Press Release : Workshop Menjadi Apresiator Seni Terhebat di Semarang

 

Galeri Nasional Indonesia —Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan— mengemban tugas untuk memberikan layanan edukasi di bidang seni rupa, yang bertujuan untuk memberikan peningkatan wawasan kreativitas serta mengembangkan apresiasi seni rupa kepada masyarakat luas. Layanan edukasi tersebut dikemas dalam program bimbingan dan edukasi, baik yang dihelat di lingkungan Galeri Nasional Indonesia maupun di berbagai kota di Indonesia yang sebelumnya telah dilakukan di Jakarta, Serang, Sukabumi, Purwokerto, Malang, Tasikmalaya, Cimahi, Solo, Bandung, dan Jambi.

Dimulai pada tahun 2015, program bimbingan dan edukasi menjadi spesifik dalam rangka merespon situasi dan kondisi para apresiator seni rupa di Indonesia melalui Workshop “Menjadi Apresiator Seni Terhebat”. Tahun 2018, program tersebut telah dilaksanakan pada Agustus 2018 di Ruang Serba Guna Galeri Nasional Indonesia. Kali ini program tersebut digelar kembali pada Selasa, 16 Oktober 2018 di Semarang, tepatnya di Resto Pringsewu Kota Lama, Jl. Sauri No. 10, Semarang. Kegiatan yang merupakan hasil kerja sama Galeri Nasional Indonesia dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang, Komunitas Pewarta Perupa Jawa Tengah KP2JT, dan Panitia Biennale Jateng #2 2018 ini menjadi rangkaian acara Biennale Jateng #2 2018 yang diselenggarakan pada 7­–21 Oktober 2018.

Workshop “Menjadi Apresiator Seni Terhebat” ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Pustanto (Kepala Galeri Nasional Indonesia); Dr. Djuli Djatiprambudi, M.Sn. (Kurator Pameran “The Future of History”, Biennale Jateng #2); dan Zamrud Setya Negara, S.Sn., M.I.Kom. (Motivator Nasional Edukasi dan Seni Rupa). Peserta yang akan mengikuti kegiatan ini sebagian besar merupakan para generasi muda. Mereka menjadi target potensial karena di masa depan para peserta tersebut akan menjadi leader sekaligus influencer dalam aktivitas berkesenian dan proses kreatif, sehingga mampu mempengaruhi individu, kelompok, dan komunitas yang diikuti maupun yang ada di sekitarnya.

Terkait generasi muda, data pengunjung Galeri Nasional Indonesia dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa para pengunjung Galeri Nasional Indonesia didominasi oleh generasi muda, terutama pelajar dan mahasiswa. Karena itulah workshop ini sebagian besar melibatkan para pelajar SMP/MTs, SMA/SMK/MA sederajat, dan Guru Seni­ Budaya dari beberapa sekolah di wilayah Semarang. Selain itu, juga melibatkan dan mengakomodir para seniman, serta masyarakat umum.

Kebanyakan para generasi muda tersebut mengikuti tren swafoto (selfie) dengan berfoto di depan karya seni rupa untuk diunggah di media sosial. Ditambah lagi dengan popularitas Galeri Nasional Indonesia yang semakin meningkat sebagai destinasi wisata visual bagi anak-anak muda, hal tersebut terkadang menimbulkan respon berlebihan pada saat mengapresiasi karya seni rupa seperti menyentuh atau memegang karya seni rupa. Tindakan tersebut tidak dibenarkan, karena mengarah pada pengrusakan karya seni rupa, termasuk karya koleksi negara. Karya seni yang menjadi koleksi negara harus tetap dilestarikan, dipelihara, dan dijaga keamanannya agar tetap dapat dinikmati dan diwariskan kepada generasi muda sebagai penoreh sejarah penting perkembangan seni rupa yang menandai identitas bangsa.

Menyikapi fenomena tersebut, Galeri Nasional Indonesia berinisiatif melaksanakan kegiatan untuk mencetak apresiator seni yang hebat (memiliki etika dan kualitas baik dalam mengapresiasi karya seni rupa). Cara yang dilakukan yaitu dengan mengajak peserta untuk terlibat langsung dalam memahami aturan, apa yang baik dan kurang baik, serta sikap dan perilaku positif dalam mengapresiasi karya seni rupa. Peserta akan dilibatkan secara langsung dalam mengapresiasi karya dalam Pameran Biennale Jateng #2 “The Future of History”. Aktivitas para peserta di dalam ruang pamer tersebut akan direkam secara tersembunyi dan diputar ulang di hadapan para peserta untuk ditunjukkan sikap/perilaku mana saja yang baik dan kurang baik dalam mengapresiasi karya seni. Galeri Nasional Indonesia sengaja menjadikan peserta sendiri sebagai contoh agar mereka lebih mudah menginternalisasikan etika, sikap, dan perilaku yang baik dalam mengapresiasi karya seni rupa.

Tak hanya itu, program bimbingan dan edukasi ini juga bertujuan untuk menciptakan kader inisiator yang akan menularkan etika, sikap, dan perilaku yang baik dalam mengapresiasi karya seni rupa kepada lingkungan terdekatnya atau bahkan orang baru di sekitarnya. Hal ini merupakan wujud upaya Galeri Nasional Indonesia untuk mengajak masyarakat terlibat secara aktif ikut serta melestarikan karya seni rupa dengan cara sederhana.

Dengan diselenggarakannya Program Bimbingan dan Edukasi “Menjadi Apresiator Seni Terhebat” ini, diharapkan para peserta menyadari dampak negatif dari sikap dan perilaku yang tidak dibenarkan dalam mengapresiasi karya seni. Lebih dari itu, peserta diharapkan menjadi agen perubahan untuk diri sendiri dan lingkungan sekitarnya sehingga mampu mengapresiasi karya seni sebagai titik awal pembentukan karakter unggul generasi bangsa. Semoga acara ini mampu menciptakan para apresiator seni terhebat!

 

Semarang,  Oktober 2018