Berita : Adi Kaniko, Rest in Peace Setelah Rest Area

“Ketika manusia mengalami apa yang sering disebut ‘SKIZOFRANA KULTURAL’ seketika orang sudah kehilangan diri sendiri. Ia menjadi no one, satu makhluk/entitas yang hanya sekedar bagian atau unit dari sebuah gerombolan (crowd) yang bersembunyi dalam kerumunan massa,” —Adi Kaniko—

 

 

Baru saja bergabung dalam Pameran REST AREA di Galeri Nasional Indonesia yang berakhir 27 Maret 2017, tersiar kabar REST IN PEACE, Adi Kaniko. Pria kelahiran Surabaya, 22 Maret 1966 yang hijrah ke Jakarta ini menghadap Sang Pencipta pada Kamis sore, 6 April 2017, dalam usia 51 tahun.

 

Adi Kaniko yang merupakan lulusan IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Seni Rupa Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya / UNESA) merupakan perupa yang aktif berkesenian selama hidupnya. Pengalaman pamerannya tercatat dimulai sejak 1986 dengan mengikuti Pameran LUSTRUM IV IKIP Surabaya. Setelah itu, ia bergabung dalam berbagai pameran bersama, seperti Pameran Bersama di Dewan Kesenian Surabaya (1987), Pameran Pilihan Jawa Timur Surabaya (2003), Biennale Jogja VIII: Di Sini & Kini (2005), Pameran Seni Rupa Kelompok Sakawarna “Provokasi Urban” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2013), dan berbagai pameran lainnya.

 

Khusus pameran di Galeri Nasional Indonesia, Adi Kaniko sempat bergabung dalam beberapa kali kesempatan. Seperti Pameran Kompetisi Philip Morris Indonesia Art Awards ke-7 (2000) dan ke-8 (2001), CP Open Biennale 2003: Interpellation (2003), Pameran Seni Rupa “Ruang Jakarta” (2014), dan terakhir Pameran Seni Rupa Nusantara 2017 “REST AREA – Perupa Membaca Indonesia” (2017) yang diselenggarakan satu bulan menjelang sepeninggal Adi. Selain pameran bersama, ia juga sempat mengelar Pameran Tunggal pertamanya bertajuk “Anonymous” di Museum Cemara 6 Galeri, Jakarta (2015).

 

Dalam berbagai pamerannya, Adi kerap menyajikan ungkapan bahasa visual tentang filosofi kehidupan, kritik sosial, juga isu politik melalui obyek lukisan badan manusia berkepala tidak biasa yang lebih menyerupai hewan. Itu bermula saat ia menyaksikan secara langsung peristiwa penjarahan yang terjadi pada tahun 1998 yang menandai runtuhnya era Orde Baru di Indonesia. Ia melihat orang-orang membakar dan menjarah seenaknya, liar seperti perilaku hewan. Meski zaman telah berubah, namun obyek lukis tersebut masih sering dimunculkan Adi hingga saat ini, dengan nuansa hitam putih. Menurutnya, hitam putih adalah alami, bisa bercerita, sehingga orang tertarik melihat karena gambar, bukan karena warna.

 

Seperti yang ia tampilkan dalam Pameran Seni Rupa Nusantara 2017 “REST AREA – Perupa Membaca Indonesia” di Galeri Nasional Indonesia, karyanya berjudul Anonymous Nomer 7 didominasi nuansa hitam–putih. Dengan media cat minyak pada kanvas, Adi menyajikan kumpulan wajah tak biasa sebagai penggambaran manusia-manusia yang tidak beridentitas (anonymous). “Ketika manusia mengalami apa yang sering disebut ‘SKIZOFRANA KULTURAL’ seketika orang sudah kehilangan diri sendiri. Ia menjadi no one, satu makhluk/entitas yang hanya sekedar bagian atau unit dari sebuah gerombolan (crowd) yang bersembunyi dalam kerumunan massa,” ungkapnya.

 

*dsy/bbs