Berita : Dorong Kreativitas & Apresiasi Seni Rupa, Galnas Gelar Sosialisasi di Kaltara

Dorong Kreativitas & Apresiasi Seni Rupa, Galnas Gelar Sosialisasi di Kaltara

Setelah dihelat di berbagai kota di Indonesia, kini giliran Kalimantan Utara (Kaltara) disambangi Program Sosialisasi Eksistensi Galeri Nasional Indonesia. Sebelumnya, program serupa telah dilaksanakan di Bangka (Bangka Belitung), Bengkulu, Palembang, Semarang, Bali, Kupang, Palangkaraya, Palu, Kendari, Ternate (Maluku Utara), Manado, Madura, Aceh, Mamuju (Sulawesi Barat), Lampung, Bontang (Kalimantan Timur), Kendari (Sulawesi Tenggara), dan Gorontalo. Kali ini pada 16 Maret 2017, Program Sosialisasi dilaksanakan di Gedung Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kabupaten Bulungan, Kaltara, dengan mengetengahkan tema “Mengenal Lebih Dekat Galeri Nasional Indonesia: Menumbuhkan Kreativitas & Apresiasi Seni Rupa”.

Sosialisasi hasil kerja sama Galeri Nasional Indonesia dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara beserta SMPN 4 Tanjung Palas Tengah, Bulungan, Kalimantan Utara ini menghadirkan narasumber yaitu Tubagus ‘Andre’ Sukmana (Kepala Galeri Nasional Indonesia), Citra Smara Dewi (Kurator Galeri Nasional Indonesia), dan Atung Luhat (Tokoh Seni Budaya Kalimantan Utara / Sekretaris Lembaga Adat Dayak – Kalimantan Utara). Ketiganya mengetengahkan bahasan sesuai kompetensi masing-masing.

Tubagus memaparkan tentang pemantapan apresiasi seni. Menurutnya apresiasi dalam kaitannya dengan kesenian berarti kegiatan mengartikan dan menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni serta menjadi sensitif terhadap gejala estetis dan artistik sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut secara semestinya. “Dalam apresiasi, seorang apresiator sebenarnya sedang mencari pengalaman estetis, yang melibatkan unsur empati, subyektif, sekaligus obyektif,” jelas Tubagus. “Dengan aktivitas apresiasi seni, kita dapat melihat perhubungan antara kerja sendiri dengan kerja orang lain, sehingga dapat membentuk keyakinan dan pemahaman serta penghargaan terhadap bidang seni,”lanjutnya.

Sedangkan Citra lebih banyak membahas tentang profil Galeri Nasional Indonesia, mulai dari sejarah Galeri Nasional pada masa kolonial Belanda, pascakemerdekaan, hingga saat ini. Dipaparkan pula struktur serta kegiatan Galeri Nasional Indonesia. “Galeri Nasional Indonesia memiliki kegiatan terkait pengelolaan koleksi seni rupa; pameran seni rupa baik berskala lokal, nasional, maupun internasional, serta pengadian masyarakat yang salah satunya diwujudkan dalam Program Sosialisasi seperti yang digelar di Kaltara ini,”jelas Citra. Kemudian Citra menayangkan dokumentasi Program-program Sosialisasi dan perjalanan beberapa pameran yang telah dilaksanakan Galeri Nasional Indonesia.

Berbeda dengan Tubagus dan Citra, Atung Luhat lebih fokus membahas karya seni rupa yang dimiliki masyarakat Kaltara. Atung mengungkap, potensi seni–budaya di Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Kaltara adalah ukiran hasil karya berbagai etnis/suku asli Kaltara. “Ukiran ini merupakan warisan nenek moyang, seperti motif Suku Kayan–Kenyah, Suku Tidung–Bulungan, Suku Putuk–Lundayeh, dan Suku Tegalan–Murut”, paparnya. Namun motif-motif tersebut terancam punah akibat generasi saat ini kurang begitu tertarik. Atung Luhat berharap ada suatu kegiatan sosialisasi seperti ini dan pelatihan keterampilan yang dilaksanakan secara kontinyu untuk mengembangkan potensi daerh khususnya seni rupa.

*dsy/GNI