sikap ketika arus modernisasi menyergapnya tanpa ampun.

Pengalamannya sebagai konselor keluarga di beberapa lembaga dan perguruan tinggi membuatnya dihadapkan persoalan-persoalan klasik dalam sebuah rumah tangga yang umum terjadi dengan berbagai variasinya, dan ini menjadi salah satu yang menginspirasi Yvonne dalam karya-karya sastranya. Hingga kawan-kawannya seringkali mencandainya dengan julukan ahli perselingkuhan, karena keahliannya mengurai fenomena ini. Tentu saja tidak hanya persoalan tersebut yang Yvonne angkat dalam karya sastranya, profesi lainnya sebagai pengajar di beberapa perguruan tinggi sampai aktivitasnya dalam pendidikan anak usia dini membuat Yvonne juga menyisipkan message edukasi dalam karyanya.

Selain menulis karya sastra baik novel, cerpen dan puisi, Yvonne juga menulis artikel tentang seni budaya, pariwisata, dan karya sastra.

 

 

MARINTAN SIRAIT

“ MEMBANGUN RUMAH”

 

Mengolah tubuh adalah kegemarannya sejak kecil, diawali dengan kesukaannya dan pendalamannya pada tarian klasik baik ballet maupun tarian klasik Jawa. Dan kemudian menuntunnya pada dunia teater, walaupun ini tidak memuaskan bagi dirinya dan akhirnya Intan menemukan teater yang menggunakan tubuh yang tidak terlepas dari unsur visual, tentu saja kepekaan visual ini terbangun karena background pendidikannya di seni rupa. Hal hal inilah yang kemudian membuat Intan memiliki ketertarikan menggabungkan performing dengan pengolahan tubuh tanpa meninggalkan unsur visual sebagai dasar kekaryaannya. Tampilan seperti ini yang menkolaborasikan olah gerak rupa dan bunyi  pada saat kemunculannya, kemudian dikenal dengan nama perengkel jahe dan, atau jeprut. Apa yang dilakukan Intan saat itu berbarengan dengan tahun tahun kerinduan dan kebutuhan seniman untuk keluar dari konvensi kemapanan, dengan mencoba memberikan statement yg tidak senada atau sepadan dengan infrastuktur yg ada, hingga proses ini menimbulkan sebuah keyakinan bahwa ini akan menjadi “sesuatu” keyakinan ini di amini baik secara personal maupun kelompok menjadi satu bentuk kesenian yang lain yang pada ahirnya diakomodir Jim Supangkat lewat Bianelle Jakarta 1992, menjadi karya instalasi dan performing yg diakui saat ini.

“Membangun rumah” adalah karya performing-nya dengan konsep membangun sesuatu dengan cara mandiri sesuai dengan apa yang kita tuju atau kita kehendaki dengan cara membangun infrastruktur sendiri dengan berkolaborasi dengan orang atau lembaga lainnya yang sejalan secara konseptual. Semangat membuat sesuatu yg tidak dikenal sebelumnya dan iklim yg terbangun saat itu membuat konsep ini akhirnya dengan mudah diterima. Konsep kolaborasi tentunya memposisikan untuk mengesampingkan ego pribadi, yang kental dalam individu seorang seniman dalam proses penciptaan, bekerjasama dalam satu tim yang solid dan mau menerima berbagai gagasan dari beberapa kepala yang terlibat bukan perkara sederhana, kebiasaan melakukan penaklukan-penaklukan ego personal membuat Intan terbiasa bekerja sama. Tujuan sebuah keselarasan yang dibangun berdasar pada rasa yang sama dengan pola-pola kolaborasi tidak memuaskan Intan hanya melalui karya performing art yang berkutat di tataran ideologis dan gagasan saja. Intan ingin ini menjadi sesuatu yang riil dan menjadi jejak nyata yang memiliki daya guna bagi masyarakat, maka mulailah di tahun 1995 Intan membangun sebuah rumah riil “jendela ide” sebuah tempat yang mengedepankan art culture dengan konsep dasar bahwa kesenian itu milik semua orang. Aktifitas jendela ide awalnya hanya bergerak di satu bidang saja yaitu seni rupa,dan Intan masih melakukan performing sebagai karya cipta personal secara beriringan hingga sebuah kejadian membuatnya menentukan sebuah pilihan. Sebuah Pameran bertajuk “Pause” lah yang menjadi titik Intan untuk me-refresh atau merenung dengan berhenti sejenak untuk melakukan refleksi atas apa yg dilakukan selama ini. Saat itu di tahun 2003 adalah dimulainya start art market, yg membakukan bahwa kesenian itu menjadi komuditas dan berbagai pertanyaan mengganggu muncul di kepalanya, “mengapa harus seperti itu?”.Saat itu Intan menyatakan ketidaksetujuannya dengan mencoba berdiam dan lebih konsen mengembangkan jendela ide. Maka aktifitas di jendela ide semakin berkembang karena kebutuhan masyarakat akan budaya berkesenian tidak hanya seni rupa saja. Mulailah unsur gerak dan bunyi menjadi ruang baru yang tumbuh di Jendela Ide. Intan memang tidak sendirian ada Andar Manik suaminya, dan Jaelani iparnya yang memiliki kompetensi dibidangnya masing-masing, mereka bersama-sama membesarkan Jendela Ide, lagi lagi pola kolaborasi tampak kental mendasari setiap kekaryaannya.

Bagi Intan “Membangun Rumah” bukanlah membangun rumah dalam artian sempit tetapi bagaimana rumah ini disikapi sebagai ruang atau wadah berkarya, bagi personal, bagi masyarakat dengan satu tujuan edukasi. Intan memetaforakan “rumah” yg dibangunnya adalah rumah yg secara infrastruktur mirip sebuah “bale” dalam adat Bali yg menjadi rumah milik bersama untuk dipergunakan secara bersama diluar rumah pribadinya.

Pada pameran kali ini Intan tetap akan menampilkan karya “Membangun Rumah” dengan konsep mendudukan kesenian sebagai milik siapa saja dengan cara melibatkan orang lain untuk berkontribusi dalam karyanya. Karena baginya kehidupan setiap manusia tidak terlepas dari peran orang lain. Dan Intan percaya pada intuisinya, ini akan menjadi “sesuatu” lewat proses yang dilewatinya.

KEN ATIK DJATMIKO

“ELEMEN”

Sebuah perjalanan selalu menggoda Ken untuk dilakukan dalam sebagian besar hidupnya, banyak hal yang bisa dipelajari dalam setiap perjalanan dan persinggahannya. Diawali dengan keingintahuannya tentang batik di tahun 1990 Ken melakukan perjalannya menyusuri pantai utara Jawa hingga Madura. Alasan keingin tahuannya akan batik karena keinginannya yang kuat menjawab berbagai pertanyaannya sendiri yang mengganggu batinnya. Begitu banyak orang asing yang tertarik mempelajari, meneliti dan melakukan dokumentasi lewat tulisan. Sementara tak banyak anak bangsa ini yang melakukannya. Ken tergerak untuk melakukan ini dan keinginan kuat ini menjadi motifasinya untuk terus bergerak meneliti dan mendokumentasikannya lewat tulisan dan membagikan hasilnya lewat buku buku batik yang dikerjakannya bersama kawan-kawannya.

Background pendidikannya di seni rupa acapkali bersinggungan dengan elemen-elemen, bahkan di tingkat awal perkuliahan elemen-elemen dalam rupa selalu diajarkan diawal, bagaimana sebuah titik menjadi garis, dan bagaimana garis bisa membentuk bidang dan ruang, dan bagaimana semua ini dapat dikayakan dengan warna dan tekstur serta komposisi. Dan dalam perjalanan kariernya pula Ken singgah di satu masa yang juga bersinggungan dengan ini, Ken mengajar di beberapa perguruan tinggi dan menjadi dosen mata kuliah yang menyoal tentang elemen-elemen ini. Barangkali ini semacam penanda baginya. Bagaimana seluruh kehidupan adalah elemen yang berhubungan dan menjadi sebuah kesatuan utuh.

Seseorang dengan jiwa pendidik biasanya tak cukup puas dan berhenti memberikan edukasi di wilayah formal akademisi. Begitu pula Ken, ketika melakukan perjalannya Ken tidak hanya meminta sebuah pelajaran tentang batik tapi ia tergerak juga untuk memberikan pengetahuannya tentang elemen-elemen estetik yang menjadi dasar sebuah karya visual. Maka perjalanannya menjadi semakin kaya, beberapa pengrajin batik yang biasanya berkarya dengan pola-pola ajeg yang terbentuk berdasarkan apa yang telah diwariskan leluhurnya, mulai melakukan terobasan dengan membuat karya-karya baru tanpa melupakan tradisi awal yang memang seharusnya tetap terjaga. Dan Ken ikut andil dalam hal ini, membuat para pengrajin batik di daerah-daerah yang disinggahinya mengembangkan kreatifitasnya dengan menciptakan teknik atau juga motif baru.

Pada pameran kali ini Ken menampilkan elemen-elemen rupa pada motif karya batiknya dengan teknik yang memungkinkannya untuk menyeruakan ini, beberapa motif batik dibuat dengan papan kayu gilasan untuk mencuci, hingga terbentuk garis sulur (elemen garis), ranting dan batu yang kadang berserak di mana saja dan seringkali dianggap sebagai sesuatu yg tidak penting digunakannya juga dalam proses penciptaan karyanya. Cap yang saling bertindih penyusunan motifnya membentuk bidang-bidang, canting sebagai alat dasar tradisional dalam batik tulis ikut pula berperan, menjadi titik, garis lurus atau meliuk. Bagi Ken semuanya adalah elemen, elemen yang sama pentingnya, tak ada yang lebih superior antara satu dengan lainnya seperti yang dirasakannya sebagai perempuan yang melakukan pekerjaan di luar rumah dan di dalam rumah semuanya harus dilakukan secara seimbang seperti komposisi tidak harus selalu simetris bisa pula asimetris, yang terpenting adalah menjaga iramanya. Mengaturnya dengan kendali agar seluruhnya menjadi selaras.

Sebuah Jemuran dengan banyak elemen tersampir dipenyajian karyanya seperti metafora kehidupan, tali-temali yang mewakili titik menuju titik menjadi garis, layaknya sebuah perjalan dari titik nol menuju kilometer berikutnya. Elemen pakaian dan kain-kain batik yang tersampir adalah bidang-bidang yang mengisi dalam perjalanan hidup. BH, celana dalam dan pakaian sehari-hari sebagai elemen yang mewakili perempuan dalam wilayah rumah (domestik) sementara kain-kain batik karya ciptanya adalah elemen yang mewakilinya sebagai perempuan yang melakukan profesi didunia batik yang ditekuninya. Dan ini adalah pemandangan biasa yang sering ditemuinya ketika melakukan perjalanan menemui para pengrajin batik binaannya yang tersaji di halaman-halaman rumah mereka. Semuanya berbaur membentuk kesatuan dan tak terpisahkan.

TIARMA DAME SIRAIT

“TRANSPORTER & TRANSFORMER”

Berawal dari ketidakpuasan Tiarma (Ama) di dunia kesenian terutama painting, yang dianggap kurang menjanjikan secara finansial membuat Ama tertarik pada dunia fashion, tapi ini juga tidak membuat Ama puas karena ternyata dunia fashion lebih banyak ditekankan di dunia Industri. Ketidakpuasan ini membuat Ama terus mencari bentukan yang pas bagi pemenuhan hasratnya. Maka Ama mulai menemukan dunianya yang dinamainya ART FASHION. Banyak hal yang berbenturan tentu saja terutama tanggapan diluar dirinya. Berawal dari karyanya BOOPS yang lahir karena keprihatinan Ama akan maraknya keinginan para perempuan (menyeluruh disemua kalangan tanpa pandang strata atau kelas ekonomi) untuk memperbesar payudara dan bokongnya, amat mengganggunya dan akhirnya Ama ingin menyampaikan sebuah message dengan cara bermain-main, dengan menciptakan fashion yang menabrak seluruh aturan fashion, dengan menampilkan konsep “jika perempuan hanya ingin menarik perhatian dengan melakukan pembesaran di bagian depan dan belakang tubuhnya, mengapa tidak menambah jumlahnya saja” hingga Ama menciptakan BOOPS, fashion/pakaian perempuan dengan penambahan jumlah payudara (lebih dari 2) dan bisa ditempatkan di bagian mana saja dari tubuh perempuan, bahkan di kepalanya. Karya ini tentu saja mengundang banyak kontroversial juga, dan bahkan kemudian ada yang berpendapat Ama seorang feminis, Ama menyangkal pendapat ini karena dia tak sedang menyoal feminism pada karyanya, bahkan Ama tak betul-betul memahami teori teori feminism, Ama berpendapat bahwa kebetulan dia adalah seorang seniwati (perempuan) yang berkarya dan menyoal dunia perempuan.

Pada tahun 2008, Ama kembali melakukan eksplorasi atas kecintaannya pada Indonesia dan Batik sebagai warisan budaya luhur negaranya. Kecintaannya ini membangun sebuah kesadaran akan budaya yang terus bergerak cepat dan tak terbatas pada ruang dan waktu membuatnya mencoba melakukan mixing budaya pada karyanya, karena baginya budaya membantu kita untuk mengambil tindakan yang mungkin untuk menciptakan perubahan menuju arah yang positif. Mengeksplorasi berbagai batik Indonesia menjadi sebuah rancangan pakaian yang berfungsi sebagai media penyampaian gagasan pribadi dan sebagai sebuah kendaraan agar tersampaikan dan menjadi akrab bagi dunia di luar Indonesia, proyek awalnya dimulai dengan negara Jepang dengan budaya fashion Harajuku dan Ama menamainya dengan HARAJUTIK, kemudian Ama mulai melakukan transformasi ke wilayah Eropa, dengan cara menggabungkan batik Indonesia dengan gaya victoria sehingga menjadi rancangan kostum konseptual untuk panggung. Kostum yang memang dirancang untuk memberikan pengalaman khusus di panggung ini akan berfungsi baik sebagai objek fashion dan sebagai objek instalasi patung. Bagi Ama niatan menggunakan batik tradisional menjadi karya kontemporer adalah bagian dari konsep “transporter” budaya. Tidak hanya sekedar menciptakan desain kontemporer yang kemudian mempekerjakan sumber-sumber tradisional saja. Tapi juga memberikan perhatian lebih dengan menjaga mereka, mengilhami mereka dengan kehidupan konteks hari ini bahwa mereka memiliki makna dalam cakrawala seni global saat ini.

Proyek Transporter & Transformer, adalah proyek yang dikerjakan Ama  dengan menggunakan kain batik yang telah dibuat oleh pengrajin batik menjadi pakaian yang biasanya sering kita lihat pada “Western masked ball” (kostum mewah dengan pelengkap mask/topeng yang mulai dikenal di abad 15 dan digunakan sebagai penyamaran pada sebuah acara karnaval yang kemudian sempat menghilang karena dianggap membahayakan dengan munculnya beberapa tragedi pembunuhan dengan cara memanfaatkan topeng sebagai kedok penyamaran diri. Masked ball kembali marak di abad 18 hingga sekarang dan lebih bertujuan sebagai hal-hal seru dalam sebuah pesta sebagai cara menduga-duga terhadap identitas tamu di balik topeng).

Sekilas, tampaknya memang seperti itu, tetapi Ama menyangkal dan mengatakan tidak. Karena ia hanya mengadopsi pola dasar. Ini adalah caranya mentransformasi batik menjadi karya kontemporer hingga menjadi kendaraan (transporter) untuk  dikenal dan dihargai masyarakat di seluruh benua. Pada pameran kali ini Ama akan menampilkan karyanya TRANSPORTER & TRANSFORMER baik dalam bingkai foto, dan karya fashion-nya dalam manequin maupun performing dengan pemilihan model yang tidak biasa seperti layaknya perancang busana umum ketika melakukan pagelaran.

ANNE NURFARINA

“SIKLUS”

Berawal dari rasa murung yang menyergap di masa kecilnya ketika memiliki seorang adik yang Autis (Special needs), Anne dewasa berfikir untuk menjadi terbuka terhadap setiap persoalan yang mengganggu dirinya sebagai sibling (orang-orang terdekat bagi penyandang special needs). Berbagai cara dilakukannya agar apa yang dialaminya di masa kanak tidak kembali terulang bagi sibling lainnya dan juga bagi para penyandang special needs. Background pendidikannya di seni rupa menuntunnya pada sebuah penemuan metode sensasi bagi penyandang disabilitas dan menerapkannya pada sebuah lembaga yang dinamainya ART THERAPHY CENTER.

Beberapa kegiatannya sebagai penyelenggara maupun keterlibatannya di acara world autism day, dan acara serupa lainnya tidak mencukupi kebutuhannya untuk berbagi, karena acara-acara ini biasanya hanya berbentuk charity dan tidak memiliki manfaat yg sifatnya permanen. Idenya untuk membangun sebuah sekolah bagi penyandang disabilitas sangat memungkinkan baginya untuk berbagi lebih banyak terutama membagi penemuannya “Metode sensasi “ yaitu sebuah metode untuk membangun respon komunikasi bagi penyandang disabilitas melalui penggabungan stimulus natural dan stimulus bentukan berbasis audio visual.

Banyak lembaga yang tertarik untuk menggalang kerjasama, tapi Anne amat sangat berhati-hati karena ia lebih mengutamakan misinya untuk tidak menjadikan lembaga ini sebagai lembaga komersial, akhirnya di tahun 2014 keinginannya terwujud sebuah lembaga Art theraphy Center Widyatama di Bandung berdiri di bulan April, dengan konsep 5 anak mampu menyisihkan pembiayaan bagi 1 anak tak mampu, dan menerapkan pula sistem orang tua asuh - anak asuh dan menggalang dana CSR bagi keberlangsungan lembaga ini. Tentu saja Masih banyak PR yang diembannya layaknya sebuah siklus yang direpresentasikan dalam karyanya.

Baginya menjadi sibling bukan berarti menyerah pada keadaan yang dia sebut periode kelam, tapi bagaimana memaknai dan membangunnya menjadi berwarna-warni. Perjalanan menuju ini bukanlah sesuatu yang mudah tetapi penuh dengan benturan, bagaimana orang memandang menjadi sebuah pemakluman karena apa yang dilakukannya dianggap personal, tapi saya menganggap Anne melakukannya sebagai “to do something” siapapun dia apakah memiliki keterkaitan personal dengan persoalan atau tidak yang paling penting adalah bagaimana dia melakukannya menjadi sesuatu. Sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Anne melakukan hal ini dan menjadi loncatan penting tidak hanya untuk dirinya tapi bagi banyak penyandang disabilitas dan sibling lainnya, sebagian besar waktunya habis untuk membagikan kecintaannya pada anak-anak ini yang dimetaforakannya sebagai Angel. Dan Anne menemukan kebahagiaan ketika dia membagikan kebahagiaan dan kecintaannya.

Karyanya dengan judul SIKLUS ini menggambarkan bagaimana dia mengalami periode kelam yang kemudian mulai menggradasi menjadi berwarna-warni seperti apa yang dialaminya dalam setiap periode hidup, dan waktu selalu menuntunnya seperti jarum jam yang terus berdetak melewati periode ini, karena baginya ketika sudah menemukan hidupnya yang berwarna masih saja ada rintangan persoalan yang menganggu diluar dirinya. Dan itu adalah sebuah siklus hidup yang bisa dialami siapapun, dan bagaimana kita menyikapinya dan selalu berusaha keluar darinya.

 

HERRA PAHLASARI

“BERBAGI RUANG BERBAGI GAGASAN”

Seperti potongan-potongan mimpi yang dijahitkan satu sama lain dengan benang merah, begitu bisa diibaratkan ketika Hera memulai mimpinya membangun sebuah ruang publik. Berawal dari sebuah workshop kuratorial, Hera mendapat tantangan untuk membuat sebuah project. Ia namakan “Pink House” rumah dengan cat pink yang akan digunakan sebagai galeri seni yang tidak berjarak, dimana setiap orang yang hadir merasa memasuki rumahnya sendiri. Galeri yang tidak hanya menawarkan karya seni murni tapi juga seni terapan. Ketika seseorang memasuki ruang kamar kemudian melihat seprai yang terbentang di kasurnya, membuka lemari pakaian, melihat elemen estetik yang terpasang, mereka dapat membawanya pulang ke rumah dengan sejumlah uang pengganti tentunya. Begitu kira-kira mimpi awalnya. Kemudian mimpi ini sempat mengendap lama, dan di tahun 2008 Hera mulai membangun dan memperkaya mimpinya dengan melahirkan S.14 sebuah ruang yang menjadi satu kesatuan di rumah tinggalnya di sosiologi no. 14 Bandung. Ruang tamunya kini berfungsi sebagai ruang pamer, ruang keluarga dijadikannya ruang presentasi dan diskusi, dan untuk kepentingan workshop digunakannya garasi yang telah diubah menjadi perpustakaan khusus bagi ruang referensi publik terhadap dunia seni rupa. Dari rumahnya ini Hera menyatukan berbagai orang tidak hanya yang memiliki background kesenian tetapi juga di luar itu. Karena sesungguhnya ini adalah juga salah satu mimpinya untuk membuat kesenian yang tidak berjarak dengan orang-orang diluar kesenian (awal melakukan perkenalan ini dengan mengajak para tetangga untuk terlibat di dalamnya) melakukan edukasi lewat praktek langsung lewat workshop kekaryaan yang dilakukan para seniman yang berpameran di S.14 sebagai bagian dedikasi terhadap masyarakat, dan mebuat masyarakat memahami kesenian tanpa dijejali konsep-konsep teori kesenian yang kadang malah membuat sakit kepala. Di perjalannya yang baru 3 tahun ini S.14 sudah melahirkan 17 program pameran dan 7 program workshop, ini sungguh luar biasa, apalagi ketika tanpa bermaksud untuk sombong apalagi mengeluh, ia sampaikan semuanya  menggunakan dana pribadi yang disisihkan ketika melakukan pekerjaan pekerjaan sampingan diluar S.14. Ia percaya bahwa rejeki akan datang ketika kita ikhlas membaginya.

Selewat perjalanan Hera banyak dibantu kawan-kawan baiknya dalam pengelolaan S.14, kawan-kawan yang juga ikhlas berbagi. Tapi rasanya tidak berlebihan jika saya sampaikan Hera adalah S.14 dan S.14 adalah Hera.

Pada pameran ini Hera berbagi ruangnya, memperkenalkan S.14 dengan cara merespon ruang yang ada sebagai ruang pribadi yang bisa dimasuki siapapun dengan maksud berbagi. Judul karya yang dipamerkan saat ini sesuai dengan tagline S.14 yaitu : art, life & share dimana karya ini mengkombain ranah personal dan ranah publik. Herra menampilkan karya personal lukisan dengan tehnik bordir foto dirinya yang sedang menggendong Layka putrinya, dan beberapa artefak memorinya akan ibu dan anak  (foto, video, objek)  dan karya nonpersonal dokumentasi kegiatan S.14 yang tetap secara tidak langsung terkait pula dengan kehidupan memorinya akan hubungan rumah ibu dan anak. Dan sebuah karya yang melibatkan publik untuk mengisinya dengan konsep berbagi dengan menyambungkan berbagai benang berwarna-warni sebagai sebuah keterkaitan yang menyenangkan untuk didalami.

 

YUNIS KARTIKA

“NINA BOBO; anakku akan jadi apa?”

Yunis adalah orang yang selalu gelisah terhadap kemapanan. Ketika bersekolah di jurusan teater Yunis gelisah ketika menemukan wacana “high art” dan” low art” dan  bahwa teater tidak termasuk di dalam wacana seni murni yang bersifat “high art”. Kemudian Yunis melanjutkan studi master di ITB jurusan FSRD. Dengan harapan bahwa teater adalah seni yang dianggap tinggi pula. Namun dalam wawancara pertamanya ia sudah beradu argumen dengan para penguji bahwa teater sampai kapanpun tidak bisa dikategorikan sebagai seni tinggi, karena teater tidak memberi jejak yang lama dan hanya berlangsung semacam sebutan “happening”. Usai panggung, usai pula seni tersebut. Berbeda dengan seni murni –lukis, patung- mereka memiliki ukuran waktu yang tidak terbatas. Kemudian Yunis mensiasatinya dengan menerapkan pada karya 3D, menampilkan sebuah pementasan dengan menggunakan manikin-manekin bekas sebagai media untuk berekspresi dan dijadikannya sebagai pengganti tokoh-tokoh dalam pertunjukan sebuah teater, menggunakan setting lampu dan musik, semuanya dikerjakan persis sama dengan ketika hendak mengerjakan project pementasan termasuk pembuatan script atau naskah. Dan tetap memelihara keyakinan dan mimpinya akan teater yang layak dimasukan kedalam high art.

Kegelisahan selalu yang menjadi awal lahirnya karya-karya Yunis entah itu karya rupa, sastra, maupun art performing-nya. Karya “Ontogenesis” lahir karena persoalan yang cukup sensitif tentang mempertanyakan kemaskulinan Tuhan, dan rambu-rambu yang dibuat dengan mengatasnamakan menjaga perempuan. Kemudian karya “Becoming White” muncul juga karena iklan yang memborbadir perempuan bahwa cantik itu identik dengan warna kulit yang putih.

Begitu pula karya yang lahir dan tampil pada pameran kali ini. Karyanya yang diberi judul “Nina bobo, anakku akan menjadi apa?” adalah sebuah karya yang menyodorkan sebuah persoalan akan keprihatinannya terhadap angka kelahiran di Indonesia yang terus meningkat dengan pesat dan kelahiran terbanyak justru muncul pada keluarga dengan strata ekonomi rendah yang amat sangat tidak memungkinkan memberikan kesejahteraan yang layak dan dihantui bayangan masa depan yang tidak jelas. Sebagai ibu atau perempuan tentu saja ini amat mengganggu dan sebagai seniman Yunis ingin menggugat lewat karyanya, sebuah gugatan yang diharapkan menjadi perenungan dan PR bagi kita semua, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi semua ini?

Beberapa Boneka Bayi berjajar di dalam keranjang dibuatnya dengan menggunakan bahan koran-hvs bekas karena Yunis concern untuk memegang prinsip 3R, yaitu Reduse, Reuse, Recycle. Sebagai sebuah keyakinan bahwa apa yang dilakukannya sebagai salah satu solusi dalam menjaga lingkungan di sekitar kita dengan mengolah “sampah” sebagai sumber kreatifitas kekaryaan.

Film-film yang diputar menyorot dinding menampilkan banyak hal, berita berita yang tertangkap akan kejadian-kejadian yang mengganggu tentang persoalan anak-anak yang terus saja lahir, pemerintah yang hanya berkoar menyampaikan slogan anak terlantar dijamin oleh negara, dan karya performing-nya, memperkuat message yang hendak disampaikan yaitu sebuah bentuk kecemasannya akan masa depan anak-anak ini. Film ini ditembakan penayangannya pada sebuah foto besar dirinya yang memeluk 4 buah boneka bayi dengan beberapa boneka bayi berserak di kakinya, seolah menjadi sebuah jawaban, akan tanggung jawab kita sebagai orang tua (ibu) yang harus tetap melindungi dan memberikan seluruh cintanya kepada anaknya, apapun keadaannya.

 

SAMMARIA (ATID) SIMANDJUNTAK

“DEMI UCOK”

Atid adalah sineas muda yang mengawali karier filmmaker setelah lulus dari arsitektur ITB keinginannya membuat film awalnya didasari kesenangannya di dunia kesenian lainnya (rupa, fotografi, dan musik), dan Atid menganggap kesenian yang selama ini digelutinya memiliki kecenderungan sepi, barangkali yang dimaksudkan Atid, film lebih kompleks menggabungkan berbagai bidang kesenian baik visual (rupa) maupun audio (musik dan sastra) film juga merupakan media yang populer dan mudah dijangkau publik.

Film pertamanya yang bejudul Cin(T)a menyoal tentang hubungan 2 muda-mudi berbeda etnis dan agama, membawanya menjadi pemenang piala Citra untuk penulisan skenario dan ini memberinya tiket masuk sebagai filmmaker di Indonesia. Film ketiganya yang berjudul “Demi Ucok” merupakan film yang penting bagi perjalanan kariernya, bagaimana dia harus mencari pendanaan sendiri untuk filmnya dengan cara melakukan crowdfunding, membuatnya bertemu banyak orang dan sering menerima penolakan. Film ini tidak saja menarik dari segi tata kelola pendanaan dan produksinya tapi juga menarik sebagai konten cerita. Cerita yang dibangun sebetulnya kurang lebih hampir sama dengan apa yang dialami Atid sendiri ketika membuat film ini, dan bagaimana hubungan anak dan ibu dalam cerita ini amat sangat realis dibuatnya tak tampak mendayu tapi menyentuh, tampak satire dan humoris. Ada petikan yang menarik ketika sebuah peribahasa klasik disoal di film ini “kasih Ibu kepada beta, hanya memberi tak harap kembali” dan Atid kemudian menambahi teks ini dengan tapi...”terms and conditions apply” satire yg menggelitik karena ibu dalam film ini rela mati dan memberikan uang asuransi jiwanya atau apapun demi terpenuhi mimpi anaknya untuk membuat film dengan syarat anak gadisnya mau kawin dan dengan orang Batak. Tentu saja ini bukan menyoal film anak durhaka layaknya malin kundang, karena si anak tersadarkan bahwa peribahasa itu benar adanya, dan bagaimana kemudian anak ini berusaha membahagiakan ibunya dengan membuat film yang dibintangi ibunya sendiri (mewujudkan mimpi ibunya menjadi artis film) saya rasa film ini amat sangat personal mengingat tokoh ibu dalam film ini betul-betul dibintangi ibu Atid sendiri dan background budaya Batak yang diangkat. Bagi perempuan Batak kehebatan itu ditentukan oleh seberapa hebat anak yang dilahirkannya, agaknya filosofi ini yang mendasari timbulnya friksi hubungan ibu dan anak di film ini.

Atid boleh berbangga karena jerih payahnya menghasilkan buah yang manis, dengan terpilihnya sebagai Film Indonesia Terbaik versi majalah Tempo, dan ibunya sendiri meraih piala citra dan menjadi artis sesuai mimpi beliau. Film ini mengajarkan kepada kita makna berbagi...sekian ribu orang berbagi mendanai film ini, dan bagaimana Atid berbagi dengan orang-orang baru untuk dipercaya terlibat dalam pembuatan film ini, dan kasih sayangnya pada sosok Ibu.

 

ATINNA NURAENI

“ MY SECREET DIARY”

Atina seorang gadis muda yang memiliki banyak mimpi dan mewujudkan seluruh mimpi-mimpinya lewat kegemarannya mencipta kreasi karya instalasi (Recycle Experience) dan Fashion Accessories (Mannequin Plastic). Atinna memang tidak sendirian ia menemukan partner dengan kesukaan yang sama dalam setiap eksperimen penciptaannya.

Mannequin Plastic didirikan bersama Evan saat mereka masih duduk di bangku perkuliahan (Senirupa UPI Bandung) di tahun 2008.

Selain karena memiliki banyak ketertarikan yang sama terhadap art, pop culture, fashion dan toys art movement, juga karena keinginan mereka untuk belajar mandiri dan meringankan beban orangtua.

Ketertarikan akan hal-hal seperti “kebahagiaan, keajaiban, khayalan, mimpi, dongeng, taman bermain, dan berbagai deformasi objek” melahirkan banyak ide/gagasan untuk mengangkat berbagai kisah dalam kehidupan sehari-hari ke dalam karya seni dan desainnya.

Menjalankan sebuah usaha tentu saja butuh keseriusan dan dana yang tidak sedikit, apalagi usaha yang dilakukannya adalah usaha yang mengacu pada seni, bagaimana menekan keegoisan sebagai seniman untuk kepentingan pasar, bagaimana membuat sebuah karya cipta yang bisa diterima masyarakat tanpa mengabaikan rasa seni yang tetap terjaga. Usaha yang dilakukan tidak serta merta besar, diawali dengan menyisihkan uang saku yang dimiliki, dan secara bertahap mengumpulkan sedikit demi sedikit bahan baku, dan berikutnya merangkainya menjadi sebuah produk.

Keinginan kuat untuk menciptakan sesuatu, mengasah kemampuan berimajinasi, berfikir, berinisiatif dan peka terhadap perkembangan gaya hidup hingga pembelajaran bisnis membuat usaha ini berkembang dengan pesat hingga di akhir tahun 2010 Mannequin Plastic, akhirnya dapat memiliki mini studio & office-nya sendiri. Hal ini sangat membantunya untuk terus mengembangkan kreatifitasnya dalam penciptaan karya-karya di bidang desain produk, yang memiliki alur yang jelas keceriaan yang terinspirasi dari kegiatan ber