Press Release : Pameran Tunggal Seni Lukis #10 Karya Ar. Soedarto “GONJING MIRING”

Gonjing Miring dipinjam dari kata yang dipakai sebagai judul sebuah gending Jawa, khususnya pada genre gending Tayuban, yang tepatnya adalah “Kijing Miring” (Nisan yang miring).  Namun dalam hal ini kata kijing diganti dengan kata gonjing yang tentu berbeda arti. 

Diungkap kurator pameran Drs. Puguh Tjahjono Sadari Warudju, M.Sn., Gonjing Miring merupakan sebuah kata majemuk yang masing-masing saling meneguhkan pemaknaan kesatuannya. Gonjing dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai konstruksi yang instabil atau terlepas dari stabilitasnya atau juga inharmoni. Sedangkan miring adalah konstruksi gerak diagonal dalam bahasa visual bisa diartikan sebagai fenomena instabilitas, gejala tidak stabil bahkan keruntuhan. Maka kata Gonjing Miring diartikan untuk mewakili suatu kondisi anomali, gejala-gejala penyimpangan, deskonstrukstif atau bahkan chaos.   

Seni Tayub (Tayuban) adalah seni tari tradisional yang berkembang sebagai bentuk ‘perlawanan’ (ekspresi kritik) terhadap hegemoni nilai dari sentral (keraton). Diasumsikan sebagai sebuah dekonstruksi tari-tari tradisional produk keraton (pusat nilai). Tayub berkembang di masyarakat pesisiran. Kerap kali dalam bentuk koreografinya mengandung unsur sinikal dan karikatural, demikian juga pada ritme gendingnya yang menggiring pada gerak-gerak tubuh yang jenaka. Tak luput juga pada syair-syair yang dilagukan dalam gending. Gending Kijing Miring juga menggambarkan pesan tentang situasi mental yang galau, terbentur pada absurdnya sistem pemahaman personal, seakan kesadaran akan batas hiduppun menjadi tidak tegak lagi (diabaikan).  

Ar. Soedarto sebagai seniman tunggal pameran ini, menangkap istilah Gonjing Miring secara unik. Di usianya yang sudah di atas 60–an, ketajaman intuisi Ar. Soedarto selaku seniman yang hidup dalam perputaran nilai-nilai yang berkelindan dengan ritme dinamik, bahkan melintasi paling tidak tiga periode penandaan jaman, sangatlah wajar bila kian matang dalam menjaring dan menandai lebih subtil terhadap segala pergerakan nilai tersebut.  Merebaknya era komunikasi digital sangat mencuatkan taferil sosial menjadi semakin bertekstur secara massif, perubahan atau friksi sosial bergerak secara dinamik, terbuka dan problematik. Ada hal yang positif tetapi juga tak kalah pentingnya untuk mewaspadai ekses negatifnya. Persaingan personal di berbagai lini kehidupan, bergeraknya nilai-nilai komoditi konsumtif, mendorong pendulum hidup sosial cenderung ke arah sekulerisasi. Sementara pada akses religiusitas mengalami adistorsi dan konflik secara fragmentarian. Perang pengaruh dan juga kelindannya eksotika politik dalam perebutan peran publik menjadi hingar bingar seakan tidak tersisa ruang  jeda untuk sekedar kontemplasi dan mengembalikan hakikat realitas sosial yang selaras dan harmoni, seimbang dalam komposisi yang proporsional. Situasi semacam itulah yang tertangkap Ar.Soedarto dalam ungkapan Gonjing Miring.

Untuk menyaksikan dan merasakan Gonjing Miring yang dimaksud, Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Ar. Soedarto Studio menyajikan sekitar 25 lukisan karya Ar. Soedarto dalam sebuah Pameran Lukisan Tunggal #10 Ar. Soedarto bertajuk “Gonjing Miring”. Perhelatan ini rencananya akan dibuka secara resmi oleh President & General Manager TOTAL E&P INDONESIE Bapak Arividya Noviyanto pada Jum’at, 3 Februari 2017, pukul 19.30 WIB, di Ruang Serba Guna Galeri Nasional Indonesia. Pameran “Gonjing Miring” dapat diakses publik mulai 4 – 16 Februari 2017, pukul 10.00 – 18.00 WIB, di Gedung B Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat. Pameran ini dilengkapi dengan program publik berupa Gallery Tour untuk publik yang akan dilaksanakan pada 5 Februari 2017, pukul 11.00 WIB, di Gedung B Galeri Nasional Indonesia.

 

Download Katalog Pameran Gonjing Miring di sini

--------------------------------

 

Biografi Ar. Soedarto

 

Ar. Soedarto lahir di kota Kudus, Jawa Tengah, juga bertumbuh di pusat kota urban Jakarta hampir melewati separuh perjalanan usianya sekarang, barangkali salah satu penyebab ia tidak berpenampilan atau mengekspresikan diri dengan cara kekiyai-kiyaian atau kesantri-santrian sebagai jejak kulturalnya secara eksplisit. Melainkan hanya bersahaja sebagai masyarakat urban yang memiliki ikatan kuat dengan akar ke-Jawa-annya. Namun demikian akar ke-Jawa-an yang bertautan kental dengan ekspresi ke-Islam-an yang dikemas secara sophisticated dalam konstruksi semiotika ala para Wali Sembilan itu, bagi Ar. Soedarto adalah warisan budaya luhur yang harus tetap diagungkan dan direaktualisasikan ke dalam perikehidupan yang bergerak progresif, kekinian dan fenomenal ini. Abtraksi tentang pemikiran Ilahiah, segala gagasan dan perilaku moralistik yang ditransfer sejak kanak-kanak hingga dewasa melalui perspektif lokal tradisional turun-temurun sejak para Wali, baik itu folklore yang bermuatan ajaran suluk, sepotong kalimat dari nukilan-nukilan literasi kuno maupun lintasan paham tentang relasi mikro kosmos dan makro kosmos adalah kepustakaan penuntun segala pikiran maupun tindakan, termasuk pula saat berkarya seni.

Ar. Soedarto memang berbakat dalam mengeksplorasi seni lukis. Tamat Sekolah Teknik Menengah berlanjut kuliah di Akademi Seni Rupa Nasional di Jakarta, Jurusan Seni Lukis dan lulus pada 1976 justru mengantarkannya meraih penghargaan Karya Lukis Terbaik Festival Seni Mahasiswa DKI, Jakarta (1976). Ia juga sempat kuliah Desain Interior dan Grafika, terakhir menyelesaikan Sarjana Hukum di Universitas Bung Karno pada tahun 2012. Yang tak kalah mengejutkan, Ar. Soedarto justru memilih untuk mengabdikan diri pada perusahaan besar migas – TOTAL E&P INDONESIE di bidang komunikasi selama 25 tahun.

Meski demikian, profesinya tak menyurutkan semangat Ar. Soedarto untuk tetap berkarya. Kiprahnya di dunia seni lukis ditandai dengan keikutsertaan Ar. Soedarto dalam berbagai pameran, baik bersama maupun tunggal di berbagai kota di Indonesia, sejak tahun 1973 dan masih aktif berpameran hingga sekarang. Tahun 2017 Pameran “Gonjing Miring” menjadi pameran tunggal yang ke–10 bagi Ar. Soedarto, sekaligus merupakan pameran ketiganya di Galeri Nasional Indonesia, setelah sebelumnya pernah tergabung dalam pameran bersama bertajuk "Abstract Soulscape" (2011) dan “Soulscape in Progress #2” pada 2015 di tempat yang sama.